Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Nasional

Pakar Soroti Akuntabilitas Anggaran Karhutla, Minta Pencegahan Tidak Dianaktirikan

Pengeluaran pemerintah tidak cukup hanya dilihat dari besarnya dana yang dialokasikan atau terserap, tetapi juga dari efektivitas program dalam mencegah kebakaran dan mengurangi dampaknya.

Prajurit TNI Angkatan Udara berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di lahan gambut, Kota Banjar Baru, Kalimantan Selatan
Prajurit TNI Angkatan Udara berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di lahan gambut, Kota Banjar Baru, Kalimantan Selatan (ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/wsj.)

Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute (TII), Made Natasya Restu Dewi Pratiwi, menilai penggunaan anggaran perlu dievaluasi berdasarkan manfaat nyata yang diterima masyarakat.

Pengeluaran pemerintah tidak cukup hanya dilihat dari besarnya dana yang dialokasikan atau terserap, tetapi juga dari efektivitas program dalam mencegah kebakaran dan mengurangi dampaknya.

“Akuntabilitas anggaran menjadi bagian penting dari upaya tersebut,”

ujar Natasya dalam keterangan tertulis, Rabu, 28 Oktober 2026.

Menurutnya, anggaran pencegahan perlu diarahkan untuk memperkuat patroli, kesiapan personel, peralatan pemadaman, serta kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko kebakaran.

Iklan

Langkah ini penting agar penanganan tidak semata-mata bergantung pada respons setelah api meluas.

Penanganan Darurat

Natasya juga menekankan pentingnya membedakan kebutuhan anggaran pencegahan dan penanganan darurat.

Keduanya harus saling mendukung, tetapi memiliki sasaran yang berbeda, mulai dari menekan risiko kebakaran hingga memenuhi kebutuhan warga yang sudah terdampak.

“Anggaran pencegahan perlu memperkuat patroli, kesiapan personel, peralatan pemadaman, dan kapasitas masyarakat,”

katanya.

Di sisi lain, anggaran penanganan harus memastikan masyarakat memperoleh bantuan kebutuhan dasar dan layanan kesehatan secara cepat.

Penyaluran bantuan menjadi bagian penting dari evaluasi karena dampak karhutla tidak berhenti ketika proses pemadaman berlangsung.

“Sementara, anggaran penanganan harus memastikan bantuan kebutuhan dasar dan layanan kesehatan tersalurkan secara cepat kepada warga terdampak,”

jelas Natasya.

Ia juga menegaskan, pengawasan penggunaan anggaran harus berorientasi pada hasil yang dapat dirasakan masyarakat, bukan sekadar pemenuhan administrasi program.

“Penggunaan anggaran perlu diawasi dan dievaluasi berdasarkan manfaat nyata bagi masyarakat,”

tegasnya.

Dorongan TII tersebut menempatkan evaluasi anggaran sebagai bagian dari upaya memperbaiki tata kelola karhutla.

“Pemerintah perlu memastikan setiap program memiliki sasaran yang jelas, pelaksanaan yang terukur, serta hasil yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik,”

tandasnya.

Iklan