Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Nasional

Pakar Sebut Keberhasilan MBG Tak Cukup Diukur dari Jumlah Penerima

Keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak cukup diukur dari jumlah penerima manfaat.

Petugas menyiapkan paket makanan bergizi gratis di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Bogor, Bogor Barat Pasir Kuda 01, Jawa Barat
Petugas menyiapkan paket makanan bergizi gratis di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Bogor, Bogor Barat Pasir Kuda 01, Jawa Barat (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/nz)

Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII), Made Natasya Restu Dewi Pratiwi, menilai keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak cukup diukur dari jumlah penerima manfaat.

Pemerintah perlu memastikan makanan yang dibagikan memenuhi standar keamanan pangan dan kualitas gizi.

Menurut Natasya, aspek keselamatan penerima harus menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan program tersebut.

Iklan

Sebab, program yang bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia justru berisiko menimbulkan masalah apabila makanan yang disediakan tidak memenuhi standar.

Pemerintah harus memastikan bahwa makanan yang dibagikan aman, bergizi, dan menjangkau kelompok yang membutuhkan atau berisiko, seperti pada kelompok sosial ekonomi ke bawah hingga individu yang mengalami permasalahan gizi buruk,”

kata Natasya dalam keterangan resmi yang diterima Owrite Kamis 22 Oktober 2026..

Sesuai Standar

Ia menilai pengawasan keamanan pangan dan kualitas gizi perlu dilakukan secara konsisten. Badan Gizi Nasional (BGN), Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), DPR RI, serta pemerintah daerah perlu memastikan penyediaan makanan sesuai standar yang ditetapkan.

Pengawasan tersebut juga perlu mencakup komposisi menu, termasuk pembatasan pangan ultra-proses yang tinggi gula, garam, dan lemak apabila tidak sejalan dengan tujuan perbaikan gizi.

Selain memastikan makanan aman dikonsumsi, pemerintah perlu memperjelas pertanggungjawaban apabila terjadi keracunan pangan.

Penanganan korban, pembagian tanggung jawab, dan evaluasi terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tidak memenuhi standar dinilai perlu menjadi bagian dari tata kelola program.

Natasya menegaskan, program MBG harus menempatkan kualitas dan keselamatan sebagai ukuran utama, bukan hanya banyaknya makanan yang didistribusikan.

Keberhasilan program sosial harus diukur dari kemampuannya menjawab kebutuhan masyarakat, mengurangi ketimpangan, dan menjamin keberlanjutan akses terhadap layanan dasar secara inklusif dan berkeadilan,”

tandasnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.

  • Editor

    Editor berita di OWRITE Media, meliput pemberitaan gaya hidup dan Peristiwa.