Pakar Komunikasi Digital Universitas Indonesia (UI) Firman Kurniawan mengatakan kelompok yang rentan mengalami love scamming adalah orang-orang yang kesepian. Ketika menemukan orang yang bisa diajak ngobrol dan cocok, biasanya mereka akan bergantung.
Selain itu, orang yang paling rentan juga mereka yang memiliki persoalan emosional, misalnya putus dengan pacar atau perceraian.
Ketika mendapat saran-saran atau ada action menunjukkan perhatian, dia itu bisa lemah. Nah, ini berbahaya,”
ujar Firman.
Ia juga menilai, modus-modus love scamming di media sosial sudah sangat canggih. Hal itu juga didukung dengan adanya Artificial Intelligence (AI).
Apalagi kalau dia (pelaku) mempelajari korbannya dari media sosial, seperti kesenangannya apa, pola-pola postingnya seperti apa, dia masuk dari situ. Itu akan membuat (korban) terpesona karena merasa ada yang memperhatikannya,”
ujar Firman kepada Owrite.id.
Hindari Oversharing di Medsos
Lebih lanjut, Firman mengatakan para pelaku love scamming ini akan mudah memantau korbannya melalui media sosial. Untuk itu, ia mengimbau kepada masyarakat untuk tidak oversharing atau berbagi kehidupan berlebihan di media sosial.
Jangan terlalu memposting yang privat, pertengkaran di keluarga, hobi yang mendalam, atau rasa tidak suka yang mendalam terhadap sesuatu. Ketika terbaca, ini bisa dimanfaatkan para pelaku,”
kata Firman.
Kalau pun ingin unggah kegiatan di media sosial, sambung Firman, sebaiknya nyalakan mode privasi agar yang bisa melihat hanya orang terdekat saja.
Termasuk harus menseleksi siapa yang di-accept sebagai follower. Nah itu harus tahu persis, banyak loh yang meminta ikut menjadi follower kita dengan menampilkan wajah cantik, ternyata di belakangnya itu laki-laki atau bukan orang yang sebenarnya. Harus hati-hati, bahaya banget sekarang media digital,”
pungkasnya.



