Operator liga itu pun meminta aparat kepolisian dan penegak hukum menyelidiki kejadian tersebut hingga tuntas.
Pelaku harus mendapatkan hukuman yang tegas dan setimpal dengan perbuatannya. Penegakan hukum yang serius diperlukan agar kejadian serupa tidak kembali terulang,”
tulis I.League, Senin 12 Oktober 2026.
Ditindak Tegas
I.League menilai insiden di Rest Area Batang tersebut perlu ditangani secara serius melalui proses hukum. Penyelidikan diharapkan dapat mengungkap kronologi kejadian sekaligus memastikan pihak yang terbukti terlibat mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Penegakan hukum juga dinilai penting untuk mencegah terulangnya kekerasan serupa dalam lingkungan sepak bola Indonesia.
Menurut I.League, rivalitas antarsuporter seharusnya tidak berujung pada tindakan yang membahayakan keselamatan orang lain, terlebih ketika insiden tersebut melibatkan rombongan pemain usia muda yang sedang menjalani proses pembinaan.
Selain menyoroti aspek hukum, I.League turut mengingatkan dampak insiden tersebut terhadap kondisi mental para pemain muda yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Pengalaman menyaksikan atau berada di tengah situasi kekerasan berpotensi menimbulkan rasa takut dan tekanan psikologis bagi pemain yang masih berada dalam tahap perkembangan.
Para pemain usia muda seharusnya dapat menjalani proses pembinaan dan meniti perjalanan karier sepak bola dalam lingkungan yang aman dan mendukung. Mereka tidak sepatutnya menjadi korban,”
tulis I.League.
I.League menekankan bahwa keamanan harus menjadi bagian penting dalam proses pembinaan sepak bola. Para pemain muda perlu mendapatkan lingkungan yang mendukung agar dapat berkembang tanpa dibayangi ancaman kekerasan.
Ingatkan Suporter
I.League juga mengingatkan bahwa kecintaan terhadap klub tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk melakukan tindakan yang melanggar hukum.
Dukungan terhadap tim semestinya disalurkan melalui cara yang positif, bukan melalui penyerangan, intimidasi, perusakan, ataupun tindakan yang merugikan pihak lain.
Dukungan dan kecintaan terhadap klub tidak boleh dijadikan pembenaran untuk melakukan penyerangan, intimidasi, perusakan, maupun tindakan yang merugikan orang lain,”
tulis I.League.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa rivalitas dalam sepak bola perlu dijalankan dengan tetap menghormati keselamatan dan hak orang lain.
Kronologi Penyerangan
Insiden yang menimpa rombongan EPA Persib U-18 dilaporkan terjadi pada Minggu 11 Oktober 2026, sekitar pukul 21.30 WIB. Saat itu, rombongan sedang dalam perjalanan pulang setelah menghadapi Garuda United di Stadion UNS, Surakarta.
Dalam kejadian tersebut, bus rombongan mengalami kerusakan dan seorang personel media Persib dilaporkan menjadi korban kekerasan fisik. Sejumlah koper milik ofisial tim juga diduga dijarah.
Berdasarkan informasi awal, dugaan keterlibatan mengarah kepada oknum suporter Persija Jakarta. Namun, dugaan tersebut masih memerlukan pembuktian melalui penyelidikan aparat berwenang.
Hingga informasi dalam laporan sumber disampaikan, pihak keamanan masih melakukan penelusuran untuk mengidentifikasi orang-orang yang diduga terlibat dalam penyerangan.
Kasus penyerangan bus EPA Persib U-18 kembali menyoroti pentingnya keamanan dalam perjalanan tim sepak bola, khususnya kelompok usia muda yang mengikuti kompetisi pembinaan.
I.League meminta penanganan kasus dilakukan secara serius agar fakta kejadian dapat terungkap dan pihak yang terbukti bersalah diproses sesuai ketentuan hukum.
Di sisi lain, seluruh elemen sepak bola diharapkan ikut menjaga situasi tetap kondusif serta menghindari aksi balasan. Dengan penanganan yang tepat dan komitmen bersama untuk menolak kekerasan, lingkungan sepak bola yang aman bagi pemain, ofisial, dan suporter dapat terus diperkuat.
Operator kompetisi sepak bola Indonesia, I.League, mengecam insiden penyerangan terhadap bus rombongan Elite Pro Academy (EPA) Persib Bandung U-18 di Rest Area KM 360, Batang, Jawa Tengah, Minggu 11 Oktober 2026.
