Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Mata Uang Garuda Masih Loyo, Gubernur BI Klaim Sudah Intervensi All Out Jaga Rupiah

Otoritas moneter sudah melakukan intervensi rupiah pakai cadangan devisa dalam jumlah besar, per Maret 2026 turun menjadi US$148,2 miliar.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (sumber: Owrite/Anisa Aulia)
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (sumber: Owrite/Anisa Aulia)

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan, akan totalitas alias all out melakukan strategi intervensi nilai tukar rupiah, agar tidak ambruk seperti beberapa waktu terakhir. Strategi ini nonstop dilakukan selama 24 jam dengan menyasar pasar domestik dan pasar asing.

Perry mengatakan, otoritas moneter sudah melakukan intervensi menggunakan cadangan devisa dalam jumlah besar. Cadangan devisa per Maret 2026 turun menjadi US$148,2 miliar.

Itu bukan business as usual, dari tujuh langkah itu adalah langkah-langkah yang all out. Langkah satu itu kan intervensi dalam jumlah yang besar, dengan cadangan devisa,”

ujar Perry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Kamis, 7 Mei 2026.
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta. (Sumber: Antara Foto/Darryl Ramadhan/kye)
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta. (Sumber: Antara Foto/Darryl Ramadhan/kye)

BI Intervensi di Pasar Luar Negeri

Perry mengatakan, bank sentral juga melakukan intervensi di pasar luar negeri secara all out diantaranya di Hongkong, