Amnesty International Indonesia menyoroti pemenuhan hak kesehatan warga yang mengungsi akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kondisi kelompok rentan, khususnya lanjut usia (lansia) dan anak-anak, menjadi perhatian di tengah tingginya angka kematian di lokasi pengungsian.
Manajer Media Amnesty International Indonesia Haeril Halim, mengatakan pengungsi memiliki hak untuk mendapatkan layanan kesehatan yang memadai selama berada di tempat evakuasi.
Hal itu terutama berlaku bagi warga rentan yang memiliki penyakit bawaan.
Penjelasan BNPB yang mengatakan bahwa sebagian besar dari korban meninggal tersebut adalah warga lanjut usia dengan komplikasi penyakit kronis, seperti stroke dan diabetes melitus tidak cukup untuk dijadikan alasan,”
kata Haeril dalam keterangan resmi, Kamis, 17 September 2026.
Mendapatkan Layanan Kesehatan
Pengungsi gempa memiliki hak untuk mendapatkan layanan kesehatan yang memadai terlebih bagi mereka yang rentan seperti lansia yang memiliki penyakit bawaan dan anak-anak.
Apakah hak mereka atas kesehatan khususnya mendapat perawatan medis yang memadai telah dipenuhi oleh negara selama di pengungsian?”
kata Haeril.
Amnesty juga menyoroti adanya anak-anak yang menjadi korban jiwa selama berada di pengungsian. Salah satunya seorang balita berusia dua tahun asal Kabupaten Nagekeo yang dilaporkan meninggal pada 20 Agustus setelah mengalami demam tinggi hingga kejang-kejang di lokasi pengungsian.
Laporan media mengungkapkan bahwa warga di bawah umur juga turut menjadi korban jiwa, termasuk seorang balita berusia dua tahun asal Kabupaten Nagekeo, yang meninggal pada 20 Agustus lalu setelah menderita demam tinggi hingga kejang-kejang saat berada di lokasi pengungsian,”
ujarnya.
Kasus ini menunjukkan gagalnya negara menjamin hak atas kesehatan bagi warga yang berada di dalam tempat pengungsian.
Selain layanan medis, Amnesty menyoroti kondisi fasilitas pengungsian yang disebut masih terbatas. Laporan media juga mengaitkan tingginya angka kematian di pengungsian dengan minimnya layanan medis mendesak serta kondisi cuaca yang ekstrem, dengan suhu sangat panas pada siang hari dan dingin pada malam hari.
Menurut Amnesty, tempat pengungsian semestinya mampu memberikan perlindungan selama proses pemulihan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.
Bagi kami, lokasi pengungsian seharusnya merupakan tempat yang menjamin keselamatan dan keamanan dalam proses pemulihan korban bencana, bukan malah menyumbang jumlah korban jiwa,”
ungkapnya.
Namun kenyataan terkait tingginya angka kematian ini mengindikasikan bahwa lokasi pengungsian belum mampu menjadi tempat yang layak bagi kelompok rentan, seperti warga lanjut usia dan anak-anak, tambahnya.





