Wacana baru yang mensyaratkan pasangan calon presiden dan wakil presiden didukung sedikitnya dua partai politik yang memiliki kursi di DPR dinilai tidak memiliki dasar hukum dan bertentangan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 62/PUU-XXII/2024.
Pengamat politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga menilai aturan pencalonan Pilpres 2029 semestinya menyesuaikan putusan MK yang menghapus presidential threshold. MK menyatakan Pasal 222 UU Pemilu bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
Karena itu, wacana dukungan terhadap calon presiden dan wakil presiden harus diberikan sedikitnya oleh dua partai yang memiliki kursi di DPR tidak mendasar,”
kata Jamiluddin kepada Owrite, Minggu, 20 September 2026.
Menurut Jamiluddin, putusan MK membawa konsekuensi terhadap desain aturan pencalonan presiden untuk Pemilu 2029.






