Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Politik

Dua Tahun Prabowo: MBG dan KDMP Sekadar ‘Karpet Merah’ Elektoral 2029?

Pengamat menduga program Prabowo berpotensi dimanfaatkan untuk membangun jejaring politik demi pemilu tiga tahun mendatang.

Siswa memperlihatkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disajikan secara prasmanan di SMP Kemala Bhayangkari 3, Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Siswa memperlihatkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disajikan secara prasmanan di SMP Kemala Bhayangkari 3, Jakarta, Kamis (15/10/2026). (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/YU)

Menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang jatuh pada Selasa, 20 Oktober 2026, Direktur Rumah Politik Indonesia Fernando Emas mengkritik pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Ia menilai kedua program tersebut perlu dievaluasi, mulai dari persiapan dan dugaan kepentingan elektoral hingga potensi dampaknya terhadap keberlangsungan usaha kecil.

“Persoalan pelaksanaan MBG sejak awal pemerintahan banyak mendapatkan kritik dan sorotan dari masyarakat karena dianggap program politik untuk kepentingan 2029. Sehingga pelaksanaannya dipaksakan,”

kata Fernando Emas kepada Owrite.id, Senin, 19 Oktober 2026.

Celah

Fernando menyoroti besarnya anggaran MBG yang menimbulkan pertanyaan mengenai tujuan pelaksanaan. Bahkan ia menduga program tersebut juga berpotensi dimanfaatkan untuk membangun jejaring politik demi pemilu tiga tahun mendatang.

Iklan

“Anggaran yang begitu besar terkesan hanya untuk kepentingan membangun jejaring penggalangan suara demi elektoral pada pilpres 2029,”

tutur dia.

Menurut Fernando pelaksanaan MBG semestinya didahului kajian dan persiapan yang matang agar program dapat berjalan sesuai kebutuhan serta memiliki perencanaan yang memadai.

“Sehingga tanpa kajian dan persiapan yang matang, program MBG langsung dilaksanakan oleh Presiden Prabowo Subianto,”

ujar dia.

Kritik serupa ia sampaikan terhadap program KDMP. Fernando menilai pelaksanaannya terkesan lebih mengutamakan pencapaian target daripada mempertimbangkan kebutuhan masyarakat di lokasi pembangunan.

“Hampir sama dengan MBG, pelaksanaan program KDMP terkesan hanya kejar target. Sehingga pemilihan lokasi tidak sesuai kebutuhan,”

ucap dia.

Selain persoalan lokasi, Fernando mengkhawatirkan keberadaan KDMP berpotensi menambah tekanan bagi pelaku usaha kecil, khususnya warung yang selama ini melayani kebutuhan sehari-hari warga di sekitar permukiman.

“KDMP juga dikhawatirkan akan mematikan usaha kecil yang selama ini menjalankan usaha warung di seputar rumah-rumah penduduk,”

tutup dia.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar

  • Asred

    Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.