Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Politik

Isu Pelengseran Presiden Mulai Berembus, Golkar Minta Lawan Politik Tak Main Buzzer

Ia mengingatkan seluruh elemen bangsa agar mengedepankan etika politik sekaligus menghormati hasil pemilu yang telah berlangsung.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi melepas kontingen Indonesia yang akan berlaga di Asian Games ke-20. (Sumber: YouTube SetPres)
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi melepas kontingen Indonesia yang akan berlaga di Asian Games ke-20. (Sumber: YouTube SetPres)

Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar MPR Firman Soebagyo menyoroti dinamika politik nasional yang dinilainya semakin unik. Dinamika itu terkait isu pelengseran terhadap Presiden RI Prabowo Subianto mulai muncul saat pemerintahan baru berjalan sekitar 1,5 tahun. 

Uniknya Indonesia ini, konon Pilpres sudah dipilih secara demokratis. Baru berjalan 1,5 tahun, sudah ada pihak-pihak yang membuat isu ingin melengserkan presiden terpilih. Dengan berbagai dalih: kesehatan lah, dan lain-lain,”

kata Firman, dalam keterangan tertulisnya, Senin, 14 September 2026. 

Menurut Firman, dinamika itu menunjukkan adanya pihak-pihak yang tak sabar menunggu momentum pemilu berikutnya. 

Dia bilang persaingan politik justru terus dimainkan melalui berbagai isu di ruang publik. Hal itu termasuk dengan memanfaatkan buzzer untuk menyerang pemerintah.

Iklan

Juga setiap saat, lawan-lawan politik sudah tidak sabar untuk menunggu pemilu lima tahunan. Sudah memainkan buzzer-buzzer untuk membuat isu yang menjelek-jelekkan program pemerintah,”

tuturnya.

Dijelaskan Firman, kritik terhadap pemerintah tetap merupakan bagian penting dalam sistem demokrasi.

Namun, kritik tersebut harus disampaikan dalam koridor konstitusi. Kata dia, jangan menjadikan masyarakat sebagai alat untuk mengejar kepentingan politik tertentu.

Mbok ya sabar. Kalau seperti ini mau jadi pemimpin bagaimana? Rakyatnya yang selalu diperalat oleh calon pemimpin itu sendiri. Dan bagaimana ini bisa disebut negara yang demokratis?,”

jelasnya.

Ia mengingatkan seluruh elemen bangsa agar mengedepankan etika politik sekaligus menghormati hasil pemilu yang telah berlangsung. 

Lebih lanjut, Firman mengatakan jika ada kebijakan pemerintah yang dianggap kurang tepat, maka koreksi harus dilakukan melalui mekanisme demokrasi dan konstitusional yang tersedia.

Dia mengingatkan kontestasi pemilu sudah selesai. Hasil pemilu pun mesti dihormati.

Kalau ada yang kurang, perbaiki lewat mekanisme yang ada. Jangan bikin gaduh. Rakyat butuh kerja nyata, bukan drama politik tiap hari,”

tuturnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar

  • Asisten Redaktur

    Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.