Kapten Persib Bandung, Marc Klok, akhirnya memberikan klarifikasi terkait tuduhan tindakan rasis yang diarahkan kepadanya oleh pihak Bhayangkara Presisi Lampung FC.
Terkait tuduhan itu, Klok menegaskan bahwa hal tersebut tidak benar. Ia juga mengaku tudingan tersebut sangat merugikan reputasinya sebagai pemain profesional.
“Saya dengan tegas membantah tuduhan rasisme yang ditujukan kepada saya. Penyebaran informasi yang tidak benar mengenai sesuatu yang tidak pernah terjadi merupakan hal yang tidak dapat diterima dan merugikan nama baik saya,”
ujar Klok dalam keterangan resminya di instagram @marcklok.
Dalam pernyataannya, Klok menegaskan bahwa sepanjang kariernya ia selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kesetaraan dan anti-rasisme.
“Sepanjang hidup, saya selalu menjunjung tinggi nilai rasa hormat, kesetaraan, profesionalisme, dan anti-rasisme. Sepanjang karier saya, saya telah berbagi ruang ganti dengan pemain dari berbagai latar belakang, budaya, dan kebangsaan,”
buka Klok.
Ia juga menyebut bahwa orang-orang di sekitarnya memahami karakter dan prinsip yang selama ini ia pegang.
“Rasa hormat selalu menjadi nilai utama bagi saya, baik di dalam maupun di luar lapangan. Orang-orang yang mengenal saya, termasuk rekan setim, pelatih, dan orang-orang terdekat, mengetahui siapa saya dan nilai-nilai yang saya pegang,”
kata Klok.
Sebagai kapten tim, Klok mengaku selalu berusaha menjadi contoh yang baik, baik di dalam maupun di luar lapangan.
“Satu hal yang pasti, saya selalu memimpin dengan memberi teladan. Saya telah berbicara dengan beberapa pihak dari Bhayangkara Presisi Lampung FC, baik selama maupun setelah pertandingan, untuk memahami situasi yang terjadi serta mengklarifikasinya dengan sikap hormat dan tenang,”
imbuhnya.
Kronologi Versi Marc Klok di Lapangan
Klok kemudian menjelaskan kronologi insiden yang terjadi dengan striker Bhayangkara FC, Henri Doumbia. Menurutnya, momen tersebut terjadi setelah Persib mencetak gol dan ia meminta bola agar pertandingan bisa segera dilanjutkan.
“Saat kami mencetak gol menjadi 2-1, Henri Doumbia menahan bola alih-alih melanjutkan kick-off. Kami berusaha segera melanjutkan permainan untuk mengejar ketertinggalan. Saya mengatakan dengan jelas kepadanya, “Give me the ball back.”,”
tegasnya.
Klok mengungkapkan bahwa setelah terjadi adu argumen, situasi sebenarnya sudah diselesaikan di lapangan.
“Kami kemudian membicarakan hal tersebut. Ia meminta maaf kepada saya karena sebelumnya mengira saya mengatakan kata “black”. la mengakui kesalahpahaman tersebut, begitu pula rekan-rekan setimnya dan pelatih mereka, yang memiliki hubungan baik dengan saya,”
kata Klok.
Namun, ia menyayangkan pernyataan resmi Bhayangkara FC yang dinilai memperkeruh suasana. Klok juga menyinggung peran manajemen Bhayangkara FC, khususnya Sumardji, yang menurutnya terus melontarkan tuduhan rasis.
“Namun, manajer mereka, Sumardji, yang tidak berada di dekat lapangan, terus menyebut saya sebagai rasis, baik di dalam lorong stadion, dekat ruang ganti, maupun di lapangan setelah pertandingan. Saya telah memintanya untuk berhenti dan menyampaikan bahwa saya merasa terluka atas tuduhan yang tidak benar tersebut,”
jelas Klok.
Ia menilai situasi tersebut sudah melewati batas dan tidak lagi mencerminkan semangat olahraga. Di akhir pernyataannya, Klok berharap adanya penyelesaian yang adil, termasuk permintaan maaf dari pihak Bhayangkara FC.
“Saya menilai perilaku ini telah melampaui batas sepak bola dan esensi dari permainan ini. Saya mengharapkan adanya permintaan maaf resmi dari Bhayangkara Presisi Lampung FC atas kekeliruan dan kesalahpahaman yang merugikan nama saya, serta atas penyebaran tuduhan yang tidak benar.”
tutupnya.

