Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Nasional

Kontroversi UU Polri Baru: Frasa ‘Kebutuhan’ Presiden Bisa Perpanjang Pensiun Kapolri

Edward, yang akrab disapa Eddy, mengatakan perbedaan usia pensiun tersebut sengaja dipertahankan untuk menjaga keseimbangan regenerasi di lingkungan kepolisian.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi (kiri) menerima laporan hasil pembahasan dari Ketua Komisi III DPR Habiburokhman (tengah) disaksikan Menteri Hukum Supratman Andi Agtas (kedua kiri), Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo (kedua kanan), dan Wakil Menteri Hukum Edward Omar Sharif Hiariej (kanan) pada Rapat Paripurna Ke-21 DPR RI Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi (kiri) menerima laporan hasil pembahasan dari Ketua Komisi III DPR Habiburokhman (tengah) disaksikan Menteri Hukum Supratman Andi Agtas (kedua kiri), Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo (kedua kanan), dan Wakil Menteri Hukum Edward Omar Sharif Hiariej (kanan) pada Rapat Paripurna Ke-21 DPR RI Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (9/6/2026). Doc: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/YU

DPR RI dan pemerintah sepakat mengesahkan revisi Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri menjadi Undang-Undang. Dengan UU Polri yang baru, ada perubahan besar terjadi dalam pucuk pimpinan korps Bhayangkara.

UU Polri yang baru itu memberikan ruang bagi Presiden untuk memperpanjang masa jabatan perwira tinggi bintang empat yakni Kapolri.

Aturan dalam UU Polri baru itu jadi sorotan dan menuai kritik luas. Sebab, untuk pertama kalinya, masa dinas seorang Kapolri tak lagi semata-mata ditentukan oleh batas usia pensiun. Namun, juga bisa diperpanjang berdasarkan keputusan Presiden dengan alasan kebutuhan organisasi.

Iklan

Kesepakatan tersebut tertuang dalam Pasal 30 ayat (5) huruf c RUU Polri yang disetujui DPR RI bersama pemerintah.

Wakil Menteri Hukum, Edward Omar Sharif Hiariej alias Prof Eddy menjelaskan, aturan baru itu mengatur batas usia pensiun Kapolri tetap 60 tahun. Namun, Presiden diberikan kewenangan untuk memperpanjang masa dinas tersebut.

Pasal 30 ayat (5) huruf c bunyinya menjadi ‘Khusus untuk perwira tinggi bintang empat, usia pensiun paling tinggi 60 tahun dan dapat diperpanjang satu tahun atau sesuai dengan kebutuhan yang ditetapkan berdasarkan keputusan presiden,”

kata Prof Eddy di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa, 9 Juni 2026.

Dengan rumusan tersebut, seorang Kapolri yang memasuki usia pensiun tidak otomatis harus meninggalkan jabatannya. Presiden kini memiliki ruang untuk mempertahankan pejabat tersebut selama dianggap masih dibutuhkan.

Sementara itu, aturan usia pensiun anggota Polri lainnya tetap dibedakan berdasarkan jenjang kepangkatan. Untuk tamtama dan bintara, batas usia pensiun ditetapkan 59 tahun.

Adapun untuk perwira pertama, perwira menengah, dan perwira tinggi memiliki batas usia pensiun 60 tahun.

Pilihan EditorRika Pangesti

DPR Ketok Palu UU Polri Baru, Ini Poin-poin Penting yang Berubah

Prof Eddy mengatakan perbedaan usia pensiun tersebut sengaja dipertahankan untuk menjaga keseimbangan regenerasi di lingkungan kepolisian.

Meski pemerintah menyebut aturan itu menyesuaikan kebutuhan, keputusan memberi kewenangan tambahan kepada Presiden bakal memicu perdebatan publik. Aturan baru itu sudah dikritik banyak pihak termasuk dari kalangan sipil.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar

  • Asisten Redaktur

    Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.