Pemerintah masih optimis pertumbuhan ekonomi mencapai 5,5 persen pada kuartal IV-2025, di tengah bencana banjir dan tanah longsor yang menimpa Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui, bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera akan menahan laju pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025. Namun, ia mengatakan bahwa dampaknya tidak akan terlalu signifikan, sejalan dengan perbaikan-perbaikan infrastruktur.
Akan berdampak, tapi tidak sampai memperlambat terlalu signifikan. Apalagi nanti kalau ada perbaikan-perbaikan fasilitas, bangunan dan lain-lain itu akan menaruh ekonomi sedikit,”
ujar Purbaya di Komples DPR RI, Jakarta, Kamis, 4 Desember 2025.
Purbaya memperkirakan, ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 masih akan berada di angka 5,5 persen. Meski demikian, ia mengatakan masih akan memonitor kondisi keuangan di sistem finansial.
Saya pikir masih akan diatas 5,5 persen. Saya akan monitor kondisi keuangan di sistem finansial. Kalau masih dianggap kurang saya akan gelontorkan lagi uang saya ke perbankan,”
jelasnya.
Dalam kesempatan terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan saat ini pemerintah tengah memonitor dampak bencana Sumatera ke pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025.
Belum ada (perubahan target pertumbuhan ekonomi), masih kita lihat. Nanti kita monitor,”
ujar Airlangga.
Ekonom Perkirakan Laju Ekonomi Tertahan
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, menyatakan bancana banjir dan tanah longsor di Sumatera dipastikan akan menahan laju pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025. Hal ini karena Sumatera menyumbang sekitar 22-23 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera hampir pasti akan menahan laju pertumbuhan kuartal IV perekonomian nasional mengingat Sumatera menyumbang sekitar 22-23 persen PDB Indonesia,”
ujar Josua kepada owrite.
Kata Josua, bencana yang meluas di beberapa kabupaten dan kota dipastikan mengganggu panen dan distribusi hasil pertanian, aktivitas perdagangan lokal. Kemudian juga akan menahan kegiatan pertambangan, serta industri pengolahan yang mengandalkan jalur darat dan pelabuhan di wilayah terdampak.
Dalam jangka sangat pendek, ini menurunkan jam kerja, menunda pengiriman barang, serta menekan konsumsi rumah tangga di daerah bencana karena sebagian pendapatan bergeser untuk pemulihan,”
jelasnya.
Kendati demikian, dampak itu hanya bersifat geografis dan sektoral, tidak merata ke seluruh Sumatera, dan hanya mengenai satu bagian dari satu kuartal. Sebab jelas Josua, motor utama pertumbuhan ekonomi nasional masih berada di Jawa dan kawasan lain.
Jika pertumbuhan Sumatera di kuartal IV turun misalnya setengah poin persentase akibat bencana, pengaruh langsungnya ke PDB nasional hanya sekitar nol koma satu poin, karena bobot Sumatera sekitar seperlima PDB,”
ujarnya.
Target Pertumbuhan 5,5 Persen Jadi Menantang
Josua menilai, target pertumbuhan ekonomi Menteri Keuangan Purbaya sebesar 5,5 persen hingga 5,7 persen akan sangat menantang usai terjadinya bencana.
Secara matematika sederhana, dengan realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal I sebesar 4,87 persen, kuartal II 5,12 persen, dan kuartal III 5,04 persen, dan bila kuartal IV di kisara 5,6 persen maka akan mendorong pertumbuhan sepanjang tahun 2025 mendekati 5,2 persen.
Sedangkan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 5,5–5,7 persen di kuartal IV, dibutuhkan lonjakan serentak konsumsi, investasi, dan ekspor yang cukup kuat.
Namun, dengan adanya banjir dan longsor di Sumatera justru menimbulkan friksi baru di sisi penawaran barang, menahan penjualan ritel dan produksi di wilayah terdampak, dan menambah ketidakpastian bagi pelaku usaha
Sehingga ruang akselerasi tajam dalam waktu hanya satu kuartal menjadi makin sempit. Dengan kata lain, tanpa bencana pun target tersebut sudah ambisius dengan bencana, peluang mencapainya kian kecil dan lebih realistis untuk mengatakan bahwa pertumbuhan kuartal IV kemungkinan berada di bawah rentang sasaran Menkeu,”
jelasnya.
Dengan kondisi ini, Josua memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia setelah terjadinya bencana Sumatera akan ada di angka5,1 persen, dengan kisaran 5,0–5,2 persen pada kuartal IV-2025.
Dengan rentang ini, pertumbuhan ekonomi setahun penuh 2025 akan berada di sekitar 5,0–5,1 persen. Angka tersebut mencerminkan bahwa bencana di Sumatera memang menahan laju pemulihan, tetapi tidak sampai menggeser perekonomian keluar dari jalur pertumbuhan sekitar 5 persen,”
imbuhnya.


