Klaim bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat menjadi bagian dari upaya mengatasi stunting dipersoalkan oleh Koalisi MBG Watch.
Annete Mau dari Koalisi MBG Watch dan Aliansi Ibu Indonesia, mengatakan penanganan stunting tidak bisa hanya berfokus pada pemberian makanan kepada anak usia sekolah, tetapi harus melihat periode kritis pertumbuhan sejak masa kehamilan hingga awal kehidupan anak.
Anak perlu dapat pangan yang sehat. Anak perlu ketika makan itu merasakan bahwa dia itu menyerap nutrisi,”
ujarnya kepada Owrite, Jumat, 11 September 2026.
Menurut Annete, pemberian makanan dalam program MBG harus benar-benar berorientasi pada pemenuhan kebutuhan gizi anak.
Ia menilai, manfaat program akan kehilangan substansinya apabila makanan yang diberikan justru tidak memenuhi standar keamanan dan kualitas yang seharusnya.
Bukan menyerap racun. Jadi pengetahuan tidak dimasukkan ke dalam pertimbangan,”
ujarnya.
Sorotan kemudian diarahkan pada narasi pemerintah yang mengaitkan MBG dengan upaya penanganan stunting.
Annete mempertanyakan apakah pemberian makanan kepada anak sekolah dapat ditempatkan sebagai instrumen utama untuk mengatasi persoalan gangguan pertumbuhan tersebut.
Bahkan hal yang mendasar yang selama ini dijual oleh pemerintah katanya buat stunting. Ini buat mengatasi stunting,”
ucapnya.
Intervensi Stunting
Annete kemudian menyampaikan pandangannya mengenai batas waktu intervensi stunting. Ia menilai penanganan stunting harus dilakukan jauh sebelum anak memasuki usia sekolah.
Itu bahkan semua ahli gizi yang masih waras sudah mengatakan, tidak pernah bisa stunting diintervensi setelah anak itu selesai dari usia 3 tahun. Nggak bisa,”
jelasnya.
Secara ilmiah, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan periode 1.000 hari pertama kehidupan, sejak konsepsi hingga anak berusia dua tahun, sebagai periode yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan.
Stunting sendiri berkaitan dengan kekurangan gizi kronis serta berbagai faktor lain, termasuk kondisi kesehatan ibu, infeksi berulang, lingkungan, dan pengasuhan.
UNICEF Indonesia juga menempatkan masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun sebagai periode penting dalam pencegahan stunting. Artinya, intervensi pencegahan tidak hanya dilakukan ketika anak sudah berada di bangku sekolah.
Karena itu, Annete membedakan manfaat pemberian makanan kepada anak sekolah dengan intervensi khusus untuk mencegah stunting.
Menurutnya, makanan bergizi tetap dapat memberikan manfaat bagi kondisi gizi anak, tetapi tidak otomatis dapat dianggap sebagai solusi untuk stunting yang prosesnya telah berlangsung sejak periode awal kehidupan.
Yang dikasih makan anak SD, anak SMP, anak SMA. Oke, mungkin bisa kemudian memperbaiki sedikit,”
terangnya.
Ia kembali menekankan, bahwa upaya pencegahan stunting semestinya dimulai sejak masa kehamilan. Periode tersebut merupakan fase penting yang tidak boleh dilewatkan apabila pemerintah ingin menekan prevalensi stunting secara serius.
Tapi nggak bisa mengintervensi tuh stuntingnya. Karena stunting itu harusnya diperbaiki sejak bayinya ada dalam kandungan,”
tegasnya.
Penguatan Layanan Kesehatan
Lebih jauh, Annete menilai penguatan layanan kesehatan di tingkat daerah justru menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan stunting. Fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan harus diperkuat agar intervensi dapat dilakukan sejak sebelum anak lahir.
Berarti yang harus ditambah Puskesmas. Yang harus ditambah nakes di daerah-daerah. Perbaikan gizi untuk ibu hamil,”
pungkasnya.
Dengan demikian, kritik Annete Mau tidak semata mempersoalkan pemberian makanan kepada anak sekolah, tetapi mempertanyakan sejauh mana MBG ditempatkan dalam strategi penanganan stunting nasional.
Pemberian makanan bergizi kepada anak sekolah tetap memiliki manfaat terhadap asupan gizi, tetapi pencegahan stunting membutuhkan intervensi yang lebih luas dan dimulai sejak masa kehamilan hingga periode awal kehidupan.







