Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Sabtu, 18 Jul 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Sepak Bola
  • DPR
  • Korupsi
  • prabowo
  • Piala Dunia 2026
  • MBG
  • Purbaya
  • iran
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Politik / (Part I) Saat Politik Luar Negeri RI “Sein Kiri Belok Kanan”, Sulit Ditebak dan Banyak Tanda Tanya
Politik

(Part I) Saat Politik Luar Negeri RI “Sein Kiri Belok Kanan”, Sulit Ditebak dan Banyak Tanda Tanya

iren natania longdongAmin-Suciady-Owrite
Last updated: April 15, 2026 4:33 pm
By
Natania Longdong
iren natania longdong
ByNatania Longdong
News Reporter
Natania Longdong adalah jurnalis di Owrite yang berfokus pada isu internasional, energi, dan lingkungan. Dengan pengalaman lebih dari empat tahun meliput untuk Viva.co.id, Liputan6.com, dan Tirto.id,...
Follow:
Amin Suciady
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya,...
Follow:
3 bulan lalu
Share
Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, di Istana Kremlin, Moskow (Sumber foto: setneg.go.id)
Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, di Istana Kremlin, Moskow (Sumber foto: setneg.go.id)
SHARE

Arah kebijakan politik luar negeri Indonesia kembali menjadi sorotan setelah rangkaian kunjungan pejabat tinggi negara berlangsung hampir bersamaan ke dua kutub kekuatan global, yakni Amerika Serikat (AS) dan Rusia.

Daftar isi Konten
  • Strategi “Hedging“
  • Implikasi Serius Bagi Netralitas RI

Pada Senin, 13 April 2026, Prabowo Subianto terbang ke Rusia untuk bertemu dengan Presiden Vladimir Putin untuk membahas kerja sama energi. Sementara di hari yang sama, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, berada di Pentagon menemui Menteri Urusan Perang AS Pete Hegseth, untuk memperdalam kerja sama pertahanan.

Kunjungan Prabowo dan Menhan RI ke luar negeri terjadi saat isu berhembus kencang mengenai sebuah dokumen rahasia pertahanan Amerika Serikat, yang menjabarkan rencana untuk mengamankan akses penerbangan menyeluruh bagi pesawat militer AS melalui wilayah udara Indonesia.

Menariknya, dokumen ini mencuat usai pertemuan Presiden Prabowo dan Presiden Trump di Washington pada Februari lalu, dalam memperluas jangkauan operasional AS di seluruh Indo-Pasifik.

Dokumen tersebut mengusulkan kesepahaman formal di mana Indonesia akan mengizinkan pesawat militer AS untuk melintasi wilayah udaranya sebagai operasi darurat, misi tanggap krisis, dan latihan militer yang disepakati bersama.

Dalam pertemuan Pete Hegseth dan Sjafrie Sjamsoeddin, keduanya melakukan perjanjian kerja sama di bidang keamanan dan pertahanan. Perjanjian kerja sama tersebut memiliki tiga “pilar utama” yang didasarkan pada kedaulatan nasional dan prinsip saling menghormati, yakni organisasi militer dan peningkatan kapasitas, pelatihan dan pendidikan militer profesional, serta pelatihan dan kerja sama operasional.

Dalam kerangka perjanjian tersebut, kedua negara akan menjajaki inisiatif mutakhir, termasuk pengembangan bersama kemampuan asimetris yang canggih, pelopor teknologi pertahanan generasi berikutnya di bidang maritim, bawah laut, dan sistem otonom, serta kerja sama dalam dukungan pemeliharaan, perbaikan, dan sistem overhaul guna meningkatkan kesiapan operasional, sebagaimana tertuang dalam pernyataan bersama.

Pernyataan tersebut juga menjelaskan bahwa Amerika Serikat dan Indonesia sepakat untuk meningkatkan pelatihan bersama pasukan khusus, yang diharapkan akan semakin mempererat hubungan antara militer kedua negara.

