Di bawahnya terdapat Presiden Prabowo Subianto dengan 18,8 persen, Anies Baswedan 11,6 persen, sementara Gibran memperoleh 5,9 persen. Menurutnya, angka tersebut menunjukkan jarak elektoral antara Dedi dan Gibran masih sangat lebar.
Ia juga mencatat elektabilitas Gibran tidak terpaut jauh dengan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang memperoleh 8,8 persen. Kondisi itu, menurut Jamiluddin, menunjukkan tantangan Gibran bukan hanya mengejar Dedi, tetapi juga bersaing dengan figur-figur lain di papan tengah.
Sebab, bila kondisi normal sulit bagi Gibran untuk mendongkrak elektabilitasnya,”
ucapnya.
Dijelaskan Jamiluddin, tanpa perubahan yang signifikan dalam kinerja maupun daya tarik politik, elektabilitas Gibran diperkirakan tidak akan mengalami lonjakan berarti.
Bahkan, ia mengakui terdapat kemungkinan tingkat keterpilihan Gibran justru mengalami penurunan apabila persepsi publik tidak berubah.
Jadi, elektabilitas Gibran akan sulit meningkat tajam. Elektabilitasnya akan stabil, bahkan berpeluang akan turun,”
jelasnya.
Ia menambahkan, proyeksi tersebut didasarkan pada penilaiannya terhadap kinerja Gibran saat ini yang dinilai belum memberikan dorongan elektoral yang kuat. Karena itu, diperlukan capaian yang lebih menonjol apabila Gibran ingin meningkatkan daya saing menjelang Pilpres 2029.
Kalkulasi itu berlaku bila kinerja Gibran seperti saat ini yang relatif datar saja. Dengan kinerjanya seperti itu tentu sulit mendongkrak elektabilitasnya,”
pungkasnya.