Indonesia merupakan salah satu negara yang terdampak fenomena El Nino. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bukan berarti Indonesia menjadi negara yang paling rentan terhadap fenomena iklim tersebut.
Direktur Perubahan Iklim BMKG A. Fachri Radjab menjelaskan El Nino memengaruhi banyak wilayah di dunia, sementara dampaknya di Indonesia bergantung pada interaksi dengan berbagai faktor iklim lainnya.
El Nino berdampak pada pola iklim secara global, termasuk wilayah Indonesia. Namun, hal ini tidak menjadikan Indonesia sebagai satu-satunya negara yang rentan terdampak El Nino,”
kata Fachri kepada Owrite, Kamis 30 Juli 2026.
Fenomena iklim global memengaruhi pola cuaca juga terjadi di berbagai kawasan, mulai dari Asia Tenggara, Australia, hingga Amerika.
Fenomena Atmosfer dan Laut Saling Berinteraksi
Menurutnya, kondisi iklim Indonesia jauh lebih kompleks karena dipengaruhi sejumlah fenomena atmosfer dan laut yang saling berinteraksi.
Selain El Nino, terdapat fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudra Hindia, Monsun Australia yang berkaitan dengan musim kemarau, Monsun Asia yang memengaruhi musim hujan, anomali suhu permukaan laut di perairan Indonesia, hingga berbagai variabilitas iklim lainnya.
Interaksi berbagai faktor tersebut membuat dampak El Nino di Indonesia tidak selalu sama pada setiap kejadian.
Intensitas kekeringan maupun penurunan curah hujan bergantung pada kondisi iklim yang terjadi secara bersamaan.
Lebih lanjut Fachri menjelaskan beberapa wilayah Indonesia yang berpotensi mengalami penurunan curah hujan saat El Nino terjadi.
Daerah yang paling berisiko meliputi Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga sebagian Papua.
Wilayah tersebut mengalami curah hujan rendah pada periode Juni, Juli, Agustus, September, Oktober,”
jelasnya.
Periode itu umumnya sedang dalam musim kemarau. Akibatnya, El Nino dapat menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal.

























