Isu beras fortifikasi yang disebut-sebut sebagai beras “palsu” dan berbahaya bagi kesehatan ramai diperbincangkan.
Namun, pakar kesehatan masyarakat Dicky Budiman menegaskan istilah beras fortifikasi palsu kurang tepat secara ilmiah.
Menurut Dicky, persoalan yang ditemukan pada beras fortifikasi berkaitan dengan ketidaksesuaian kandungan zat gizi dengan label atau klaim produk.
Kondisi tersebut perlu dibedakan dari isu kontaminasi bahan berbahaya yang dapat menyebabkan keracunan.
Istilah beras fortifikasi palsu yang beredar sebenarnya kurang tepat secara ilmiah. Yang sebenarnya terjadi adalah overclaim atau ketidaksesuaian kandungan dengan label,”
kata Dicky kepada Owrite, Minggu 20 September 2026.
Dicky menjelaskan, beras fortifikasi pada dasarnya merupakan beras biasa yang ditambahkan zat gizi mikro melalui teknologi pangan setelah proses penggilingan.
Penambahan tersebut dilakukan untuk meningkatkan asupan vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh.
Jadi ini bukan beras rekayasa atau produk sintetis. Beras fortifikasi ini beras biasa sebetulnya yang ditambahkan zat gizi mikro melalui teknologi pangan setelah proses penggilingan,”
ujarnya.
Kandungan Beras Fortifikasi
Menurut Dicky, sejumlah zat gizi yang umum ditambahkan dalam beras fortifikasi antara lain zat besi, asam folat, vitamin B1, vitamin B3, vitamin B6, dan zink.
Fortifikasi tersebut, kata dia, memiliki dasar ilmiah dalam program kesehatan masyarakat. Strategi ini ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan mikronutrien, terutama pada kelompok rentan yang berisiko mengalami kekurangan zat gizi.
Secara kesehatan masyarakat, ilmu gizi masyarakat, program ini punya rasional atau dasar ilmiah yang kuat. Karena fortifikasi ini ditujukan untuk kelompok rentan seperti anak-anak stunting, ibu menyusui, hingga balita sebagai intervensi gizi berbasis populasi untuk mengatasi defisiensi mikronutrien yang sulit dicukupi hanya dari pola makan harian,”
jelas Dicky.
Ia mengatakan, fortifikasi pangan bukan merupakan strategi baru. Konsep serupa juga diterapkan pada sejumlah bahan pangan lain, seperti garam yang difortifikasi dengan yodium dan tepung terigu yang ditambahkan zat besi.
Dibedakan dengan Beras Biasa
Dicky mengatakan konsumen umumnya tidak dapat memastikan beras fortifikasi hanya dengan melihat bentuk, warna, aroma, atau rasa. Pasalnya, zat gizi yang ditambahkan biasanya berbentuk kernel yang dicampurkan dengan beras biasa.
Konsumen tidak bisa membedakan secara kasat mata atau dari rasa. Karena masalahnya bukan bentuk fisik beras. Fortifikan itu biasanya berbentuk kernel yang dicampur dan dirancang khusus tanpa mengubah rasa, aroma, warna, maupun tekstur nasi setelah dimasak,”
katanya.
Karena itu, menurut Dicky, untuk memastikan kandungan fortifikasi sesuai dengan klaim pada kemasan diperlukan pemeriksaan laboratorium, bukan sekadar melihat atau mencicipi beras.
Apakah Beras Fortifikasi Berbahaya?
Dicky menekankan bahwa ketidaksesuaian kandungan fortifikan dengan label tidak otomatis berarti beras tersebut beracun atau menyebabkan keracunan akut.
Ia membedakan persoalan kandungan zat gizi yang kurang dari klaim dengan kontaminasi bahan berbahaya. Keduanya merupakan isu yang berbeda dan tidak boleh dicampuradukkan.
Ketidaksesuaian kandungan fortifikan ini tidak serta-merta menimbulkan dampak kesehatan secara langsung bagi konsumen. Logika sederhananya, beras tetap memberi energi dari karbohidratnya seperti biasa. Yang hilang hanya nilai tambah gizi mikronya. Jadi dari sudut toksikologi ini bukan otomatis berbahaya secara akut,”
ujar Dicky.
Menurutnya, sejauh informasi yang diumumkan terkait persoalan tersebut, ketidaksesuaian kandungan fortifikasi tidak dapat langsung disimpulkan sebagai kontaminasi bahan beracun.
Jika terdapat dugaan kontaminasi berbahaya, diperlukan pemeriksaan laboratorium tersendiri.
Kalau ingin memastikan ada tidaknya kontaminasi berbahaya, itu perlu uji laboratorium tersendiri yang sejauh ini belum menjadi bagian dari temuan yang diumumkan,”
tutup Dicky.






