Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjok Ace menargetkan okupansi hotel selama liburan Lebaran mencapai 65 hingga 70 persen.
Menurutnya, okupansi tersebut kombinasi antara wisatawan domestik dan mancanegara.
Biasanya meningkat antara 15 persen sampai 20 persen untuk libur Lebaran. Ekspektasi kami bisa antara 65 sampai 70 persen,”
ujar Tjok Ace kepada owrite baru-baru ini.
Tjok Ace mengaku dengan kondisi konflik Amerika Serikat-Israel vs Iran, kunjungan wisatawan ke Bali sangat berpengaruh, tak hanya wisatawan mancanegara, tapi juga domestik.
Sekarang peningkatannya agak kecil sekali, antara 5 persen sampai 10 persen. Kenyataan anggota kami di lapangan masih di bawah 60 persen. Dari okupansi tersebut tentu harapan kami dua, meningkatkan kedatangan atau mengurangi nilai pembagi,”
jelasnya
Lebih lanjut, Tjok berharap agar pemerintah untuk mengurangi nilai bagi, artinya, pembangunan akumulasi di Bali, apapun bentuknya, baik itu hotel bintang, non bintang, villa, perlu dikendalikan ke depan.
Karena peningkatan kunjungan wisatawan dan peningkatan kamar di Bali, tidak signifikan dan tidak linier sama Pendapatan Pajak Daerah. Ini yang perlu dipahami bersama.
Walaupun meningkat, kamar makin banyak, tapi makin meningkat. Tidak serta-merta membuat PAD itu meningkat. Kalau punya hotel 10 per kamarnya 5 juta, kalau punya kamar 20 per kamarnya 1 juta, lebih bagus yang kecil dan penetrasinya lebih tinggi. Jadi itu yang terjadi sekarang di Bali,”
tandasnya.

