Selama bertahun-tahun, nama Lafa Pratomo mungkin lebih sering muncul di balik layar daripada di depan panggung. Namun, jangan salah, banyak lagu yang masuk playlist kamu kemungkinan besar lahir dari sentuhan produser yang satu ini.
Setelah 12 tahun berkarya di industri musik Indonesia, Lafa akhirnya membuka babak baru lewat proyek kolaboratif bertajuk Garis Tegak.
Proyek ini bukan album solo seperti yang mungkin dibayangkan banyak orang, melainkan sebuah EP yang menjadi perayaan perjalanan kreatifnya bersama para musisi yang selama ini menginspirasi sekaligus pernah bekerja dengannya.
Diproduksi bersama KithLabo, Garis Tegak menjadi penanda dua momen penting sekaligus: 12 tahun perjalanan Lafa sebagai produser dan 6 tahun KithLabo membangun ruang kolaborasi bagi musisi independen Indonesia.
Yang membuat proyek ini makin menarik, Lafa mengajak 12 musisi untuk berkolaborasi dalam enam lagu. Nama-namanya pun nggak main-main, mulai dari Feby Putri, Matter Mos, Nadhif Basalamah, Hursa, Bilal Indrajaya, The Jansen, Ari Lesmana, White Chorus, Isyana Sarasvati, Jason Ranti, Hindia, hingga Banda Neira.
Perjalanan EP ini akan dibuka lewat single “Seperti Angka 8” yang mempertemukan Lafa Pratomo, Feby Putri, dan Matter Mos.
Lagu tersebut dijadwalkan rilis di seluruh platform digital pada 4 Agustus 2026, sementara video musiknya akan menyusul pada 11 Agustus 2026 melalui kanal YouTube KithLabo dan para musisi yang terlibat.
Menariknya, Lafa menegaskan bahwa Garis Tegak bukanlah album solo dalam arti sebenarnya. Setiap lagu lahir dari proses workshop, di mana semua musisi datang tanpa membawa lagu jadi ataupun konsep yang sudah matang. Mereka berkumpul, bertukar cerita, lalu menciptakan karya bersama dalam posisi yang setara.
Seluruh proses kreatif tersebut berlangsung di Syaip Studio, studio yang didirikan Lafa sebagai ruang kolaborasi dan tempat berbagai ide musik berkembang.
Judul Garis Tegak sendiri menyimpan makna yang cukup dalam. Menurut Lafa, proyek ini lahir dari keresahan yang mungkin juga dirasakan banyak orang saat ini: Bagaimana caranya tetap bertahan di tengah hidup yang penuh ketidakpastian.
Baginya, garis tegak menjadi simbol resiliensi, kemampuan untuk tetap berdiri meski keadaan terus berubah.
Setiap lagu akhirnya menyampaikan resiliensi dari sudut pandang yang berbeda-beda,”
ungkap Lafa.
Makna tersebut juga dirasakan oleh para kolaborator. Dalam lagu pembuka “Seperti Angka 8”, misalnya, Feby Putri memaknai resiliensi lewat perjalanan hidupnya saat merantau ke Jakarta hingga akhirnya menemukan pasangan hidup yang kini menjadi tempatnya bertumbuh bersama.
Sementara itu, Matter Mos melihat resiliensi sebagai kemampuan untuk tetap berpijak pada nilai dan orang-orang yang menjadi poros kehidupan.
Selain musik, proyek ini juga menghadirkan konsep visual yang digarap bersama Gema Semesta sebagai creative partner.
Seluruh materi foto dan video musik diarahkan oleh fotografer sekaligus sutradara Yogi Koesoema, sehingga setiap rilisan dalam Garis Tegak nantinya memiliki identitas visual yang saling terhubung.
Lewat proyek ini, Lafa seolah membuktikan bahwa menjadi produser bukan hanya soal membuat lagu untuk orang lain. Setelah lebih dari satu dekade berkarya di balik layar, ia memilih merayakan perjalanan tersebut dengan cara yang paling dekat dengannya: berkolaborasi.
Garis Tegak bukan sekadar kumpulan lagu, tetapi juga arsip perjalanan, pertemanan, dan cerita tentang bagaimana bertahan di tengah kehidupan yang terus berubah.
Sebuah babak baru yang sekaligus menunjukkan bahwa di dunia musik, terkadang karya terbaik lahir ketika banyak kepala dan hati bertemu dalam satu ruang kreatif.










