Kasus keracunan massal di sejumlah sekolah yang diduga akibat konsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) membuat sejumlah orang tua murid merasa khawatir.
Sebab di sekolah, anak-anak mereka menerima makanan MBG.
Salah satu orang tua murid Tuti Alawiyah mengaku khawatir dengan kasus keracunan massal para siswa yang diduga setelah menyantap menu MBG.
Prihatin sekali. Niat programnya baik, tapi kalau sudah banyak korban begini berarti pengawasannya belum matang. Harus dievaluasi total,”
ujar Tuti kepada Owrite, Selasa 15 September 2026.
Ia mengaku kerap waswas saat sang anak mendapatkan MBG di sekolah. Ia juga selalu memperhatikan dan menanyakan menu MBG yang dikonsumsi sang anak. Ia mengatakan dari segi menu dan rasa masih belum konsisten.
Jujur, agak waswas. Jadi lebih hati-hati dan selalu saya tanya anak setelah makan ada keluhan apa tidaknya. Kadang enak, kadang kurang. Sering datang dingin dan sayurnya sudah layu, jadi belum konsisten,”
ucapnya.
Dapur dan Distribusi
Meski demikian, Tuti mengatakan program MBG tak perlu dihentikan. Menurutnya program MBG sudah bagus dan disayangkan bila harus berhenti, sebab yang bermasalah itu sistem dapur dan distribusinya.
Mohon dapurnya diperketat kebersihannya, masaknya jangan terlalu pagi, dan kalau ada kejadian tolong lapor ke wali murid,”
tuturnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Ayu yang merasa khawatir dengan banyaknya kasus keracunan MBG. Ia mengatakan sebagai orang tua tentu senang ada program makanan bergizi gratis untuk anak, tapi ketika muncul kasus keracunan di beberapa sekolah, rasa khawatir pasti ada.
Ini harus menjadi evaluasi serius, jangan sampai program yang niatnya baik justru membahayakan kesehatan anak,”
ucapnya.
Ayu juga kerap menanyakan kepada sang anak terkait menu MBG yang disantap setiap hari. Menurut pengakuan sang anak makanannya cukup baik dan beberapa menu juga dia suka. Tapi memang kualitasnya kadang tidak selalu sama.
Ada makanan yang terlihat masih segar, tapi ada juga yang kondisinya kurang menarik ketika sampai di sekolah. Untuk kebersihan, sebagai orang tua kami tentu tidak bisa melihat langsung proses memasak dan distribusinya, jadi kami sangat bergantung pada pengawasan dari pihak yang bertanggung jawab,”
katanya.
Program MBG
Lebih lanjut Ayu mengatakan program MBG ini tetap perlu karena banyak anak yang memang terbantu dengan adanya makanan bergizi di sekolah. Jadi bukan programnya yang harus dihentikan, tetapi pelaksanaannya yang harus dibenahi.
Kalau memang ada masalah di proses pengadaan, pengolahan, penyimpanan, sampai distribusi, itu yang harus diperbaiki. Keselamatan anak harus menjadi prioritas utama.
Saya berharap pemerintah benar-benar memperketat pengawasan dari awal makanan diproduksi sampai diterima anak. Jangan hanya mengandalkan laporan dari pihak penyedia,”
ungkapnya.
Pemeriksaan kualitas makanan, kebersihan dapur, bahan baku, waktu distribusi, sampai kondisi makanan ketika tiba di sekolah harus diperhatikan.
Pihak sekolah juga harus cepat bertindak kalau menemukan makanan yang sudah berubah rasa, bau, atau kondisi fisiknya. Kalau ada makanan yang diragukan, lebih baik tidak dibagikan daripada mengambil risiko kesehatan anak, tambahnya.






