Presiden Prabowo Subianto dinilai mulai menggeser pengaruh figur-figur yang sebelumnya dekat dengan pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) melalui reshuffle pada Kamis, 1 Oktober 2026.
Pakar politik Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komaruddin, mengatakan Prabowo tidak sepenuhnya menyingkirkan figur tersebut, melainkan memindahkannya dari posisi strategis sambil tetap memberi ruang di pemerintahan.
Pak Prabowo lumayan cantik lah mainnya, lumayan bagus, lumayan rapi, tidak membuang orangnya Jokowi, memberi tempat gitu,”
kata Ujang saat dihubungi Owrite, Rabu, 7 Oktober 2026.
Ujang menjelaskan, pola tersebut menunjukkan Prabowo memperhitungkan konsekuensi politik dari pergantian pejabat.
Menurutnya, figur yang digeser tetap ditempatkan di posisi lain agar perubahan tidak berkembang menjadi kekecewaan politik.
Pak Prabowo paham betul soal politik gitu, agar orang juga tidak sakit hati, ya diganti lalu ditempatkan di tempat lain,”
ucapnya.
Ia menilai, perubahan posisi tersebut membuat figur yang sebelumnya berada di posisi strategis tetap berada dalam lingkar pemerintahan, tetapi tidak lagi memegang kendali utama atas institusi yang sebelumnya dipimpin.
Diganti tapi tidak megang tongkat komando kan begitu,”
jelasnya.
Dilepas Tapi Tak Dibuang
Ujang melanjutkan, pola tersebut dapat menjadi cara Prabowo melakukan perubahan terhadap figur-figur yang terkait dengan pemerintahan Jokowi tanpa harus memutus hubungan secara frontal.
Jadi itu cara-cara yang terhormat, yang bagus, yang dilakukan oleh Pak Prabowo untuk katakanlah menggeser orang-orang Jokowi tapi masih tidak memberi tempat,”
ungkapnya.
Menurut Ujang, langkah tersebut merupakan bagian dari dinamika politik dan menjadi kewenangan pemerintahan yang sedang berjalan.
Saya rasa itu sah-sah saja di dunia politik,”
pungkasnya.
Sebagaimana diketahui, Listyo Sigit Prabowo yang sebelumnya menjabat Kapolri digantikan Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto dalam reshuffle 1 Oktober 2026 dan kemudian menjadi Kepala Staf Kepresidenan.
Sementara Pratikno digeser dari posisi Menko PMK dan digantikan Sugiono, sebelum kemudian dilantik sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) pada Jumat, 2 Oktober 2026.







