Selat Hormuz Jadi Titik Rawan
Lebih jauh, salah satu wilayah yang dianggap sangat strategis dalam konflik ini adalah Selat Hormuz, jalur pelayaran utama yang dilalui sebagian besar pengiriman minyak dunia.
Hikmahanto menilai kawasan tersebut berpotensi menjadi titik yang mempercepat eskalasi konflik global.
Sekarang ini perang sudah menunjukkan ke tanda-tanda eskalasi global. Selat Hormuz bisa menjadi titik yang mempercepat eskalasi konflik global,”
ungkapnya.
Ia menjelaskan, bahwa kepentingan utama Amerika Serikat saat ini adalah memastikan jalur tersebut tetap terbuka agar harga minyak dunia tidak melonjak drastis.
Sekarang ini Amerika Serikat ingin memastikan bahwa Selat Hormuz tidak diblok sehingga tidak menaikkan harga minyak. Ujung-ujungnya faktor energi ini bisa mempengaruhi kemungkinan meluasnya konflik,”
kata Hikmahanto.
Dampak Ekonomi Global dan Indonesia
Apabila konflik terus meluas, dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga ekonomi global. Gangguan terhadap perdagangan dan distribusi energi dapat memicu efek domino terhadap berbagai sektor.
Kalau meningkat ya jelas itu berkaitan dengan energi dan perdagangan energi karena harga minyak sekarang udah melonjak. Perdagangan karena disrupsi terhadap kapal-kapal tanker yang mengangkut barang ke berbagai negara,”
tegas Hikmahanto.
Dampak tersebut juga berpotensi dirasakan oleh Indonesia, dengan adanya pelambatan perekonomian dunia berakibat pada pelambatan perekonomian nasional, kemudian juga harga minyak mahal, disrupsi terhadap kapal-kapal yang mengangkut barang, sehingga biaya impor akan lebih juga mahal dan ini akan memicu inflasi di dalam negeri,”
ujarnya.
Dalam situasi seperti ini, Hikmahanto menilai langkah diplomatik menjadi penting untuk mencegah konflik berkembang lebih jauh.
Kan kemarin Bapak Presiden sudah mengatakan bersedia untuk jadi mediator. Jadi mungkin itu yang mau diambil sebagai posisi.”
Pandangan tentang potensi Perang Dunia ke-III juga disoroti oleh peneliti dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Waffaa Kharisma.
Berbeda dengan kekhawatiran sebagian pihak tentang kemungkinan perang dunia, Waffaa menilai skenario tersebut masih relatif jauh.
Menurutnya, indikator utama yang menentukan apakah konflik dapat berubah menjadi perang global adalah keterlibatan langsung kekuatan besar dunia.
(Kemungkinan Perang Dunia ke-III) masih jauh daripada kemungkinan tersebut. Indikator (yang) penilai potensinya konflik global adalah bagi saya keterlibatan great power yang bertelahi satu sama lain, dalam konteks ini, China dan Rusia. (Mereka) tidak mengindikasikan akan bergabung dalam konflik, walaupun keduanya menjadi oposisi secara politik dan menentang, tapi mereka belum menunjukkan adanya gerak-gerik militer,”
kata Waffaa pada Owrite.
Selain faktor keterlibatan negara besar, ia menilai skala konflik juga dipengaruhi oleh ambisi politik dari pihak-pihak yang terlibat langsung. Hingga saat ini, menurutnya tujuan militer masing-masing pihak masih relatif terbatas.
Ambisi dari pihak-pihak yang bertikai masih terbatas. Saya tidak tahu Israel ya,
ujarnya.
Israel saya kira cukup sulit untuk dibaca. Untuk Amerika Serikat kan tujuannya adalah mempreteli kapasitas militer dari Iran, sementara Iran tentunya tujuan besarnya adalah melakukan pembalasan, melakukan penangkalan supaya hal serupa tidak terjadi lagi ke depannya,”
Waffaa menjelaskan, bahwa pola serangan yang terjadi sejauh ini juga menunjukkan konflik masih berada pada level terbatas. Iran lebih banyak menargetkan basis militer Amerika Serikat di kawasan, sementara Washington mengandalkan serangan udara terhadap fasilitas militer Iran.
Sejauh ini sih hanya berupa serangan kepada basis-basis militer Amerika Serikat di kawasan, sementara untuk Amerika Serikat sendiri masih terbatas pada serangan udara, bombing, terutama untuk kapasitas produksi, kapasitas peluncuran misil, drone, navy,”
ujar Waffaa.
Meski demikian, ia menekankan bahwa dampak konflik tetap bersifat global, terutama melalui sektor energi. Jalur distribusi minyak dan gas yang melewati Selat Hormuz membuat setiap eskalasi militer langsung mempengaruhi pasar energi dunia.
Dampaknya (bisa) karena minyak ya, karena Selat Hormuz (diancam ditutup) dan juga LNG, gas, dan lain-lain yang pastinya akan menjalar lewat inflasi, lewat naiknya harga, lewat mahalnya harga komoditas-komoditas penting,”
beber Waffaa.
