Dari perspektif manapun, kejadian semalam jelas salah. Kami sedang terus mengidentifikasi siapa yang melakukan,”
ujar Muhammad Aditya Putra dikutip dari laman X-nya pada Senin 12 Oktober 2026.
Terkait penanganan kasus tersebut, Aditya menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada pihak berwenang.
Ia berharap insiden ini dapat ditangani sesuai aturan yang berlaku dan pihak yang terbukti bersalah mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Untuk selanjutnya, kami menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada yang berwenang. Mohon maaf atas apa yang terjadi,”
lanjutnya.
Pernyataan Muhammad Aditya Putra muncul setelah insiden yang melibatkan rombongan EPA Persib di Rest Area Batang menjadi perhatian publik.
Permintaan maaf tersebut disampaikan bersamaan dengan upaya mengidentifikasi pihak-pihak yang diduga terlibat.
Aditya menegaskan bahwa kejadian tersebut merupakan tindakan yang salah. Ia juga menyatakan bahwa proses penanganan selanjutnya harus mengikuti jalur hukum, bukan diselesaikan melalui tindakan sepihak.
Sikap tersebut menjadi penting di tengah rivalitas suporter sepak bola Indonesia. Penanganan yang sesuai prosedur diharapkan dapat membantu mengungkap fakta dan mencegah munculnya aksi balasan yang berpotensi memperburuk keadaan.
Kronologi Penyerangan
Sebelumnya, rombongan EPA Persib Bandung dilaporkan mengalami penyerangan di Rest Area Batang KM 360, Jawa Tengah, pada Minggu 11 Oktober 2026 sekitar pukul 21.30 WIB.
Saat kejadian, rombongan tersebut sedang dalam perjalanan kembali ke Bandung setelah menyelesaikan kegiatan Elite Pro Academy di Solo.
Berdasarkan informasi awal, mereka berpapasan dengan rombongan suporter Persija Jakarta yang sedang dalam perjalanan pulang setelah mendukung timnya bertanding di Yogyakarta.
Meski demikian, dugaan keterlibatan rombongan suporter tersebut masih perlu dipastikan melalui penyelidikan lebih lanjut.
Akibat insiden itu, bus yang membawa rombongan EPA Persib dilaporkan mengalami kerusakan. Sejumlah koper milik ofisial dan tim EPA Persib U-18 juga dilaporkan hilang atau dijarah.
Insiden tersebut turut berdampak pada Pandu Persada, Media Officer PT Persib Bandung Bermartabat. Ia dilaporkan mengalami kekerasan fisik oleh sejumlah orang yang diduga terlibat dalam penyerangan.
Dalam situasi yang tidak kondusif, Pandu sempat berlindung di sebuah tempat tambal ban di kawasan rest area untuk menghindari ancaman lebih lanjut.
Peristiwa tersebut menambah perhatian terhadap keselamatan rombongan tim muda dan ofisial klub yang melakukan perjalanan darat setelah menjalani kegiatan kompetisi.
Diproses Secara Hukum
Manajemen Persib Bandung telah mengecam penyerangan yang menimpa rombongan EPA mereka. Klub meminta agar kasus tersebut ditangani secara serius dan objektif melalui jalur hukum.
Persib juga mengimbau seluruh pihak, termasuk para pendukung sepak bola, untuk menahan diri dan tidak melakukan aksi balasan. Langkah ini diharapkan dapat mencegah eskalasi konflik di tengah rivalitas antarsuporter.
Di sisi lain, proses identifikasi terhadap pihak yang diduga terlibat dan pengumpulan keterangan menjadi bagian penting untuk mengungkap kronologi kejadian secara menyeluruh.
Penyerangan terhadap rombongan EPA Persib di Rest Area Batang kembali menyoroti persoalan keselamatan dalam rivalitas suporter sepak bola Indonesia.
Penanganan melalui jalur hukum diharapkan dapat mengungkap fakta secara objektif serta memastikan pihak yang terbukti bertanggung jawab diproses sesuai ketentuan yang berlaku.
Seluruh pihak juga diharapkan menjaga situasi tetap kondusif dan tidak memperkeruh keadaan dengan tindakan balasan.