Rencana penerapan ambang batas parlemen atau parliamentary threshold (PT) sebesar 5 persen dalam revisi Undang-Undang Pemilu dinilai berpotensi tidak sejalan dengan arah Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 116/PUU-XXI/2023.
Pengamat politik dari Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, mengatakan putusan MK tidak menetapkan angka baru secara spesifik, tetapi memerintahkan agar besaran ambang batas parlemen untuk Pemilu 2029 dan seterusnya diubah dengan mempertimbangkan sejumlah persyaratan.
Masalahnya, apakah PT sebesar 5 persen sesuai dengan Putusan MK No. 116/PUU-XXI/2023? Terkait hal itu, MK memang tidak menetapkan besar PT yang harus diberlakukan pada Pileg 2029,”
kata Jamiluddin kepada Owrite,Kamis, 17 September 2026.
Menurut dia, MK sebelumnya telah menilai ambang batas parlemen 4 persen bermasalah karena tidak memiliki dasar perhitungan yang rasional dan ilmiah serta berdampak terhadap prinsip demokrasi.






