Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Politik

Survei SMRC Kualitas Pemimpin Menuju 2029: Mahfud MD Teratas, Prabowo-Gibran Tertinggal

SMRC merilis hasil survei opinion leaders terkait kualitas kepemimpinan 31 tokoh nasional menjelang Pilpres 2029.

Ekpresi Wajah Prabowo dan Gibran
Ekpresi Wajah Prabowo dan Gibran/Doc. Owrite/Acel

Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) merilis hasil survei opinion leaders kualitas kepemimpinan 31 tokoh nasional menjelang Pilpres 2029.

Hasilnya, Presiden Prabowo Subianto memperoleh skor rata-rata 5,1 dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka 4,4 dari skala 0 sampai 10. Keduanya tertinggal dari Mahfud MD yang meraih skor tertinggi 7,6 dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dengan skor 7.

Hasil survei opinion leader yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada September 2026 itu dipaparkan pendiri SMRC, Saiful Mujani di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis, 15 Oktober 2026.

Iklan

Skor terendah Prabowo ada pada komitmen terhadap profesionalisme angkatan bersenjata dan polisi, yakni 4,2,”

kata Saiful.

Saiful menjelaskan, penilaian mencakup sembilan indikator untuk mengukur kualitas kepemimpinan demokratik transformatif. Salah satu temuan yang menonjol adalah rendahnya penilaian terhadap komitmen Prabowo dalam jaga profesionalisme TNI dan Polri.

Skor terendah Prabowo ada pada komitmen terhadap profesionalisme angkatan bersenjata dan polisi, yakni 4,2,”

jelas Saiful.

Prabowo hanya memperoleh skor 4,2 untuk indikator tersebut, setara dengan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep.

Menurut Saiful, nilai itu menjadi yang terendah di antara 31 tokoh yang dinilai dalam aspek profesionalisme angkatan bersenjata dan kepolisian.

Artinya, komitmen terhadap profesionalisme aparat menjadi salah satu tolok ukur penting dalam menilai kualitas kepemimpinan nasional,”

ujarnya.

Selain itu, Prabowo mendapat skor 4,9 untuk empati, 5,1 untuk kapabilitas, 5,3 untuk komitmen terhadap politik luar negeri bebas aktif, 5,5 untuk kemampuan memimpin, dan 5,8 untuk sikap pluralis-inklusif.

Saiful menyampaikan penilaian tersebut memperlihatkan bahwa skor Prabowo belum menembus angka 6 dalam indikator-indikator yang disebutkan.

Gibran juga mendapat penilaian rendah dalam sejumlah aspek. Untuk kapabilitas atau kompetensi, Wakil Presiden memperoleh skor 3,7, menjadi yang terendah kedua setelah Kaesang yang mendapat 3,3,”

jelasnya.

Dalam indikator integritas, Gibran meraih skor 4,0 dan empati 4,2. Pada indikator lainnya, Gibran mendapat skor 4,3 untuk kemampuan memimpin, 4,5 untuk komitmen terhadap profesionalisme TNI-Polri, 4,7 untuk politik luar negeri bebas aktif, serta 5,1 untuk sikap pluralis-inklusif.

Skor rata-rata keseluruhannya berada di angka 4,4. Berbeda dengan Prabowo dan Gibran, Mahfud MD menempati posisi teratas dalam hampir seluruh indikator. Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan itu memperoleh skor 7,6 untuk kapabilitas, 7,3 untuk empati, 7,7 untuk sikap pluralis-inklusif, dan 7,6 untuk kemampuan memimpin.

Mahfud juga memperoleh skor 7,8 untuk komitmen terhadap profesionalisme TNI-Polri. Sementara dalam indikator politik luar negeri bebas aktif, ia mendapat nilai 7,7, sedikit di bawah mantan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang memperoleh skor 7,8.

Dedi Mulyadi juga masuk dalam kelompok tokoh dengan penilaian tinggi. Gubernur Jawa Barat itu meraih skor 7,1 untuk empati dan 7,2 untuk sikap pluralis-inklusif. Dalam kemampuan memimpin, Dedi memperoleh skor 7,3, menempati posisi ketiga setelah Mahfud MD dengan 7,6 dan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dengan 7,4.

Untuk indikator lainnya, Dedi mendapat skor 6,7 dalam kapabilitas, 6,8 dalam komitmen terhadap politik luar negeri bebas aktif, dan 6,5 dalam komitmen terhadap profesionalisme TNI-Polri. Secara rata-rata, kualitas kepemimpinannya memperoleh skor 7.

Saiful menjelaskan, studi tersebut bertujuan memberi pemilih bahan pertimbangan untuk menilai calon pemimpin secara lebih mendalam. Menurut dia, masyarakat pada umumnya tidak selalu memiliki informasi yang cukup untuk mengevaluasi rekam jejak dan kualitas para tokoh nasional.

Penilaian mereka diharapkan menjadi bahan pertimbangan pemilih agar memilih pemimpin yang bervisi demokratik-transformatif,”

jelas Saiful.

Adapun, studi ini melibatkan 200 opinion leader, terdiri atas 166 akademisi dan ilmuwan dari berbagai bidang serta 34 jurnalis. Mereka diminta menilai 31 tokoh menggunakan skala 0 sampai 10 berdasarkan indikator kualitas kepemimpinan yang ditetapkan SMRC.

Namun, SMRC menegaskan hasil studi tersebut memiliki keterbatasan dalam hal keterwakilan responden.

Karena tidak tersedia daftar populasi opinion leader secara nasional, responden tidak dipilih secara acak, melainkan menggunakan teknik snowballing, terutama melalui media massa nasional dan daerah,”

kata Saiful.

Karenanya, Saiful menyampaikan, hasilnya bersifat deskriptif dan mencerminkan penilaian responden yang terlibat, bukan keseluruhan populasi opinion leader di Indonesia.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Rika Pangesti adalah reporter di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu megapolitan dan berita nasional. Berlatar pendidikan Magister Ilmu

  • Asisten Redaktur

    Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.