Menurut Lynne M. Andersson dan Christine M. Pearson dalam jurnal Academy of Management Review, perilaku ini bisa dimulai dari hal yang kelihatannya kecil, tetapi berpotensi berkembang menjadi konflik yang lebih serius kalau terus dibiarkan.
Si Paling Lempar Kerjaan
Deadline sudah mepet, tapi tiba-tiba ada pesan, “Bisa bantu kerjain ini nggak?” Masalahnya, “bantu” di sini berarti kamu yang mengerjakan hampir semuanya.
Si Paling Benar
Diskusi seharusnya jadi tempat bertukar pendapat. Tapi tipe ini punya bakat khusus untuk mengubah diskusi menjadi debat. Pendapat orang lain salah, idenya paling bagus, dan kalau hasilnya gagal biasanya ada orang lain yang disalahkan.
Si Tukang Nyindir
Nggak pernah ngomong langsung, tapi hobinya melempar komentar yang bikin suasana kerja jadi awkward. “Wah, ternyata ada juga yang bisa selesai tepat waktu.”
Masalahnya, perilaku seperti ini bukan cuma bikin mood turun. Penelitian Kenji Sakurai dan Steve M. Jex menemukan bahwa pengalaman mendapat perlakuan tidak sopan dari rekan kerja berkaitan dengan emosi negatif, penurunan usaha kerja, dan meningkatnya perilaku kontraproduktif.
Penelitian Lisa M. Penney dan Paul E. Spector juga menemukan hubungan antara incivility, konflik interpersonal, kepuasan kerja yang lebih rendah, dan perilaku kontraproduktif.
Jadi kalau kamu merasa satu orang di kantor bisa bikin energi satu ruangan langsung minus, mungkin itu bukan cuma perasaanmu.
Tapi daripada ikut perang dingin, tetap pasang batas, komunikasikan masalah dengan jelas, dan kalau perilakunya sudah mengganggu pekerjaan, jangan takut melibatkan atasan atau HR.
Karena kerja memang butuh teamwork, tapi bukan berarti kamu harus punya kesabaran level dewa setiap hari. Jangan lupa share artikel ini dan follow Instagram @sefruitmedia untuk informasi menarik lainnya, ya!