Kita bekerja atas dasar saling menghormati dan saling menguntungkan untuk meningkatkan nilai kepentingan nasional masing-masing,”

kata Sjafrie Sjamsoeddin saat bertemu dengan Hegseth di Pentagon.

Sementara itu, menurut Hegseth, kemitraan ini akan menjadi kerangka kerja untuk memajukan kerja sama pertahanan bilateral antara Amerika Serikat dan Indonesia guna menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik.

Kemitraan ini mencerminkan kekuatan dan potensi hubungan keamanan kita … memperkuat daya tangkal kawasan, serta memajukan komitmen bersama terhadap perdamaian melalui kekuatan,”

ujar Hegseth.

Strategi “Hedging“

Sementara sorotan lainnya terjadi pada langkah politik luar negeri Indonesia yang terkesan mencari celah untuk mendekati dua entitas terkuat di dunia. Diketahui, Rusia dan AS tidak memiliki hubungan yang baik sejak Moskow memutuskan untuk perang melawan Ukraina. Kedua negara tersebut juga terlibat sejumlah sanksi, yang semakin menyeret Rusia dan AS pada perang dingin berkepanjangan.

Menanggapi pertemuan Prabowo dan Putin, serta Menhan RI dan Menteri Perang AS di hari yang sama, Peneliti Departemen Hubungan Internasional Center for Strategic and International Studies (CSIS) Waffaa Kharisma menilai, bahwa langkah itu masih berada dalam koridor strategi “hedging”. Meski demikian, pendekatan tersebut tetap memiliki risiko jika tidak dikelola dengan batas yang jelas.

Waffaa mengatakan, prinsip bebas aktif Indonesia pada dasarnya bergantung pada sejauh mana kerja sama luar negeri tetap sejalan dengan kepentingan nasional, standar yang dibangun sendiri, serta etika hukum internasional yang diperjuangkan Indonesia.

Prinsip bebas aktif sebetulnya batas bawahnya adalah seberapa besar keputusan kunjungan dan kerja sama yang dibangun sesuai dengan kepentingan nasional Indonesia, sesuai dengan standar yang kita bangun sendiri, dan sesuai dengan etika hukum internasional yang kita perjuangkan,”

kata Waffa pada Owrite saat dihubungi, Selasa 14 April 2026.

Menurutnya, dua langkah yang ditempuh pemerintah memiliki karakter berbeda. Kunjungan ke Rusia lebih bersifat konsultasi geopolitik dan isu energi. Sementara itu, kerja sama dengan AS difokuskan pada penguatan kapasitas pertahanan Indonesia.

Ke AS untuk meneken kerja sama pertahanan yang lebih dalam, termasuk mengembangkan kapasitas pertahanan Indonesia untuk pertahanan asimetris, next gen defense tech on maritime, subsurface, autonomous domains, juga maintenance repair overhaul support untuk readiness,”

ujarnya.

Waffa melihat, bahwa kerja sama keduanya juga penting untuk menghadapi tantangan keamanan ke depan serta meningkatkan kemandirian Indonesia dalam aspek pemeliharaan dan kesiapan alat utama sistem pertahanan.

Meski begitu, peneliti CSIS tersebut mengingatkan bahwa strategi yang diambil oleh pemerintah tetap memiliki batas. Dalam titik tertentu, langkah tersebut masih dapat dikategorikan sebagai hedging, yakni menjaga hubungan dengan dua kekuatan besar sekaligus. Namun, risiko akan muncul ketika kerja sama menjadi terlalu mengikat.

Di titik mana jadi kontraproduktif? Ketika kerja samanya terlalu mengikat Indonesia sehingga Indonesia tidak bisa secara independen melakukan politik luar negerinya atau mempertahankan kedaulatannya,”

beber Waffa.

Risiko lainnya juga muncul ketika kedekatan dengan satu pihak justru menyulitkan hubungan dengan pihak lain. Karena itu, RI perlu memiliki batas yang jelas dalam menentukan kapan harus memperdalam hubungan dan kapan menjaga jarak.

