Mengutip dari berbagai literasi, Selasa, 27 Oktober 2026, berikut lima jenis kendaraan elektrifikasi beserta karakteristik dan contoh modelnya.
- BEV, mobil listrik murni tanpa mesin bensin
Battery Electric Vehicle (BEV) merupakan mobil listrik murni yang menggunakan energi baterai untuk menggerakkan motor listrik. Kendaraan jenis ini tak menggunakan mesin pembakaran internal berbahan bakar bensin maupun solar.
Baterainya diisi melalui sumber listrik eksternal, misalnya stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) atau fasilitas pengisian daya di rumah.
Salah satu teknologi baterai yang digunakan pada mobil listrik adalah Lithium Iron Phosphate (LFP). Namun, tak semua BEV menggunakan baterai jenis ini karena terdapat pula teknologi baterai lain.
Karakteristik utama: mengandalkan baterai dan motor listrik, tanpa mesin bensin. Pengguna perlu mempertimbangkan jarak tempuh, waktu pengisian, serta ketersediaan fasilitas pengisian daya.
- HEV, gabungkan mesin bensin dengan motor listrik.
Hybrid Electric Vehicle (HEV) menggabungkan mesin bensin dengan motor listrik. Keduanya dapat bekerja secara bergantian atau bersama-sama sesuai kondisi berkendara.
Berbeda dengan BEV, baterai HEV umumnya tak perlu diisi melalui sumber listrik eksternal. Energi baterai diperoleh antara lain melalui pengereman regeneratif dan kerja mesin, bergantung pada sistem yang digunakan.
Teknologi ini bisa bantu mengurangi konsumsi bahan bakar. Hal itu terutama dalam kondisi berkendara yang memungkinkan motor listrik bekerja secara efisien.
Contoh kendaraan dengan teknologi HEV adalah Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid.
Karakteristik utama: tetap menggunakan bensin, tetapi motor listrik membantu meningkatkan efisiensi. Pengemudi tidak perlu mengandalkan SPKLU untuk mengisi baterai traksi.
- PHEV, mobil hybrid yang baterainya bisa diisi dari luar
Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) juga menggabungkan mesin bensin dan motor listrik. Perbedaan pentingnya terletak pada baterai yang bisa diisi menggunakan sumber listrik eksternal.
Kapasitas baterai PHEV umumnya lebih besar dibandingkan HEV. Maka itu, kendaraan ini bisa menempuh jarak tertentu hanya dengan tenaga listrik. Namun, Jarak tempuh itu selama kapasitas baterai dan kondisi berkendara memungkinkan.
Saat daya baterai berkurang atau kebutuhan tenaga meningkat, mesin bensin bisa mengambil alih atau bekerja bersama motor listrik.
PHEV cocok dipertimbangkan oleh pengguna yang ingin berkendara menggunakan listrik untuk perjalanan rutin. Namun, tetap memiliki mesin bensin untuk perjalanan lebih jauh.
Efisiensinya juga bergantung pada seberapa rutin baterai diisi dan bagaimana kendaraan digunakan.
Salah satu contoh model PHEV di pasar global adalah BYD M6 DM, dengan ketersediaan dan penamaan varian yang bergantung pada pasar.
Karakteristik utama: baterai bisa diisi dari luar, dapat berkendara dengan tenaga listrik dalam kondisi tertentu, dan tetap memiliki mesin bensin.
- FCEV, mobil listrik yang menggunakan hydrogen
Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV) merupakan kendaraan listrik yang menghasilkan listrik melalui reaksi kimia hidrogen di dalam sistem sel bahan bakar (fuel cell).
Energi listrik itu digunakan untuk menggerakkan motor listrik. Berbeda dari BEV yang mengandalkan pengisian baterai dari jaringan listrik, FCEV menyimpan hidrogen di dalam tangki khusus sebagai sumber energi untuk menghasilkan listrik.
Kendaraan ini menghasilkan air sebagai produk utama dari reaksi pada sel bahan bakar ketika beroperasi. Namun, dampak lingkungan secara keseluruhan tetap bergantung pada cara hidrogen diproduksi dan didistribusikan.
Toyota Mirai merupakan salah satu contoh mobil FCEV yang dikenal di pasar global.
Pengembangan kendaraan jenis ini masih menghadapi tantangan berupa ketersediaan stasiun pengisian hidrogen dan infrastruktur pendukung. Keterbatasan tersebut menjadi salah satu hambatan bagi penerapannya secara luas di Indonesia.
Karakteristik utama: menggunakan hidrogen untuk menghasilkan listrik, bukan mengandalkan pengisian baterai traksi seperti BEV.
- MHEV, mesin bensin dengan bantuan sistem listrik ringan
Mild Hybrid Electric Vehicle (MHEV) menggabungkan mesin pembakaran internal dengan sistem listrik berkapasitas relatif kecil. Sistem itu membantu kerja mesin misalnya saat akselerasi atau ketika fitur start-stop menghidupkan dan mematikan mesin.
Pada umumnya, MHEV tak bisa mengandalkan motor listriknya untuk menggerakkan mobil secara mandiri dalam kondisi berkendara normal. Mesin bensin tetap jadi sumber tenaga utama.
Sistem listrik pada MHEV bisa bantu mengurangi beban kerja mesin dan mendukung efisiensi bahan bakar. Meskipun hasilnya bergantung pada teknologi yang digunakan serta kondisi perjalanan.
Salah satu contoh kendaraan yang menggunakan teknologi mild hybrid di Indonesia adalah Mazda CX-60 varian 3.3L tertentu.
Karakteristik utama: mesin bensin tetap dominan, sementara sistem listrik berfungsi sebagai pendukung. Teknologi ini umumnya tidak memerlukan pengisian baterai melalui colokan eksternal.