Kepala Pemandu Bakat (Head of Scouting) Timnas Indonesia, Simon Tahamata, menyampaikan evaluasi tegas kepada para pemain muda setelah Timnas U-17 Indonesia menelan dua kekalahan beruntun dalam laga uji coba melawan China.
Dua pertandingan tersebut berlangsung di Stadion Indomilk Arena, Tangerang, pada 8 dan 11 Februari 2026. Pada laga pertama, Garuda Asia harus mengakui keunggulan lawan dengan skor telak 0-7.
Dalam pertandingan pertama, skuad asuhan Nova Arianto kebobolan empat gol di babak pertama. Situasi semakin sulit di babak kedua karena tim kesulitan mengembangkan permainan dan kembali kebobolan tiga gol tambahan.
Pertandingan pertama tidak bagus,”
ujar Simon Tahamata kepada awak media di GBK Arena, Senayan, Jakarta, Jumat 13 Februari 2026.
Menurutnya, permainan tim saat itu belum berjalan sesuai rencana, baik dari segi organisasi permainan maupun mental bertanding.
Perkembangan Positif di Laga Kedua
Meski kembali kalah pada laga kedua dengan skor 2-3, Simon melihat adanya peningkatan signifikan dalam performa tim.
Pada pertandingan tersebut, Timnas U-17 Indonesia mampu memberikan perlawanan sengit dan bahkan sempat menyamakan kedudukan sebelum akhirnya kebobolan di masa injury time.
Yang kedua saya senang. Apa yang Coach Nova sampaikan untuk mereka, itu pemain bisa jalankan. Tidak usah khawatir, nanti bisa bagus,”
kata Simon Tahamata.
Legenda AFC Ajax itu mengakui sempat terkejut dengan kualitas permainan lawan, namun ia menegaskan bahwa China memang memiliki tim yang solid.
Ya. Anda jangan lupa, Cina punya keseblasan paling bagus. Mereka bisa kontrol (permainan). Dan apa yang Coach Nova sampaikan kepada mereka, semua terjadi. Hasilnya bagus, kan. Sekarang memang harus dikejar terus,”
ucapnya.
Jangan Takut Satu Lawan Satu
Usai dua kekalahan tersebut, Simon memberikan catatan penting untuk para pemain, khususnya pemain sayap. Ia menilai masih ada rasa ragu saat menghadapi duel satu lawan satu.
Saya bilang, yang penting sekarang pemain yang bermain di sayap kiri atau sayap kanan, harus berani satu lawan satu. Jangan khawatir, berani. Hilang bola di depan, ada sembilan, ada tujuh orang di belakang kamu. Boleh hilang bola. Dan itu musti diajarkan dari situ, kenapa, bagaimana saya kehilangan bola,”
ucap Simon.
Menurut Simon, keberanian dalam duel individu merupakan kunci untuk meningkatkan kualitas permainan tim, terutama di level internasional.
Sebagai mantan pemain sayap, Simon mencontohkan bagaimana dirinya selalu berani menghadapi lawan secara langsung ketika masih aktif bermain.
Saya sendiri bermain di sayap kiri, kalau di bola saya cari lawan. Saya jarang putar, saya cari lawan. Kamu harus berani. Mereka baru berumur 16. Jangan terlalu menekan mereka. Mereka masih punya waktu,”
pungkasnya.

