Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Nasional

70 Ribu Balita Kena ISPA Akibat Karhutla, Puan Minta Pengobatan Gratis

Puan Maharani menyoroti dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah menyebabkan lebih dari 70 ribu balita terserang infeksi saluran pernapasan akut

Petugas kesehatan memeriksa tekanan darah pasien yang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Posko Layanan Kesehatan Gratis bagi warga terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kertapati, Palembang, Sumatera Selatan
Petugas kesehatan memeriksa tekanan darah pasien yang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Posko Layanan Kesehatan Gratis bagi warga terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kertapati, Palembang, Sumatera Selatan (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/tom)

Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah menyebabkan lebih dari 70 ribu balita terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 17 Oktober 2026, tercatat 311.363 kasus ISPA di tujuh provinsi terdampak karhutla. Sebanyak 70.239 kasus di antaranya dialami anak berusia di bawah lima tahun.

Puan meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk melindungi kelompok paling rentan tersebut.

Iklan

Bagi orang tua, anak yang mengalami gangguan kesehatan, termasuk masalah pernapasan menghadirkan kecemasan yang sangat dekat dan mendesak,”

kata Puan Maharani, Rabu, 21 Oktober 2026.

Terserang ISPA

Puan menilai, besarnya jumlah balita yang terserang ISPA harus menjadi perhatian serius pemerintah. Penanganan karhutla tidak boleh berhenti pada pemadaman api, tetapi harus dilanjutkan dengan upaya melindungi masyarakat dari paparan kabut asap.

Pemerintah perlu menjawab keadaan tersebut dengan keputusan yang memberi kepastian bahwa keselamatan anak mendapat perhatian penuh dan dukungan tersedia selama dibutuhkan,”

tuturnya.

Menurut Puan, anak-anak membutuhkan lingkungan yang aman agar dapat kembali beraktivitas tanpa terganggu masalah kesehatan akibat asap.

Karena itu, pemerintah perlu memastikan penanganan karhutla berorientasi pada keselamatan masyarakat, terutama anak-anak.

Selain proses pemadaman api yang masif, Pemerintah perlu menempatkan perlindungan anak sebagai tujuan bersama dalam penanganan karhutla. Perlindungan anak dari kabut asap yang ditimbulkan karhutla harus menjadi komitmen nasional,”

tegasnya.

Puan juga meminta pemerintah pusat dan daerah memastikan dukungan kesehatan tetap tersedia hingga masa pemulihan.

Sebab, membaiknya kondisi udara tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan pengobatan bagi anak yang sudah mengalami gangguan kesehatan.

Laporan kasus pada balita yang cukup banyak perlu diikuti komitmen yang berlanjut sampai masa pemulihan,”

paparnya.

Kelompok Lansia

Selain balita, kelompok lanjut usia juga menghadapi risiko kesehatan akibat karhutla. Kementerian Kesehatan mencatat 49.634 kasus ISPA pada kelompok lansia.

Sementara itu, karhutla dilaporkan terjadi di 65 kabupaten/kota yang tersebar di Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.

Puan meminta pemerintah memberikan intervensi kesehatan bagi masyarakat terdampak, termasuk memastikan fasilitas kesehatan memiliki peralatan medis yang memadai.

Ia juga menekankan agar biaya pengobatan tidak menambah beban keluarga yang sudah terdampak bencana.

Jangan sampai para korban karhutla ini menanggung beban ganda. Pastikan layanan BPJS bagi masyarakat terdampak tidak ada hambatan,”

pesan Puan.

Ia menambahkan, orang tua yang anaknya sakit akibat paparan asap juga membutuhkan pendampingan. Dukungan serupa perlu diberikan kepada tenaga kesehatan, petugas, dan relawan yang terus membantu penanganan karhutla di lapangan.

Dan tentunya perlindungan anak yang tetap terjaga sepanjang penanganan karhutla harus menjadi komitmen kita bersama. Kita mempunyai tanggung jawab untuk menjaga masa depan anak-anak,”

tambahnya.

Puan mengatakan pimpinan DPR akan menghimpun hasil pengawasan komisi-komisi terkait untuk mengawal kebijakan dan dukungan pemerintah dalam mengatasi karhutla.

Ia juga mendorong pemerintah mendengar pengalaman keluarga terdampak agar bantuan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Risiko Lost Generation

Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) sebelumnya mengingatkan risiko lost generation atau hilangnya potensi satu generasi akibat paparan asap berulang yang dapat memengaruhi kecerdasan, produktivitas, dan kualitas hidup anak.

Dalam laporan Karhutla 2026: From Situation Analysis to Action Plan, paparan asap dari bencana karhutla 1997 dikaitkan dengan dampak jangka panjang terhadap anak.

Laporan tersebut menyebut janin dan anak yang terpapar tumbuh 3,3 sentimeter lebih pendek pada usia 17 tahun. Bencana yang sama juga dilaporkan mengakibatkan 15.600 kematian bayi.

Puan mengingatkan, anak-anak merupakan kelompok yang rentan dalam situasi bencana sehingga membutuhkan pertolongan orang dewasa, terutama ketika menghadapi krisis kesehatan.

Ia meminta pemerintah memberikan informasi yang jelas mengenai kondisi anak terdampak dan langkah pemulihan, tanpa membuat kesimpulan tentang masa depan mereka yang belum didukung pemeriksaan.

Pemerintah juga perlu memberi pendampingan dan bantuan kepada para orang tua yang anaknya sakit akibat paparan kabut asap. Kemudian dukungan untuk tenaga kesehatan, serta petugas dan relawan yang terus membantu penanganan karhutla,”

tandasnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Rika Pangesti adalah reporter di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu megapolitan dan berita nasional. Berlatar pendidikan Magister Ilmu

  • Editor

    Editor berita di OWRITE Media, meliput pemberitaan gaya hidup dan Peristiwa.