Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Politik

Polemik Ijazah Gibran Bisa Pertebal Popularitas Menuju 2029

Menurut Arifki, kondisi tersebut menciptakan paradoks politik karena semakin sering isu ijazah Gibran dibicarakan di ruang publik, semakin besar pula perhatian politik yang diterimanya

Gibran Rakabuming Raka
Gibran Rakabuming Raka/Doc. Owrite/Acel

Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait persoalan dokumen pendidikan Gibran Rakabuming Raka dinilai tidak otomatis mengakhiri polemik yang berkembang.

Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, menilai isu ijazah Gibran justru bergeser dari arena hukum ke ruang publik.

Putusan MK ini tidak mematikan isu Gibran, tapi mengubah arena pertarungannya: dari ruang sidang ke ruang publik,”

kata Arifki kepada Owrite, Kamis, 8 Oktober 2026.

Arifki menjelaskan, posisi Gibran sebagai Wakil Presiden tetap berjalan, sementara pihak yang kontra masih memiliki ruang untuk memperdebatkan persoalan kesetaraan pendidikan SLTA Gibran.

Iklan

Gibran tetap menjalankan tugas sebagai Wakil Presiden, sementara pihak yang kontra masih memiliki ruang untuk memperdebatkan persoalan kesetaraan pendidikan SLTA Gibran,”

ucapnya.

Menurut Arifki, kondisi tersebut menciptakan paradoks politik karena semakin sering isu ijazah Gibran dibicarakan di ruang publik, semakin besar pula perhatian politik yang diterimanya.

Semakin isu Gibran dibicarakan, semakin tinggi exposure politiknya,”

ungkap Arifki.

Ia menilai, polemik yang awalnya diarahkan untuk mendelegitimasi Gibran justru berpotensi menghasilkan efek berbeda terhadap popularitas politiknya.

Ini paradoks politik: isu yang ingin mendelegitimasi justru bisa ikut mempertebal popularitas,”

jelasnya.

Arifki kemudian mengaitkan polemik tersebut dengan kalkulasi politik menuju Pemilu 2029. Menurutnya, apabila muncul wacana pergantian Gibran, persoalannya tidak hanya menyangkut perubahan figur di posisi Wakil Presiden, tetapi juga berpotensi membuka persaingan politik menuju 2029.

Mengganti Gibran bukan sekadar mengganti orang di kursi Wapres. Itu berarti membuka perebutan modal politik menuju 2029,”

tutup Arifki.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar

  • Redaktur Pelaksana

    Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal