Film Pesta Babi garapan Dandhy Laksono belakangan menjadi sorotan setelah penayangannya di sejumlah daerah disebut dibubarkan petugas.
Dandhy mengaku sekitar 50 agenda nonton bareng (nobar) film tersebut gagal digelar.
Dalam 35 tahun terakhir, sekitar 50 nobar Pesta Babi digagalkan,”
kata Dandhy dalam unggahannya di Instagram Story @dandhy_laksono.
Meski sempat dibubarkan, Dandhy menyebut antusiasme penonton justru semakin besar di sejumlah lokasi lain.
Sebagian besar yang digagalkan sukses bikin nobar di tempat lain, dengan lebih banyak penonton,”
tambahnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa ribuan layar lain masih akan menayangkan film tersebut di berbagai daerah.
Sementara 1.678 layar lainnya berhasil dibentangkan. Musim nobar berlanjut. Thanks semua,”
lanjutnya.
Pesta Babi merupakan film dokumenter investigatif yang menyoroti dugaan perampasan lahan dan konflik agraria di balik proyek-proyek besar di Indonesia.
Perjuangan Masyarakat Adat
Film ini mengangkat perjuangan masyarakat adat di selatan Papua yang menghadapi ekspansi proyek pangan dan energi pemerintah, seperti biodiesel sawit dan bioetanol tebu.
Cerita film berfokus pada dampak masuknya alat berat, perusahaan, dan aparat keamanan ke tanah adat yang memicu keresahan warga karena dianggap mengancam hutan, ruang hidup, serta budaya mereka.
Film ini juga menampilkan berbagai bentuk perlawanan masyarakat Papua, mulai dari pemasangan salib raksasa, palang adat, hingga Gerakan Salib Merah sebagai simbol penolakan terhadap proyek tersebut.
Lewat simbol tradisi pesta babi, film ini menggambarkan kuatnya hubungan masyarakat adat Papua dengan alam, kehormatan, dan identitas budaya mereka.




