Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Jumat, 14 Agu 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Sepak Bola
  • DPR
  • Korupsi
  • prabowo
  • MBG
  • Piala Dunia 2026
  • Purbaya
  • Prabowo Subianto
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Nasional / Kuliah Makin Tinggi, Tapi Kerja Makin Sulit: Bonus Demografi Terancam Sia-Sia
Nasional

Kuliah Makin Tinggi, Tapi Kerja Makin Sulit: Bonus Demografi Terancam Sia-Sia

iren natania longdongIvan OWRITE
Last updated: Agustus 13, 2026 11:14 pm
By
Natania Longdong
iren natania longdong
ByNatania Longdong
News Reporter
Natania Longdong adalah jurnalis di Owrite yang berfokus pada isu internasional, energi, dan lingkungan. Dengan pengalaman lebih dari empat tahun meliput untuk Viva.co.id, Liputan6.com, dan Tirto.id,...
Follow:
Ivan Syahruna Lubis
Ivan OWRITE
ByIvan Syahruna Lubis
Redaktur
Editor berita di OWRITE Media, meliput pemberitaan gaya hidup dan Peristiwa.
Follow:
1 jam lalu
Share
Pencari kerja mencari informasi pekerjaan melalui scan kode batang saat bursa kerja di Balai Kota Kendari, Sulawesi Tenggara
Pencari kerja mencari informasi pekerjaan melalui scan kode batang saat bursa kerja di Balai Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (ANTARA FOTO/Andry Denisah/bar)
SHARE

Meningkatnya jumlah lulusan sarjana setiap tahun membuat persaingan di pasar kerja Indonesia semakin ketat, terutama untuk mendapatkan pekerjaan formal yang dianggap layak.

Daftar isi Konten
  • Ancaman Wasted Human Capital
  • Menggerus Bonus Demografi

Namun, kondisi tersebut dinilai tidak seharusnya diatasi dengan mengurangi jumlah masyarakat yang menempuh pendidikan tinggi.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Tidar, Arif Novianto, mengatakan persoalan utama justru terletak pada belum seimbangnya pertumbuhan tenaga kerja berpendidikan tinggi dengan penciptaan lapangan pekerjaan berkualitas.

Iya, persaingan semakin ketat, terutama untuk pekerjaan formal yang dianggap layak. Tapi menurut saya solusinya bukan mengurangi jumlah orang yang kuliah,”

kata Arif pada Owrite, Kamis, 13 Agustus 2026.
Baca juga:
Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen, Tapi 7,22 Juta Orang Menganggur… Pemerintah menilai perekonomian Indonesia saat ini masih tumbuh positif di tengah berbagai…
Sudah Kuliah Bertahun-tahun, Kenapa Sarjana di Indonesia Masih Sulit Cari… Fenomena pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi masih menjadi persoalan serius di…
Megawati Soroti Kabar 1 Juta Orang Pintar RI Nganggur: Hati-hati… Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menyoroti kabar sekitar satu juta orang berpendidikan…
  • Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen, Tapi 7,22 Juta Orang Menganggur dan 43.805…
  • Sudah Kuliah Bertahun-tahun, Kenapa Sarjana di Indonesia Masih Sulit Cari Kerja?
  • Megawati Soroti Kabar 1 Juta Orang Pintar RI Nganggur: Hati-hati Diambil Negara…

Menurut dia, pemerintah perlu memperkuat hubungan antara pendidikan tinggi dan transformasi ekonomi. Jangan sampai peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi tidak diikuti dengan ketersediaan pekerjaan produktif setelah mereka lulus.

Yang perlu diubah adalah hubungan antara pendidikan tinggi dan transformasi ekonomi. Jangan sampai negara mendorong anak muda untuk kuliah, tetapi setelah lulus mereka masuk ke pasar kerja yang tidak menyediakan cukup pekerjaan berkualitas,”

ujarnya.

Arif menilai Indonesia membutuhkan kebijakan industrialisasi dan penciptaan pekerjaan berkualitas yang lebih serius. Dengan demikian, kebijakan pendidikan tinggi tidak berjalan sendiri tanpa dukungan transformasi struktur ekonomi.

Menurut Arif, pilihan kebijakan tidak semestinya diarahkan pada upaya memperbanyak atau mengurangi jumlah sarjana.

Jadi bukan memilih antara ‘memperbanyak sarjana’ atau ‘mengurangi sarjana’, tetapi memastikan pendidikan tinggi berjalan beriringan dengan penciptaan pekerjaan yang produktif dan layak,”

tuturnya.
Keyakinan Konsumen RI Merosot pada Juli 2026, Penghasilan dan Lapangan Kerja Disorot

Ancaman Wasted Human Capital

Arif memperingatkan, apabila persoalan pengangguran dan rendahnya kualitas penyerapan lulusan S1 dibiarkan, dampaknya dapat berlangsung dalam jangka panjang. 

Salah satu dampaknya adalah menurunnya pemanfaatan sumber daya manusia terdidik.

Dampaknya bisa cukup panjang. Yang pertama tentu produktivitas. Kalau orang sudah punya pendidikan dan kompetensi tetapi bekerja pada pekerjaan yang tidak memanfaatkan kemampuannya, ada wasted human capital,”

ujarnya.

Persoalan berikutnya adalah tekanan terhadap tingkat upah. Arif menjelaskan, ketika jumlah tenaga kerja terdidik jauh lebih besar dibandingkan pekerjaan berkualitas yang tersedia, posisi tawar pekerja dapat melemah.

