Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Politik

Pengamat Desak Presiden Tegur Kepala Bakom dan Copot Ulta Levenia usai Hina Almamater UI

mencopot Tenaga Ahli Utama KSP Ulta Levenia Nababan menyusul polemik unggahan yang dinilai menghina simbol akademik.

Presiden Prabowo Subianto dan Tenaga Ahli KSP Ulta Leverai Nababan.
Presiden Prabowo Subianto dan Tenaga Ahli KSP Ulta Leverai Nababan. Doc: IG Ulta

Direktur Rumah Politik Indonesia Fernando Emas, mendesak Presiden Prabowo Subianto menegur Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI Mohamad Qodari dan mencopot Ulta Levenia Nababan, menyusul polemik unggahan yang dinilai menghina simbol akademik saat merespons kritik publik.

Prabowo harus segera menyingkirkan para pembantunya yang membuat citra pemerintahannya semakin buruk. Tidak perlu ragu memecat mereka walaupun menjadi bagian tim pemenangan atau relawan pada pemilu lalu,”

kata Fernando Emas kepada Owrite, Rąbu, 22 Juli 2026.

Ulta Levenia saat ini menjabat sebagai Plt. Deputi Bidang Pembinaan Komunikasi Pemerintah Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI yang juga dikenal sebagai Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP).

Fernando menilai, respons sejumlah pembantu Presiden terhadap kritik publik justru memperburuk citra pemerintahan. Menurutnya, komunikasi yang dibangun tidak meredakan polemik, tetapi memunculkan persepsi negatif di tengah masyarakat.

Iklan

Satu persatu para pembantu Prabowo Subianto seolah mempertontonkan kualitas mereka dalam merespon kritik yang diberikan terhadap pemerintahan Prabowo Subianto,”

ujarnya.

Namun sayangnya, sambung Fernando, bukannya membuat situasi semakin membaik, justru semakin memperburuk dan membuat publik memiliki persepsi negatif terhadap pemerintah.

Ulta Levenia Rendahkan Simbol Akademik

Ia menyoroti unggahan Ulta Levenia Nababan di media sosial yang menyebut jas almamater Universitas Indonesia (UI) sebagai “daster kuning”. Buat Fernando, pernyataan tersebut dinilai merendahkan simbol akademik ketika menanggapi kritik dari publik.

Terakhir dilakukan oleh Ulta Levenia Nababan, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) yang melontarkan pernyataan yang dinilai menghina jas almamater UI dengan sebutan ‘daster kuning’ melalui akun media sosial pribadinya,”

jelasnya.

Fernando berpendapat, cara berkomunikasi tersebut tidak mencerminkan etika pejabat publik karena dinilai merendahkan pihak yang menyampaikan kritik, termasuk institusi pendidikan tempat pengkritik menempuh pendidikan.

Betapa buruknya komunikasi yang dilakukan Ulta Levenia Nababan sehingga sangat begitu merendahkan pihak yang melakukan kritik termasuk kampus tempat Fatimah Azahra kuliah,”

ungkapnya.

Ia menilai, Presiden perlu mengevaluasi pembantu-pembantunya yang dinilai tidak mampu merespons kritik publik secara bijak karena berpotensi merusak kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

Ingin rasanya menggunakan kata-kata yang dipakai oleh Presiden Prabowo Subianto yaitu ‘bajingan’ kepada mereka yang menikmati keringat rakyat melalui pajak untuk menggaji mereka namun begitu tidak senangnya ketika mendengarkan kritik yang dilontarkan,”

tutupnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Asisten Redaktur

    Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.

  • Redaktur Pelaksana

    Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal