Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono mengakui perang dan bencana ikut membuat kebutuhan pangan global semakin sulit dipenuhi.
Tekanan itu tak hanya menyangkut bahan makanan. Namun, juga pupuk, bahan baku pupuk, hingga harga bahan bakar yang ikut berfluktuasi
Itu yang sebenarnya selama ini kita lakukan (berdiplomasi). Jadi, yang kita hadapi situasi global yang sangat dinamis yang di dalam beberapa kesempatan juga menyampaikan bahaya ketidakpastian ini dan ini juga kita rasakan,”
kata Sugiono, Rabu, 16 September 2026.
Menurut Sugiono, kondisi itu membuat ketahanan pangan dan energi jadi persoalan yang semakin penting bagi Indonesia.
Ia menyampaikan penguatan dua sektor itu sejak awal sudah menjadi bagian dari perencanaan pemerintah.
Jadi, sudah sangat benar dari awal Presiden merencanakan, memprogramkan bagaimana kita bisa memiliki ketahanan pangan dan ketahanan energi,”
lanjut Sugiono.
Sugiono menyampaikan tekanan terhadap pangan saat ini terjadi karena sejumlah faktor. Dua di antaranya adalah bencana dan perang yang membuat kebutuhan pangan di berbagai negara semakin sulit dipenuhi.
Nah, sekarang kita lihat situasi seperti ini, banyak negara-negara membutuhkan pangan yang menjadi semakin sulit. Pertama, karena bencana, kemudian yang kedua karena perang,”
ujarnya.
Menurut Sugiono, masalahnya bukan hanya soal tersedianya pangan. Negara-negara juga membutuhkan berbagai komponen untuk memproduksi pangan. Sementara, kebutuhan terhadap komponen tersebut juga meningkat.
Kita butuh pupuk, kita butuh bahan baku pupuk, negara-negara lain butuh pupuk. Butuh bahan baku pokok untuk produksi pangan ya,” .
katanya
Tekanan serupa terjadi pada sektor energi. Sugiono menyebut perang ikut memengaruhi harga bahan bakar dan membuat negara-negara menghadapi tantangan yang sama.
Belum lagi kalau kita berbicara mengenai fluktuasi harga bahan bakar karena perang. Semua negara mengalami kesulitan tersebut,”
ujar Sugiono.
Dia mengatakan kondisi itu menunjukkan bahwa ketidakpastian global bukan sekadar persoalan diplomatik yang dibahas dalam forum internasional. Dampaknya menyentuh kebutuhan dasar yang harus dipenuhi negara.
Sugiono mengatakan Indonesia perlu memanfaatkan berbagai forum multilateral untuk menghadapi situasi tersebut. Potensi yang dimiliki masing-masing negara, menurutnya, perlu dikombinasikan untuk menghadapi persoalan pangan dan energi.
Dia mengatakan hal itu jadi tantangan yang dibahas dalam forum BRICS.
Disampaikan bahwa menghadapi situasi yang seperti ini, menghadapi ketidakpastian ini, kita di berbagai multilateral grouping ini harus bisa manfaatkan potensi dan kekuatan yang kita miliki masing-masing untuk kemudian dikombinasikan menjadi satu kekuatan bersama,”
katanya.
Menurut Sugiono, kondisi itu sekaligus menunjukkan mengapa diplomasi dan kerja sama internasional dibutuhkan. Pemerintah perlu membangun komunikasi dengan negara lain untuk mencari jalan keluar atas persoalan yang tidak bisa diselesaikan sendirian.
Kalau tadi ditanya di mana letak pentingnya diplomasi, di mana letak pentingnya Kementerian Luar Negeri melakukan kerja sama ya di sini,”
ujarnya.
Ia mengatakan kerja sama tersebut membutuhkan komunikasi, pertemuan, pembicaraan hingga negosiasi agar kepentingan dan kekuatan masing-masing negara dapat disinergikan.
Semua itu membutuhkan komunikasi yang baik, kemudian membutuhkan pertemuan, pembicaraan, negosiasi sehingga terjadi satu sinergi,”
kata Sugiono.
Sugiono menyampaikan langkah diplomasi itu diperlukan untuk menghadapi tekanan global, khususnya yang berkaitan dengan pangan dan energi.
Persoalan tersebut menjadi semakin penting ketika perang dan bencana terus memengaruhi pasokan serta harga komoditas strategis.
Jadi, saya kira di situlah langkah-langkah diplomasi yang perlu kita lakukan,”
tutur politikus Partai Gerindra itu.