Ia juga menilai, keterlibatan langsung negara-negara besar seperti Rusia dan China masih kecil kemungkinannya dalam waktu dekat. Sebaliknya, perhatian justru tertuju pada sikap negara-negara Timur Tengah yang wilayahnya terdampak langsung oleh konflik.
Saya pikir masih jauh. Negara-negara Timur Tengah yang lain itu yang sekarang masih jadi pertanyaan ya, karena memang banyak yang marah. Partisipasi mereka tergantung dari upaya Iran juga sekarang, mereka sedang berusaha memadamkan situasi, menenangkan situasi dengan negara-negara Teluk,”
bebernya.
Menurut Waffaa, kondisi dunia yang semakin saling bergantung secara ekonomi juga membuat negara-negara besar cenderung menghindari perang terbuka berskala besar.
Sekarang dunia semakin interdependen, semakin banyak yang bisa rugi ketika berperang. Jadi sulit membayangkan ada perang besar-besaran antara blok militer. Yang mungkin terjadi lebih ke konflik terbatas atau proxy war,”
ujarnya.
Selain dampak ekonomi, konflik ini juga dinilai menjadi ujian bagi posisi diplomasi Indonesia di tengah rivalitas kekuatan besar dunia. Waffaa mengatakan dunia saat ini semakin tidak pasti, terutama ketika kekuatan besar memiliki kemampuan militer yang jauh lebih dominan.
Implikasi untuk Indonesia banyak wajahnya. Salah satunya adalah seperti erosi normal, kita berada di dunia yang sangat tidak pasti yang kalau postur negara Anda agresif, kalau pernyataan pemimpin-pemimpin negara Anda tidak friendly kepada great power, kepada superpower Amerika Serikat dan Anda punya rekam jejak yang tidak baik, ya kedaulatan Anda gak ada harganya karena ya superpower-nya punya kemampuan hebat untuk melakukan decapitation strike,”
jelasnya.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan adanya erosi terhadap norma hukum internasional yang selama ini diatur dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Di sisi lain, konflik ini juga menjadi ujian bagi implementasi politik luar negeri Indonesia yang dikenal dengan prinsip bebas aktif (non block). Waffaa menilai situasi global yang semakin terpolarisasi membuat ruang gerak diplomasi negara-negara menengah semakin sempit.
Untuk bebas aktif harus seperti apa ya, saya pikir ini tes bagi Indonesia apakah kita masih bebas aktif, apakah dunia saat ini membatasi ruang gerak kita sehingga kita tidak bisa protes kepada agresor, tidak bisa mengkritik agresor dan juga tidak bisa mengkritik misalnya ketika Iran eskalasinya terlalu cepat dan terlalu berlebihan,”
ujar dia.
Ia menambahkan bahwa posisi Indonesia menjadi dilematis ketika harus menyikapi konflik yang melibatkan banyak aktor besar.
Dan akan sangat sulit sekali untuk mengkritik satu tapi tidak mengkritik yang lain, itu dilemanya ya, tes dari bebas aktif kita apakah kita hanya akan diam saja, akan jadi penonton atau apakah kita berani lewat koalisi negara-negara yang sepemikiran. Misalnya negara-negara kawasan menyorakan untuk tidak ada lagi agresi-agresi militer sepihak,”
tutur Waffaa.
Selain itu, dampak konflik juga dapat dirasakan langsung oleh masyarakat melalui kenaikan harga energi dan biaya transportasi.
Kerugiannya sangat besar untuk banyak pihak, termasuk kita dan termasuk pada kehidupan sehari-hari kita. Ini mungkin harga minyak, harga bensin akan naik, cuma gara-gara Trump dan Netanyahu punya firasat harga transportasi akan naik juga mungkin,”
ujar dia.
Ketegangan antara Amerika Serikat – Israel terhadap Iran menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas keamanan global saat ini.
Meski sejumlah pakar menilai konflik masih berada pada tahap konfrontasi terbatas, potensi eskalasi tetap terbuka selama jalur diplomasi belum mampu meredakan ketegangan.
Ancaman penutupan Selat Hormuz, keterlibatan kelompok bersenjata di kawasan, hingga kemungkinan dukungan dari negara-negara besar menjadi faktor yang terus diawasi oleh komunitas internasional.
Dalam konteks ini, perang tidak lagi hanya dipahami sebagai benturan militer antar-negara, melainkan juga sebagai pertarungan kepentingan energi, ekonomi, dan pengaruh geopolitik global.
Setiap perkembangan di medan konflik dapat dengan cepat merambat ke sektor lain, mulai dari pasar energi hingga stabilitas ekonomi dunia.
Bagi banyak negara, termasuk Indonesia, situasi ini menjadi pengingat bahwa dinamika geopolitik global memiliki dampak langsung terhadap kehidupan domestik.
Karena itu, upaya diplomasi dan deeskalasi menjadi semakin krusial agar konflik tidak berkembang menjadi krisis yang jauh lebih luas dan sulit dikendalikan.


