Dalam perbandingan tersebut, posisi Prabowot semakin tertinggal dari Dedi Mulyadi, sementara Anies dan Gibran turut berada dalam persaingan.
“Pertama kali dalam dua tahun, elektabilitas Presiden Prabowo makin jauh di bawah Dedi Mulyadi, diimbangi oleh Anies dan Gibran,”
ucap SMRC.
Perubahan elektabilitas berkaitan dengan penilaian masyarakat terhadap kinerja pemerintahan. Evaluasi publik terhadap kondisi nasional dan pelaksanaan program pemerintah menjadi bagian penting untuk memahami perubahan dukungan kepada Prabowo.
“Penurunan tajam elektabilitas Prabowo dalam dua tahun terakhir sangat berhubungan dengan kinerjanya,”
ujar SMRC.
SMRC turut menyoroti penilaian masyarakat terhadap kondisi makroekonomi dan politik serta pelaksanaan dua program unggulan pemerintah, yakni MBG dan KDMP. Penilaian negatif terhadap kondisi tersebut dinilai berkaitan dengan pelemahan dukungan elektoral kepada eks Menteri Pertahanan itu.
“Dengan kondisi makro ekonomi-politik yang dinilai publik buruk, dan penilaian atas program MBG dan KDMP yang negatif,”
tutur SMRC.
Beda Dukung
Perbedaan dukungan juga terlihat berdasarkan tingkat kepuasan responden terhadap pelaksanaan MBG. Di antara responden yang sangat puas terhadap program tersebut, elektabilitas Prabowo mencapai 25 persen. Angka itu turun menjadi 8 persen pada kelompok yang kurang puas dan 2 persen pada kelompok yang sama sekali tidak puas. Sebaliknya, pada kelompok responden yang sama sekali tidak puas terhadap pelaksanaan MBG, 88 persen memilih calon lain.
Perbedaan ini memperlihatkan hubungan antara penilaian terhadap pelaksanaan program dan pilihan elektoral responden dalam data yang dipaparkan.
Pola serupa terlihat pada KDMP. Elektabilitas Prabowo mencapai 19 persen di antara responden yang sangat yakin program tersebut akan berkembang. Angka itu turun menjadi 6 persen pada kelompok yang kurang yakin dan 3 persen pada kelompok yang sama sekali tidak yakin.