Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 26 Juni 2026 mengimbau seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi fenomena El Niño yang diperkirakan mencapai level kuat pada tahun 2026.
Peringatan tersebut membuat istilah El Nino kembali menjadi sorotan. Di sisi lain, masyarakat juga kerap mendengar istilah La Nina, terutama saat terjadi hujan lebat, banjir, atau cuaca ekstrem.
Mengapa kedua fenomena ini dapat memengaruhi musim, curah hujan, hingga aktivitas masyarakat? Melansir dari laman Balau Hidrologi dan Lingkungan Keairan (8 Juli 2026), berikut penjelasan tentang El Nino dan La Nina.
Asal Usul Istilah El Nino dan La Nina
Istilah El Nino berasal dari bahasa Spanyol yang berarti “anak laki-laki.” Nama ini pertama kali digunakan oleh para nelayan di pesisir Peru dan Ekuador untuk menyebut arus laut hangat yang biasanya muncul menjelang Natal.
Sementara itu, La Nina berasal dari bahasa Spanyol yang berarti “anak perempuan.” Nama ini digunakan sebagai kebalikan dari El Nino karena fenomenanya memiliki karakteristik yang berlawanan.
Apa Itu El Nino dan La Nina?
El Nino dan La Nina adalah dua fenomena alam yang terjadi karena perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik. El Nino biasanya menyebabkan curah hujan yang lebih sedikit sehingga musim kemarau cenderung lebih panjang. Sebaliknya, La Nina membuat curah hujan meningkat, sehingga musim hujan berlangsung lebih lama.
Kedua fenomena ini merupakan bagian dari El Nino-Southern Oscillation (ENSO), yaitu siklus iklim alami yang terjadi akibat perubahan suhu permukaan laut dan pola angin di Samudra Pasifik.
Meski terjadi jauh dari Indonesia, dampak El Nino dan La Nina dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari sektor pertanian, ketersediaan air bersih, hingga banjir dan kekeringan.
Dampak El Nino dan La Nina
Saat terjadi El Nino menyebabkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berkurang, terutama pada musim kemarau. Kondisi ini membuat musim kemarau berlangsung lebih panjang dan meningkatkan risiko kekeringan hingga berkurangnya ketersediaan air bersih.
Sebaliknya, La Nina menyebabkan sebagian besar wilayah Indonesia cenderung mengalami peningkatan curah hujan. Menurut BMKG, curah hujan pada periode La Nina umumnya meningkat sekitar 20–40 persen dibandingkan kondisi normal. Akibatnya, risiko banjir, tanah longsor, dan genangan besar.
Kasus El Nino dan La Nina Terbesar di Indonesia
Dilansir dari laman BMKG, El Nino yang paling kuat terjadi pada 1997. Pada periode tersebut, banyak wilayah di Indonesia, seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua mengalami kekeringan yang cukup parah dan kebakaran hutan dalam skala besar.
Lalu La Nina kuat terjadi pada 2010. Saat itu, curah hujan di banyak wilayah Indonesia meningkat jauh di atas normal. Kondisi tersebut memicu berbagai bencana hidrometeorologi, salah satunya banjir bandang Wasior di Papua Barat pada Oktober 2010 yang menelan ratusan korban jiwa.
Kapan El Nino dan La Nina Terjadi?
El Nino dan La Nina tidak terjadi setiap tahun, melainkan muncul secara alami dalam siklus yang umumnya berlangsung setiap 2 hingga 7 tahun. Durasinya bervariasi mulai dari beberapa bulan, hingga sekitar satu tahun.
Ketika salah satu fenomena ini terjadi, dampaknya dapat memengaruhi cuaca di Indonesia dan meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.
Karena itu, meskipun El Nino dan La Nina merupakan fenomena alam yang terjadi secara berkala, masyarakat tetap perlu memantau informasi dan peringatan dini dari BMKG agar dapat mengantisipasi dampak yang mungkin ditimbulkan.


















