Pada matchday kedua, Como mesti mengakui keunggulan Feyenoord dengan skor 2-3. Sementara itu, Manchester United juga gagal meraih hasil positif setelah takluk 0-2 dari Atletico Madrid.
Waspadai Serangan Balik
Meski kedua tim sama-sama datang dengan modal kekalahan, situasi Como di kompetisi domestik terbilang lebih baik dibandingkan Manchester United.
Como masih mampu bersaing di papan atas Liga Italia dengan menempati posisi kelima klasemen.
Sebaliknya, Manchester United masih kesulitan menemukan konsistensi di Premier League. Performa yang belum stabil membuat klub berjuluk The Red Devils tersebut terlempar ke peringkat ke-13.
Namun, Fabregas menilai posisi Manchester United di klasemen bukan alasan untuk menganggap lawannya sedang kehilangan kekuatan. Ia justru menyoroti kemampuan MU dalam melancarkan serangan balik yang dinilai bisa menjadi ancaman bagi Como.
Maka itu, ia menyampaikan bahwa timnya mungkin akan memilih pendekatan bertahan lebih dalam untuk membatasi ruang gerak pemain Manchester United.
Gaya Permainan Sendiri
Pernyataan Fabregas mengenai strategi ‘parkir bus’ tersebut disampaikan dengan nada bercanda. Meski demikian, Como tetap memandang pertandingan melawan Manchester United sebagai tantangan serius yang membutuhkan persiapan matang.
Sebagai tim yang ingin menjalani musim debut dengan baik di Liga Champions, Como bertekad memberikan perlawanan maksimal. Fabregas juga menegaskan bahwa timnya tidak akan sepenuhnya meninggalkan karakter permainan yang selama ini dikembangkan.
Namun, terlepas dari candaan tersebut, kami akan tetap berusaha memainkan gaya permainan kami yang sesungguhnya,”
tutur Fabregas.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Como tak hanya berencana mengandalkan pertahanan. Mereka juga ingin mempertahankan identitas permainan sendiri ketika menghadapi salah satu klub besar Inggris itu.
Dalam kesempatan yang sama, Fabregas turut menanggapi anggapan bahwa Manchester United tengah mengalami krisis pada awal musim.
Pelatih asal Spanyol itu tak sependapat dengan penggunaan istilah krisis untuk menggambarkan kondisi sebuah tim sepak bola.
Menurut Fabregas, pertandingan tetap harus dijalani dengan persaingan yang setara di lapangan.
Ia menilai setiap tim punya kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Hal itu terlepas dari hasil yang diraih dalam beberapa pertandingan sebelumnya.
Saya tidak percaya dengan istilah krisis dalam sepak bola. Anda bertanding setiap tiga hari sekali, ini adalah duel 11 lawan 11, dan Anda harus memberikan yang terbaik,”
ujar Fabregas.
Ia juga menganggap istilah krisis kerap digunakan oleh media untuk menggambarkan situasi sebuah klub. Bagi Fabregas, para pemain dan pelatih dituntut untuk terus berkompetisi serta memberikan performa maksimal dalam setiap pertandingan.
Krisis hanyalah istilah yang diciptakan oleh Anda, para jurnalis. Kami adalah para profesional; sejak lahir, kami memang ditakdirkan untuk bersaing. Saya tidak percaya ada yang namanya krisis,”
ujar Fabregas.