Isu yang menyebut Persija Jakarta sebagai klub “Anak Papa” kembali mencuat dalam kompetisi BRI Super League musim 2025/2026.
Tuduhan tersebut langsung mendapat tanggapan dari Direktur Olahraga Persija, Bambang Pamungkas.
Pria yang akrab disapa Bepe itu menilai julukan tersebut bukanlah hal baru. Menurutnya, isu tersebut sudah lama beredar bahkan sejak dirinya masih aktif bermain di kompetisi sepak bola nasional.
Bambang Pamungkas menegaskan dirinya tidak ingin terlalu menanggapi tuduhan tersebut karena dianggap sudah usang.
Saya gak mau jawab masalah itu ya. Karena rasanya apa ya julukan Anak Papa itu (sudah ada) sejak saya masih main, jadi sudah terlalu expired untuk dijawab,”
kata Bepe dalam acara Ngopi Bareng Persija di Kuningan Jakarta, Selasa 10 Maret 2026.
Isu Muncul Jelang Laga Borneo FC vs Persija
Sebelumnya, manajer Borneo FC, Dandri Dauri, sempat menyebut adanya klub yang dianggap mendapat keistimewaan di kompetisi Super League dan menyebutnya sebagai “anak papa”.
Pernyataan tersebut disampaikan menjelang pertandingan antara Borneo FC melawan Persija Jakarta yang digelar di Jakarta International Stadium pada Selasa, 3 Maret lalu.
Selain Bambang Pamungkas, Ketua Umum The Jakmania, Diky Soemarno, juga menolak keras tuduhan bahwa Persija merupakan klub yang diperlakukan secara khusus di Liga Indonesia.
Menurut Diky, tuduhan tersebut tidak berdasar karena hingga kini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Persija mendapatkan perlakuan istimewa dalam kompetisi.
Jakmania Sebut Tuduhan Itu Fitnah
Diky menegaskan bahwa isu mengenai Persija sebagai ‘anak papa’ hanyalah fitnah yang dapat memicu perpecahan di kalangan suporter sepak bola Indonesia.
Kalau saya sih ‘anak papa’, ‘anak ayah’, ‘anak babeh’, ‘anak bapak’, semua sama saja, kita semua punya orang tua yang pasti. Tapi yang jelas gini, sekali lagi jangan kita menggiring opini terhadap sesuatu yang bisa memecah belah kesatuan, keadilan sepak bola Indonesia. Kalau memang ada buktinya, silakan dibuktikan,”
Diky juga mengingatkan bahwa isu seperti ini berpotensi memperbesar konflik di antara suporter jika terus digiring menjadi perdebatan.
Sudahlah, jangan terlalu menyangkutpautkan segala sesuatunya, nanti kalau ada isu yang serupa dengan hal-hal seperti ini akan jadi makin melebar. Artinya, suporter ini jadi saling terpecah. Jadi, mereka ributnya, energinya habis bukan untuk kreativitas. Tapi, saling berdebat argumen satu sama lain,”
tambahnya.

