Pemerintah berencana akan menerapkan kebijakan penghematan energi nasional, menyusul kenaikan harga minyak dunia akibat perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, selain usulan penghematan energi nasional pemerintah, dalam rapat koordinasi membahas pengaturan kebijakan bekerja dari rumah Work From Home (WFH) hingga penguatan kebijakan B50.
Dalam rapat ini dibahas berbagai langkah strategis, mulai dari pengaturan work from home secara adaptif efisiensi anggaran yang lebih tepat sasaran, penguatan kebijakan B50, hingga usulan penghematan energi nasional,”
ujar Airlangga melalui akun Instagramnya @airlanggahartarto_official dikutip Minggu, 29 Maret 2026.
Airlangga menyatakan, seluruh strategi itu dikaji secara komprehensif dengan mempertimbangkan perkembangan konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian global yang akan memberikan dampak ke ekonomi nasional.
Seluruhnya dikaji secara komprehensif dengan mempertimbangkan perkembangan konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian global yang berdampak pada stabilitas energi, rantai pasok, serta perekonomian nasional,”
tuturnya.
Airlangga memastikan, setiap kebijakan berialan secara terukur dan responsif, guna menjaga stabilitas hingga memperkuat ketahanan nasional.
Pemerintah berkomitmen memastikan setiap kebijakan berjalan secara terukur dan responsif, guna menjaga stabilitas, memperkuat ketahanan nasional, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,”
imbuhnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meminta agar masyarakat bijak dalam menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM).
Tapi lebih pada kita bagaimana melakukan pemakaian BBM dengan rasa bijaksana. Kita harus bijak dalam memakai BBM,”
ujar Bahlil di Kantor Kemenko Perekonomian.
Bahlil juga meminta, agar masyarakat bisa bijaksana dalam menggunakan LPG. Sebab katanya, Indonesia sebesar 70 persen masih melakukan impor untuk LPG.
Saya menyarankan kepada masyarakat untuk kita bijaksana dalam memakai LPG. Kita tahu bahwa LPG kita 70 persen kita impor, tetapi sampai dengan hari ini kondisinya clear,”
katanya.



