Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memfokuskan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi yang dinilai rawan terdampak El Nino.
Langkah tersebut dilakukan melalui operasi modifikasi cuaca untuk menjaga kelembapan lahan gambut agar tidak mudah terbakar.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan bahwa enam provinsi yang menjadi prioritas penanganan meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Selain itu, operasi modifikasi cuaca juga dilakukan secara situasional di Kepulauan Riau dan Aceh.
Untuk kebakaran hutan dan lahan, ada enam provinsi yang menjadi fokus kita semua. Di sana dilakukan secara berkala operasi modifikasi cuaca untuk menjenuhkan tanah gambut agar tidak mudah terbakar,”
kata Faisal di Istana Negara, Jakarta, dikutip pada Rabu, 29 Juli 2026.
Menurutnya, pelaksanaan operasi modifikasi cuaca dilakukan berdasarkan pemantauan kondisi muka air tanah di lahan gambut. Ketika permukaan air tanah mulai turun hingga ambang tertentu, BMKG bersama kementerian terkait segera melakukan penyemaian awan guna meningkatkan curah hujan.
Faisal menjelaskan bahwa pendekatan tersebut merupakan bagian dari strategi pencegahan yang diterapkan sejak Indonesia mengalami kebakaran hutan dan lahan besar pada 2015.
Berbeda dengan sebelumnya yang lebih berfokus memadamkan api setelah muncul titik panas, kini pemerintah berupaya mencegah kebakaran sejak dini dengan menjaga lahan gambut tetap jenuh air.
Ketika muka air tanahnya sudah menurun, dilakukan modifikasi cuaca agar lahan tetap dalam kondisi jenuh. Kalau dia jenuh, maka tidak akan mudah terbakar,”
ujarnya.
Ia menambahkan bahwa strategi preventif tersebut dinilai membuat penanganan karhutla relatif lebih terkendali dibandingkan sebelum 2015, meski Indonesia kembali menghadapi fenomena El Nino pada tahun ini.
Strategi Preventif Cegah Karhutla Saat El Niño Menguat
Faisal juga menjelaskan BMKG mengedepankan strategi pencegahan atau preventif dalam menangani ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah fenomena El Niño.
Upaya tersebut dilakukan dengan operasi modifikasi cuaca sebelum muncul titik api, bukan hanya memadamkan kebakaran yang sudah terjadi.
Faisal menyebutkan, pendekatan tersebut mulai diterapkan setelah Indonesia mengalami kebakaran hutan dan lahan yang cukup parah pada 2015.
Sejak saat itu, pemerintah mengubah strategi penanganan dengan menjaga kelembapan lahan gambut agar tidak mudah terbakar.
Dulu kita menunggu adanya titik api baru dilakukan pemadaman. Sekarang ketika muka air tanah di lahan gambut mulai menurun, dilakukan operasi modifikasi cuaca agar kondisinya tetap jenuh,”
paparnya.
Menurutnya, operasi modifikasi cuaca dilakukan berdasarkan pemantauan muka air tanah di kawasan gambut. Ketika ketinggian air mencapai ambang tertentu, BMKG bersama kementerian terkait segera melakukan penyemaian awan untuk meningkatkan curah hujan dan menjaga cadangan air di dalam lahan.
Faisal menjelaskan kondisi lahan gambut yang tetap jenuh air akan lebih sulit terbakar sehingga risiko munculnya karhutla dapat ditekan sejak dini. “Kalau lahan gambut tetap dalam kondisi jenuh, maka tidak akan mudah terbakar,” ujarnya.
Ia menilai pendekatan preventif tersebut membuat penanganan kebakaran hutan dan lahan saat ini relatif lebih terkendali dibandingkan sebelum 2015, meski Indonesia kembali menghadapi fenomena El Niño pada tahun ini.






















