Mantan Koordinator Badan Pekerja Indonesia Corruption Watch (ICW) Adnan Topan Husodo menilai, perubahan gerakan masyarakat sipil dalam mengawal pemberantasan korupsi tidak bisa dilepaskan dari berubahnya situasi sosial, politik, hingga ruang gerak aktivisme.
Menurut Adnan, masyarakat sipil termasuk organisasi antikorupsi saat ini menghadapi konteks yang berbeda. Hal itu dibandingkan dengan era ketika gerakan antikorupsi dinilai lebih ‘gahar’ dan memiliki daya tekan kuat terhadap kekuasaan.
Ya, sebenarnya kalau mau jujur mungkin kita punya feeling yang berbeda hari ini dibanding sebelumnya,”
kata Adnan kepada Owrite, Senin, 3 Agustus 2026.
Pandangan itu disampaikan Adnan menanggapi sorotan mengenai kondisi gerakan masyarakat sipil yang dinilai tidak lagi seberingas masa lalu. ICW dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bahkan pernah dipandang sebagai dua kekuatan yang sama-sama agresif dalam mengawasi dan melawan praktik korupsi.
Adnan mengakui, bahwa persepsi terhadap gairah gerakan masyarakat sipil saat ini memang bisa berbeda dibandingkan masa lalu. Namun, ia menilai perubahan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh menurunnya keberanian aktivis.
Itu karena referensi kita berbeda. Kemudian, ya mindset-nya yang dimiliki itu juga mungkin agak sedikit berbeda. Dan, tentu kita gak bisa salahkan karena konteks yang membentuk itu. Konteks dulu dengan hari ini tentu berbeda,”
jelas Adnan.
Adnan menyampaikan, generasi aktivis pada masa lalu memiliki pengalaman yang berbeda ketika berada di lingkungan kampus. Kampus saat itu menjadi salah satu ruang penting untuk membangun gerakan, konsolidasi, sekaligus berhadapan langsung dengan berbagai persoalan sosial dan politik.
Dia mencontohkan dulu aktivis kampus masih bisa bebas dalam menyampaikan pandangan kritisnya.
Dulu kita di kampus ya seperti penguasa, bisa pagi pulangnya satu minggu kemudian. Kalau sekarang, sore aja ada beberapa kampus yang udah ditutup. Gak boleh lagi ada mahasiswa di dalam. Alasannya listrik mahal, macam-macam,”
ucapnya.
Menurut Adnan, terbatasnya ruang interaksi dan pengalaman langsung tersebut turut memengaruhi karakter gerakan mahasiswa dan masyarakat sipil generasi sekarang.
Dia menyebut saat ini ada situasi di mana benturan-benturan langsung mereka dengan pengalaman itu menjadi terbatas juga.
Yang mungkin membuat beberapa halnya akhirnya juga berubah. Mungkin dalam konteks ini tadi disebutnya kok jadi kurang greget, kurang gahar, kurang beringas, macam-macam,”
ujar Adnan.
Beda Supporting System
Ia membandingkan situasi tersebut dengan pengalaman aktivis pada era sebelumnya. Ketika itu, meski gerakan mahasiswa juga menghadapi kekerasan dan intimidasi, terdapat sistem pendukung yang dinilai lebih kuat.
Mungkin juga pada era itu meskipun juga kita dihadapkan dengan tantangan langsung dalam bentuk kekerasan, intimidasi, macam-macam. Cuma supporting system-nya kan juga kuat, sehingga kita merasa tetap terlindungi,”
ucap Adnan.
Ia mencontohkan posisi pimpinan perguruan tinggi yang pada masa lalu dapat menjadi bagian dari sistem perlindungan bagi mahasiswa ketika menghadapi tekanan.
Bahkan dulu rektornya kan juga berhadapan langsung dengan yang akan mengancam kita,”
kata Adnan.
Situasi tersebut, kata dia, berbeda dengan kondisi yang dirasakan sebagian aktivis saat ini. Bahkan, pimpinan kampus dalam situasi tertentu justru dapat dipersepsikan sebagai bagian dari tekanan terhadap gerakan mahasiswa.
Rektornya malah jadi musuh di dalam. Jadi, memang ada ada fase yang mungkin agak sedikit berbeda dan ini yang melahirkan efek pressure yang juga mungkin berbeda,”.
katanya
Menurut Adnan, perubahan karakter gerakan masyarakat sipil sebenarnya telah menjadi objek berbagai penelitian dan kajian. Karena itu, penurunan intensitas gerakan tidak dapat serta-merta diartikan sebagai hilangnya komitmen masyarakat sipil terhadap pemberantasan korupsi.
Sudah banyak sebenarnya riset kajian yang menjelaskan evolusi masyarakat sipil. Gerakan masyarakat sipil. Cuma kita juga tidak bisa menihilkan peran-peran teman-teman di masyarakat sipil. Karena sudah sudah di-preassure dengan situasi yang berbeda,”
tuturnya.
Ia menilai masyarakat sipil kini menghadapi tekanan yang lebih kompleks. Salah satunya adalah munculnya persepsi bahwa kelompok masyarakat sipil yang kritis terhadap kekuasaan merupakan pihak yang berseberangan dengan negara.
Sudah dianggap musuh negara dalam tanda petik. Tapi, kan tetap mereka punya komitmen untuk memperjuangkan hak-hak publik yang lebih luas,”
sebut Adnan.
Selain tekanan politik dan sosial, persoalan pendanaan juga menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan organisasi masyarakat sipil.
Salah satu preassure-nya juga adalah sekarang pendanaan itu kan juga sangat terbatas,”
kata Adnan.
Dalam pembicaraan tersebut, Adnan kemudian menyinggung kebijakan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap United States Agency for International Development (USAID), yang selama ini menjadi salah satu lembaga besar dalam pendanaan program bantuan dan pembangunan internasional.
Itu Donald Trump lah yang mulai ketika dia menghabisi USID. Sebagai salah satu lembaga yang paling besar yang mendanai,”
ujar Adnan.
Meski demikian, Adnan melihat keterbatasan pendanaan tersebut tidak harus menjadi akhir dari gerakan masyarakat sipil. Tapi, sebaliknya, kata dia, kondisi itu bisa jadi momentum untuk mencari model pendanaan alternatif yang lebih dekat dengan masyarakat.
Tapi, ini juga mungkin akan menjadi trigger bagi masyarakat sipil untuk lebih kreatif bagaimana mencari pendanaan alternatif yang mungkin jauh lebih bisa merepresentasikan kepentingan publik yang lebih luas. Karena didukung langsung oleh publik misalnya macam-macam,”
tutur Adnan.
Menurut Adnan, ketergantungan terhadap pendanaan asing juga dapat memunculkan tudingan tertentu terhadap organisasi masyarakat sipil. Dengan demikian, dukungan publik secara langsung dapat menjadi salah satu alternatif.
Kalau didanai oleh pihak asing kan nanti akan dituduh anti-asing. Macam-macam,”
ujarnya.


