Kuncinya adalah dengan cara membangun hubungan sesuai standar yang Indonesia miliki. Harus ada batas-batas yang jelas, when Indonesia can say no, when Indonesia maintains distance, when Indonesia deepens relations,”

kata dia.

Dalam konteks global saat ini, Waffaa pun melihat adanya ruang gerak bagi RI untuk memainkan strategi tersebut. Hal itu dipengaruhi oleh kondisi negara-negara besar yang tengah disibukkan oleh konflik masing-masing. Amerika Serikat, misalnya, tengah fokus pada dinamika di Timur Tengah, sementara Rusia masih terlibat dalam perang di Ukraina.

Di masa sulit ini akan lebih ada ‘leeway’ atau ruang gerak temporer bagi negara-negara seperti Indonesia untuk kejar hubungan dengan keduanya,”

jelasnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa ruang tersebut bersifat sementara. Ketika rivalitas global kembali meruncing, hubungan Indonesia dengan negara-negara besar akan kembali mendapat sorotan ketat. 

Implikasi Serius Bagi Netralitas RI

Isu lain yang menjadi perhatian adalah kemungkinan akses udara bagi pesawat militer AS. Menurut Waffaa, hal ini berpotensi menimbulkan implikasi serius terhadap persepsi netralitas Indonesia.

Jika mekanisme izin penerbangan dipermudah, misalnya tidak lagi per penerbangan melainkan dalam satu paket misi, maka terdapat risiko Indonesia dianggap ikut terlibat apabila penerbangan tersebut digunakan untuk operasi militer.

Kalau misalnya ada airspace dimana selama ini lewat harus laporan, sekarang laporannya dipermudah, dan kemudian terbangnya itu buat perang, then there is likelihood kita dilihat complicit,”

ujarnya.

Menurut dia, dalam kondisi tersebut Indonesia bisa dinilai tidak lagi netral oleh pihak yang menjadi target operasi militer.

Kalau yang ketiga ya kita complicit kalau ketahuan pihak satunya yang diserang. They will see us not being neutral,”

katanya.

Karena itu, kemampuan Indonesia untuk menolak atau membatasi izin menjadi faktor kunci.

Whether Indonesia can say no or deny permission is important. Karena kalau per mission kita akan complicit,”

ujarnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa persepsi terhadap wilayah Indonesia juga bisa berubah, terutama jika kerja sama berkembang ke arah fasilitas militer.

Dampaknya, Indonesia akan dilihat teritorinya apakah netral milik Indonesia, atau apakah sudah berkompromi dengan negara lain yang secara rekam jejak sering melakukan perang.

Dari sisi strategi besar, Waffaa menilai Indonesia sebenarnya memiliki arah yang cukup jelas, yakni bertahan di tengah tekanan global. Namun, pendekatan tersebut dinilai masih sangat bergantung pada pandangan pribadi presiden dan belum sepenuhnya transparan.

Instingnya terlihat yakni untuk survive under pressure and uncertain world. Tetapi memang sangat terpusat kepada worldview yang dimiliki oleh Pak Presiden, dan kurang transparan seperti apa beliau mempertimbangkan risiko jangka panjang,”

katanya.

Ia menegaskan, strategi “bermain banyak kaki” pada dasarnya tepat, selama Indonesia memiliki standar yang kuat dan tetap kritis terhadap semua kekuatan besar.

Risiko jangka panjang lebih kecil kalau main dua kaki, banyak kaki, ketimbang hanya satu kaki,”

ujarnya.

Namun, ia mengingatkan adanya konsekuensi dari pendekatan tersebut. Di sisi lain, ‘bermain banyak kaki’ benefitnya kecil. Tetapi RI juga tidak akan mendapat manfaat yang banyak karena bukan partner utama suatu superpower.

Pada akhirnya, risiko terbesar muncul ketika pendalaman hubungan dengan satu pihak justru merugikan hubungan dengan pihak lain.

Paling risikonya adalah ketika pendalaman hubungan kepada satu power comes at the detriment of the other power dan kita dilihat sebagai belligerent,”

ujarnya.

