Mereka kemudian dibawa petugas ke Mapolda Metro Jaya dengan alasan pendataan dan menjelaskan kronologi pembentangan spanduk protes di Patung Bundaran HI.
Meski demikian, mereka masih tertahan di kantor polisi selama lebih dari enam jam.
(Alasannya) hanya ada pendataan dan penulisan kronologi. Menurut polisi itu pendataan, dan sekarang masih menunggu Krimsus,”
kata Daniel.
Padahal, kondisi salah satu aktivis Greenpeace sempat memprihatinkan karena kelelahan dan membutuhkan istirahat.
LBH mendesak agar kepolisian segera membebaskan keenam aktivis Greenpeace agar mereka dapat beristirahat di rumah masing-masing.
Membentangkan Spanduk
Diberitakan sebelumnya, aktivis Greenpeace membentangkan spanduk bertuliskan “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup” yang menghadap ke arah Istana Merdeka di utara, sementara spanduk lainnya bertuliskan “Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?” menghadap ke selatan Bundaran Hotel Indonesia.
Aksi kreatif yang dibentangkan di tengah-tengah jantung ibu kota tersebut mengundang perhatian banyak masyarakat, termasuk TNI dan Polri yang langsung bersiaga di lokasi.
Juru Kampanye Keadilan Iklim Greenpeace Indonesia, Jeanny Sirait, menjelaskan bahwa aksi kreatif tersebut dilakukan sebagai bentuk protes terhadap pemerintah yang dianggap abai terhadap krisis iklim yang belakangan terjadi.
Menurutnya, jutaan warga dipaksa bertahan hidup kala bencana mulai dari banjir bandang yang melanda Sumatera, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap berkepanjangan, hingga cuaca ekstrem.
Di tengah kondisi itu, masyarakat semakin terhimpit oleh kenaikan biaya hidup dan ketidakpastian pekerjaan, termasuk gelombang pemutusan hubungan kerja.