Fenomena El Nino yang kini berada dalam kategori sangat kuat mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap sektor pertanian Indonesia. Selain memicu kekeringan, fenomena iklim itu berpotensi menggeser musim hujan.
Fenomena El Nino bisa mengubah kalender tanam petani, sehingga produksi pangan pada 2027 menghadapi risiko tekanan.
Saat ini El Nino telah memasuki fase yang mengkhawatirkan, yaitu sangat kuat. Dampak paling kuat untuk Asia Tenggara diperkirakan terjadi pada akhir 2026 dan awal 2027,”
kata Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Dwi Andreas Santosa, dalam keterangannya, Jumat, 25 September 2026.
Dwi mengatakan kondisi El Nino saat ini perlu dapat perhatian serius karena berpotensi memengaruhi pola musim di Indonesia.
Berdasarkan data National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), indeks Nino 3.4 pada 2 September 2026 mencapai +2,7°C. Angka itu masuk kategori sangat kuat dan disebut menjadi level tertinggi sejak 1950.
Menurut Dwi, salah satu dampak yang perlu diantisipasi adalah perubahan waktu datangnya musim hujan. Pergeseran tersebut bisa secara langsung memengaruhi kalender tanam petani. Hal itu terutama komoditas yang sangat bergantung pada ketersediaan air seperti padi.
Ia memperkirakan El Nino kategori sangat kuat dapat berlangsung hingga Februari 2027. Sementara itu, kondisi El Nino kuat hingga moderat berpotensi berlanjut sampai April 2027.
Musim hujan tahun ini juga diperkirakan mundur ke November atau Desember dengan curah hujan lebih rendah. Akibatnya, musim tanam pertama berpotensi bergeser dan produksi padi pada 2027 berisiko kembali tertekan,”
jelas Dwi.
Pergeseran musim tanam bisa jadi persoalan bagi petani karena keterbatasan air berpotensi mengurangi luas lahan yang bisa ditanami. Kondisi itu juga bisa berdampak terhadap waktu panen dan produktivitas tanaman.
Dwi menilai dampak El Nino terhadap sektor pertanian tak cukup dilihat dari kondisi produksi saat ini. Risiko yang muncul pada musim tanam berikutnya juga mesti jadi perhatian. Hal itu terutama jika musim hujan datang lebih lambat dan curah hujan lebih rendah dari kondisi normal.
Dalam situasi itu, petani perlu menyesuaikan pola tanam dengan perubahan kondisi iklim. Pemerintah juga perlu memastikan kesiapan petani menghadapi pergeseran musim sekaligus jaga ketersediaan air dan sarana produksi pertanian.
Risiko 2027 Tetap Mengintai
Risiko itu jadi penting karena Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menjaga ketersediaan pangan di tengah perubahan iklim.
Produksi padi pada 2025 meningkat 13,29 persen dan stok beras pemerintah berada pada level tinggi. Namun, kondisi itu dinilai belum otomatis menghilangkan risiko yang bisa muncul apabila produksi kembali terganggu pada periode berikutnya.
Dia bilang Indonesia menghadapi persoalan yang tidak sederhana.
Di satu sisi, produksi padi pada 2025 meningkat 13,29 persen dan stok beras pemerintah mencapai level tertinggi. Namun, peningkatan produksi dan besarnya stok tersebut belum berbanding lurus dengan harga beras di tingkat konsumen,”
tutur Dwi.
Menurutnya, tekanan akibat El Nino mesti diantisipasi sejak perubahan pola musim mulai terjadi. Persiapan tak hanya menyangkut produksi di tingkat petani. Namun, juga pengelolaan air, sarana produksi, kalender tanam hingga ketersediaan stok pangan pemerintah.
Ancaman itu juga tak hanya datang dari kondisi dalam negeri. Gangguan produksi di negara-negara produsen pangan lain berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap pasar pangan global.
Asia Tenggara jadi salah satu kawasan penting dalam produksi dan perdagangan beras. Negara seperti Thailand, Vietnam, dan Myanmar juga memiliki tingkat sensitivitas terhadap perubahan kondisi iklim.
Harga Beras Global
Tekanan itu tercermin dalam perkembangan harga beras dunia. Food and Agriculture Organization (FAO) dalam Rice Price Update 4 September 2026 mencatat indeks harga beras FAO meningkat dari 108,4 poin pada Juli menjadi 109,0 poin pada Agustus.
Kenaikan terutama terjadi pada beras jenis indika. Indeks harganya naik dari 110,8 poin menjadi 112,2 poin.
Menurut Dwi, kondisi itu menunjukkan dampak El Nino terhadap sektor pertanian dapat merambat lebih jauh. Gangguan produksi di tingkat lahan berpotensi mengganggu rantai pasok dan pada akhirnya memengaruhi ketersediaan serta harga pangan.
Karena itu, penguatan ketahanan sektor pertanian dinilai penting untuk menghadapi potensi dampak El Nino hingga 2027. Antisipasi perlu dilakukan dengan memperhitungkan perubahan kalender tanam, ketersediaan air, kapasitas produksi pangan, hingga pengelolaan stok pemerintah.
Langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi agar tekanan iklim dan pasar pangan tidak berkembang menjadi gangguan pangan yang lebih luas,”
ujarnya.