Tag:Amerika SerikatBerita PentingDonald Trumpmenteri pertahananMenteri Urusan Perang ASPete HegsethPolitik Luar NegeriPrabowo SubiantoPresidenRusiaSjafrie SjamsoeddinSpillVladimir Putin
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
iren natania longdong
ByNatania Longdong
News Reporter
Follow:
Natania Longdong adalah jurnalis di Owrite yang berfokus pada isu internasional, energi, dan lingkungan. Dengan pengalaman lebih dari empat tahun meliput untuk Viva.co.id, Liputan6.com, dan Tirto.id, ia dikenal lewat reportase mendalam soal bisnis, pertambangan, dan dampak kebijakan energi terhadap masyarakat.
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya, Toponimi Jakarta Barat dan Toponimi Jakarta Timur, yang mendokumentasikan asal-usul nama wilayah dan jejak budaya ibu kota.
Trending di OWRITE
Wacana SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat Kembali Mencuat, Dedi Mulyadi: Belum Saatnya
By Ossid Duha Jussas Salma
Dedi Mulyadi monitoring MPLS di Sekolah Jawa Barat
1
Mitos atau Fakta? Telur Ayam Besar Lebih Berkualitas dari Telur Kecil, Ini Penjelasan Ahli
By Syifa Fauziah
Telur ayam
2
Hotman Paris Datangi Kejagung, Jawaban soal Jadi Pengacara Febrie Adriansyah Bikin Heboh
By Rahmat Baihaqi
Pengacara Hotman Paris Hutape di gedung Kejagung.
3
Final Piala Dunia 2026 Bikin Messi Pecahkan Rekor Langka yang Bertahan 32 Tahun
By Hadi Febriansyah
Kapten Timnas Argentina, Lionel Messi
4
BGN Minta Waktu 30 Hari Benahi Program MBG, Penghentian Kemitraan Hanya Sementara
By Rika Pangesti
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Agustina Arumsari (tengah) bersama Trenggono (kedua kanan) tiba untuk mengikuti rapat bersama Presiden Prabowo Subianto, di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (15/7/2026). Presiden Prabowo menggelar rapat bersama sejumlah menteri dan kepala lembaga untuk membahas perkembangan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan program Makan Bergizi Gratis (MBG). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
5

BERITA LAINNYA

Jaksa Agung ST Burhanudin bertemu dengan Kapolri Listyo Sigit Prabowo di Kejagung.
Politik

Ucapan Prabowo Soal Koruptor Tak Sejalan dengan Fakta, Tak Berani Copot Kapolri dan Kejagung

Analis Politik Exposit Strategic Arif Susanto mengatakan, komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam…

Rahmat Tunny OWRITEAmin-Suciady-Owrite
By
Rahmat Tunny
Amin Suciady
15 jam lalu
Perangkat desa memeriksa kendaraan motor roda tiga operasional Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Desa Cijengjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
DaerahPolitik

Gerindra Respons Kritik Lokasi Kopdes Merah Putih yang Sulit Diakses Warga

Penempatan sejumlah Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) atau Kopdes Merah Putih di…

Rika PangestiHardani Triyoga
By
Rika Pangesti
Hardani Triyoga
18 jam lalu
Ilustrasi, Gedung DPR/MPR
Politik

Simasleg DPR Dipertanyakan, Legislator Lebih Patuh ke Partai daripada Aspirasi Rakyat

DPR RI resmi meluncurkan Sistem Informasi Partisipasi Legislasi (Simasleg) sebagai kanal digital…

Rika PangestiHardani Triyoga
By
Rika Pangesti
Hardani Triyoga
18 jam lalu
Presiden RI Prabowo Subianto saat groundbreaking Proyek LNG Abadi Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku.
Politik

Prabowo soal LNG Masela: Para Investor Harus Untung, Kita Malu Kalau Mitra Tidak Puas

Presiden RI Prabowo Subianto mengatakan proyek LNG Abadi Masela harus dijalankan dengan…

iren natania longdongHardani Triyoga
By
Natania Longdong
Hardani Triyoga
23 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up