Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Politik

Prabowo Dulu Desak Karhutla Jadi Bencana Nasional, Kini Unggahan Lawasnya Kembali Viral

Prabowo saat jadi oposisi pernah desak Jokowi tetapkan Karhutla jadi bencana nasional. Ini yang terjadi kini.

Unggahan lawan Prabowo Subianto saat jabat Ketua Umum Partai Gerindra pada 14 Oktober 2015.
Unggahan lawan Prabowo Subianto saat jabat Ketua Umum Partai Gerindra pada 14 Oktober 2015. (Foto: Tangkapan Layar).

Unggahan lama Presiden RI Prabowo Subianto yang mendesak penetapan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional pada 2015 kembali viral. Sebelas tahun berselang, pernyataan itu kembali jadi sorotan ketika karhutla kembali melanda Kalimantan.

Akun Instagram @kaltengundercover membagikan kembali postingan lama akun Facebook Prabowo pada Senin, 12 Oktober 2026. Di unggahan lama itu, Prabowo masih menjabat Ketua Umum Partai Gerindra yang oposisi dengan mendesak pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan penanganan bencana kabut asap imbas karhutla.

Demi mengatasi kabut asap yang terus merugikan sebagian rakyat Indonesia, saya menyarankan untuk menaikkan status tersebut menjadi bencana nasional,”

tulis Prabowo, dikutip dari unggahan Instagram @kaltengundercover pada Selasa, 13 Oktober 2026.

Unggahan Prabowo di akun Facebook itu tertanggal 14 Oktober 2015. Saat itu, Prabowo mengaku menerima banyak pertanyaan dari masyarakat yang terdampak kabut asap.

Iklan

Ia menyarankan agar status bencana ditingkatkan menjadi bencana nasional supaya penanganannya lebih maksimal.

Prabowo saat itu juga mengusulkan pembentukan kementerian khusus penanggulangan bencana. Ia juga mencontohkan penggunaan teknologi satelit di Rusia untuk mendeteksi titik api sekaligus meminta aparat penegak hukum mengusut pelaku pembakaran hutan dan memberikan sanksi yang sesuai.

11 tahun setelah pernyataan tersebut, karhutla kembali jadi persoalan di Kalimantan. Pada 3 Oktober 2026, Kementerian Kehutanan menyebut Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat sebagai wilayah dengan jumlah titik panas tertinggi di antara enam provinsi prioritas pengendalian karhutla.

Situasi ini pun membuat pernyataan Prabowo pada 2015 kembali diperbincangkan. Hal itu terutama di tengah desakan masyarakat agar pemerintah menetapkan karhutla sebagai bencana nasional.

Unggahan akun Instagram @kaltengundercover kemudian memancing beragam reaksi netizen. Sebagian menyindir perbedaan posisi Prabowo pada 2015 dan sekarang.

Ada juga netizen yang lain menyoroti ironi ketika pernyataan lamanya kembali muncul saat karhutla jadi persoalan.

Selain itu, ada pula yang mempertanyakan apakah unggahan tersebut benar-benar mencerminkan sikap Prabowo saat ini.

Padahal klo sekarang bingung harus gimana tinggal liat postingan lama,”

tulis akun @koiyocabe.

Akun @rfarkhina bahkan menyindir seolah-olah Prabowo sedang memberikan nasihat kepada dirinya sendiri di masa depan.

Prabowo mencoba menasihati subianto di masa depan,”

tulis akun tersebut.

Sementara, akun @keke.f.zein menyoroti perubahan posisi Prabowo dari ketua umum partai jadi presiden dengan komentar yang lebih tajam.

Berarti lebih pantas jadi ketua partai aja kalo gitu karena terlihat lebih berempati daripada sekarang,”

komentar akun itu.

Sindiran lain datang dari akun @reseproti_jala_mak_lima_biadab yang menggunakan istilah berbeda untuk menggambarkan Prabowo sebelum dan sesudah menjabat sebagai presiden.

Ingat itu waktu dia masih prabowo skrg pascabowo,”

tulisnya.

Adapun akun @ita_purnamasari91 melontarkan sindiran dengan mempertanyakan siapa yang sebenarnya mengelola unggahan Facebook tersebut.

Ini kan yg buat admin bukan yg bersangkutan, upss,”

sindir akun itu.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Internship

    Mahasiswa IISIP Jakarta yang percaya bahwa setiap data punya cerita dan setiap kebijakan punya dampak. Sedang mendalami dinamika sosial

  • Asisten Redaktur

    Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.