Dugaan hilangnya jurnalis yang berada di atas perahu kecil di kawasan Selat Sunda diduga berkaitan dengan kondisi arus laut yang cukup kuat.

Profesor Riset di Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, mengatakan analisis terhadap data gelombang, arus, dan angin menunjukkan arus menjadi faktor yang paling dominan dalam kejadian tersebut.

Erma mengatakan arus permukaan di kawasan Selat Sunda saat itu dapat mencapai sekitar 1 meter per detik. Kondisi tersebut dinilai memungkinkan perahu kecil terseret menjauh dari lokasi awal hingga menuju Samudra Hindia.

Di kejadian Selat Sunda itu, perahu jurnalis itu beda. Kalau itu kondisinya memang kalau kita lihat dari data yang ada, dari pemantauan data yang ada itu arusnya memang kuat ya. Ada arus yang sangat kuat. Kecepatannya bisa sampai 1 meter per detik di permukaan,”

kata Erma kepada Owrite, Kamis 17 September 2026.

Tiga Faktor

Menurut dia, dari tiga faktor yang dianalisis, yakni gelombang, arus, dan angin, arus menjadi faktor yang paling dominan dalam dugaan tersebut.

Perahu yang berukuran kecil dinilai lebih mudah terbawa oleh arus kuat, terlebih lokasi kejadian berada di kawasan yang terhubung dengan Samudra Hindia.

Jadi kemungkinan besar dari data yang ada sih perahu itu terkena atau terseret arus yang kuat menuju ke Samudra Hindia. Itu estimasi dari data yang ada. Dari kami yang mengolah data-data gelombang tinggi, arus, dan angin, dari tiga faktor itu yang paling dominan adalah arus,”

ujarnya.

Erma menambahkan, kondisi saat kejadian juga bertepatan dengan adanya erupsi. Menurutnya, aktivitas erupsi dapat berdampak terhadap jarak pandang karena material abu vulkanik di atmosfer berpotensi mengganggu visibilitas.

Dan waktu itu juga situasi saat itu karena ada erupsi ya. Erupsi itu kan juga berpengaruh pada visibilitas, karena hujan abu itu kan menutup jarak pandang dan seterusnya. Jadi mungkin kita tahu bahwa itu pasti berpengaruh terhadap pelayaran,”

jelasnya.

Perahu Kecil

Erma menyebut apabila perahu kecil terseret hingga masuk ke Samudra Hindia, kondisi tersebut dapat membuat perahu bergerak semakin jauh dari lokasi semula karena kawasan tersebut merupakan laut lepas.

Perahunya kecil kan? Dan itu kan Samudra Hindia, samudra lepas kan. Jadi kalau terseret di situ ya sudah langsung bisa ke tengah lautan, kalau samudra,”

katanya.

Erma juga membandingkan kondisi tersebut dengan pelayaran KM Virgo di Laut Jawa. Berdasarkan pemantauan dan analisis data, kondisi Laut Jawa pada 12–14 September cenderung tenang dan tidak menunjukkan penguatan signifikan pada gelombang maupun arus.

Kalau yang Virgo itu di Laut Jawa enggak ada apa-apa. Dari pantauan kami sih enggak ada apa-apa ya,”

tuturnya.

Menurut Erma, tinggi gelombang di Laut Jawa berdasarkan pantauan satelit berada di sekitar 1,5 meter. Sementara arus permukaan tercatat relatif kecil, yakni kurang dari 0,5 meter per detik. Kondisi tersebut juga tidak disertai cuaca ekstrem maupun badai.

Jadi memang sebenarnya laut cenderung tenang pada tanggal 12, 13, 14 di Laut Jawa itu. Kami juga sudah melihat dari aspek arus misalnya. Arus permukaan juga tenang, arusnya kecil,”

kata Erma.

Dia menambahkan, kondisi cuaca di Laut Jawa saat itu juga relatif baik karena tidak terdapat badai, hujan, maupun aktivitas konvektif yang signifikan.

Tidak ada cuaca ekstrem, tidak ada cuaca buruk. Kita tidak ada apa-apa, tidak ada badai. Tidak sedang terjadi badai apa pun,”

tutupnya.