Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid, mengatakan bahwa gelombang unjuk rasa di berbagai wilayah seperti Banda Aceh, Jambi, Jakarta, Makassar, Pontianak, Samarinda, hingga Jayapura merupakan wujud nyata krisis Hak Asasi Manusia (HAM) akibat karhutla.
Namun, alih-alih mendengarkan aspirasi warga, negara justru abai dan represif.
“Alih-alih mendengarkan aspirasi mereka, negara justru kembali mempertontonkan wajah represifnya. Gelombang demonstrasi dalam sepekan terakhir di berbagai penjuru daerah, mulai dari Banda Aceh, Jambi, Jakarta, Makassar, Pontianak, Samarinda, hingga Jayapura, merupakan wujud nyata dari krisis Hak Asasi Manusia (HAM) akibat karhutla,”
kata Usman dalam keterangan tertulis, pada Jumat, 23 Oktober 2026.
Amnesty mencatat sejumlah bentuk kekerasan aparat di lapangan, mulai dari pemukulan menggunakan pentungan di Gorontalo, penembakan gas air mata di Jambi dan Pontianak, hingga penyemprotan meriam air serta penurunan paksa spanduk Greenpeace Indonesia di Jakarta.