Peristiwa tersebut dilaporkan mengakibatkan seorang personel media Persib mengalami kekerasan fisik. Selain itu, kendaraan yang membawa rombongan mengalami kerusakan, sementara sejumlah koper milik ofisial tim diduga dijarah.
I.League menegaskan bahwa tindakan kekerasan yang mengarah pada tindak kriminal tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun. Operator liga itu pun meminta aparat kepolisian dan penegak hukum menyelidiki kejadian tersebut hingga tuntas.
Pelaku harus mendapatkan hukuman yang tegas dan setimpal dengan perbuatannya. Penegakan hukum yang serius diperlukan agar kejadian serupa tidak kembali terulang,”
tulis I.League, Senin 12 Oktober 2026.
Pelaku Ditindak Tegas
I.League menilai insiden di Rest Area Batang tersebut perlu ditangani secara serius melalui proses hukum. Penyelidikan diharapkan dapat mengungkap kronologi kejadian sekaligus memastikan pihak yang terbukti terlibat mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Penegakan hukum juga dinilai penting untuk mencegah terulangnya kekerasan serupa dalam lingkungan sepak bola Indonesia.
Menurut I.League, rivalitas antarsuporter seharusnya tidak berujung pada tindakan yang membahayakan keselamatan orang lain, terlebih ketika insiden tersebut melibatkan rombongan pemain usia muda yang sedang menjalani proses pembinaan.
Selain menyoroti aspek hukum, I.League turut mengingatkan dampak insiden tersebut terhadap kondisi mental para pemain muda yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Pengalaman menyaksikan atau berada di tengah situasi kekerasan berpotensi menimbulkan rasa takut dan tekanan psikologis bagi pemain yang masih berada dalam tahap perkembangan.
Para pemain usia muda seharusnya dapat menjalani proses pembinaan dan meniti perjalanan karier sepak bola dalam lingkungan yang aman dan mendukung. Mereka tidak sepatutnya menjadi korban,”
tulis I.League.
I.League menekankan bahwa keamanan harus menjadi bagian penting dalam proses pembinaan sepak bola. Para pemain muda perlu mendapatkan lingkungan yang mendukung agar dapat berkembang tanpa dibayangi ancaman kekerasan.
Ingatkan Suporter
I.League juga mengingatkan bahwa kecintaan terhadap klub tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk melakukan tindakan yang melanggar hukum.
Dukungan terhadap tim semestinya disalurkan melalui cara yang positif, bukan melalui penyerangan, intimidasi, perusakan, ataupun tindakan yang merugikan pihak lain.
Dukungan dan kecintaan terhadap klub tidak boleh dijadikan pembenaran untuk melakukan penyerangan, intimidasi, perusakan, maupun tindakan yang merugikan orang lain,”
tulis I.League.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa rivalitas dalam sepak bola perlu dijalankan dengan tetap menghormati keselamatan dan hak orang lain.
Kronologi Penyerangan Bus
Insiden yang menimpa rombongan EPA Persib U-18 dilaporkan terjadi pada Minggu 11 Oktober 2026, sekitar pukul 21.30 WIB. Saat itu, rombongan sedang dalam perjalanan pulang setelah menghadapi Garuda United di Stadion UNS, Surakarta.
Dalam kejadian tersebut, bus rombongan mengalami kerusakan dan seorang personel media Persib dilaporkan menjadi korban kekerasan fisik. Sejumlah koper milik ofisial tim juga diduga dijarah.
Berdasarkan informasi awal, dugaan keterlibatan mengarah kepada oknum suporter Persija Jakarta. Namun, dugaan tersebut masih memerlukan pembuktian melalui penyelidikan aparat berwenang.
Hingga informasi dalam laporan sumber disampaikan, pihak keamanan masih melakukan penelusuran untuk mengidentifikasi orang-orang yang diduga terlibat dalam penyerangan.
Kasus penyerangan bus EPA Persib U-18 kembali menyoroti pentingnya keamanan dalam perjalanan tim sepak bola, khususnya kelompok usia muda yang mengikuti kompetisi pembinaan.
I.League meminta penanganan kasus dilakukan secara serius agar fakta kejadian dapat terungkap dan pihak yang terbukti bersalah diproses sesuai ketentuan hukum.
Di sisi lain, seluruh elemen sepak bola diharapkan ikut menjaga situasi tetap kondusif serta menghindari aksi balasan.
Dengan penanganan yang tepat dan komitmen bersama untuk menolak kekerasan, lingkungan sepak bola yang aman bagi pemain, ofisial, dan suporter dapat terus diperkuat.