Kedua, tekanan terhadap upah. Ketika supply tenaga kerja terdidik jauh lebih besar daripada pekerjaan berkualitas yang tersedia, posisi tawar pekerja bisa melemah. Orang akhirnya menerima pekerjaan dengan upah rendah karena tidak punya banyak pilihan,”

beber Arif.

Menggerus Bonus Demografi

Kondisi tersebut juga dinilai berpotensi mengurangi manfaat bonus demografi Indonesia.

Bonus demografi bukan sekadar banyaknya penduduk usia produktif, tetapi apakah mereka bisa memperoleh pekerjaan produktif dan layak,”

jelasnya.

Karena itu, besarnya populasi usia kerja harus diimbangi kemampuan ekonomi dalam menyediakan pekerjaan yang produktif. Jika tidak, jumlah penduduk usia produktif justru dapat menghadapi persoalan pengangguran, pekerjaan berkualitas rendah, dan pemanfaatan kompetensi yang tidak optimal.

Selain persoalan ekonomi, Arif melihat ada risiko terhadap kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan tinggi.

Kalau semakin banyak anak muda merasa ‘sudah kuliah tapi tetap sulit mendapatkan pekerjaan yang layak’, lama-lama muncul pertanyaan: buat apa pendidikan tinggi?”

tekan Arif.

Dia menilai kondisi tersebut berbahaya karena pendidikan tinggi semestinya dipandang sebagai investasi sosial untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, bukan sekadar sarana untuk mendapatkan pekerjaan.

Ini berbahaya karena pendidikan tinggi seharusnya menjadi investasi sosial, bukan sekadar tiket untuk masuk antrean pekerjaan,”

tambahnya.

Tag:Arif NoviantoBonus DemografiDekan Fisiplapangan kerja
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
iren natania longdong
ByNatania Longdong
News Reporter
Follow:
Natania Longdong adalah jurnalis di Owrite yang berfokus pada isu internasional, energi, dan lingkungan. Dengan pengalaman lebih dari empat tahun meliput untuk Viva.co.id, Liputan6.com, dan Tirto.id, ia dikenal lewat reportase mendalam soal bisnis, pertambangan, dan dampak kebijakan energi terhadap masyarakat.
Ivan OWRITE
ByIvan Syahruna Lubis
Redaktur
Follow:
Editor berita di OWRITE Media, meliput pemberitaan gaya hidup dan Peristiwa.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Trending di OWRITE
Prakiraan Cuaca Jakarta Jumat 14 Agustus 2026: Berawan, Suhu Tembus 35°C
By Ivan Syahruna Lubis
Cuaca berawan
1
Ilmu Dagin, Ini 10 Singkatan Sering Digunakan di Kalangan Gen Z 2026
By Ani Ratnasari
Ilustrasi Gen Z
2
Dari Challenge Jadi Perkara, Kasus Hafalan Surah Alquran Berhadiah Miras Dilimpahkan ke Polda Metro
By Rahmat Baihaqi
Ilustrasi minuman keras atau miras.
3
9 Demo di Jakarta Batal Bersamaan, Pengamat Curiga Ada “Dirijen” yang Atur Gerakan Massa
By Rahmat Tunny
Momen demo
4
Misteri Sutrimo dari Kebayoran ke Banyumas: Barang Raib, Jasad Tanpa Luka
By Rahmat Baihaqi
Petugas membawa peralatan untuk proses ekshumasi jenazah Sutrimo mantan kepala rumah tangga eks Jampidsus Kejagung Febrie Adriansyah, di Desa Wlahar, Wangon, Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (12/8/2026).
5

BERITA LAINNYA

Ketua Dewan Pers, Komarudin Hidayat
Nasional

Wartawan Diusir Saat Liputan TPS Ilegal, Dewan Pers Singgung Ancaman Pidana

Dewan Pers menyoroti dua peristiwa yang dinilai mencederai kebebasan pers dan mengganggu…

hadi-febriansyah-owriteIvan OWRITE
By
Hadi Febriansyah
Ivan Syahruna Lubis
10 jam lalu
Presiden Prabowo Subianto di Peluncuran Motor Listrik Nasional (Molinas). (Sumber: YouTube BPMI)
Nasional

Prabowo Beri Peringatan ke Masyarakat yang Masih Pakai Motor Bensin

Presiden Prabowo Subianto memberikan peringatan kepada masyarakat yang masih menggunakan sepeda motor…

iren natania longdongIvan OWRITE
By
Natania Longdong
Ivan Syahruna Lubis
10 jam lalu
Salah satu tersangka kasus dugaan penistaan agama challenge hafalan surah Ad-Dhuha berhadiah miras (topi hitam) digelandang ke rutan Polda Metro Jaya.
Nasional

Heboh Challenge Hafalan Alquran Berhadiah Miras, 4 Orang Resmi Jadi Tersangka

Polisi menetapkan empat orang sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama buntut challenge…

rahmat-baihaqi-jurnalis-owriteHardani Triyoga
By
Rahmat Baihaqi
Hardani Triyoga
11 jam lalu
Menteri Koperasi Ferry Juliantono dan Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat
Nasional

Kemenkop dan KLH Buka Jalan Baru untuk Koperasi: Dari Sampah hingga Perdagangan Karbon

Kementerian Koperasi (Kemenkop) dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) resmi memperkuat kerja sama…

hadi-febriansyah-owriteIvan OWRITE
By
Hadi Febriansyah
Ivan Syahruna Lubis
12 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up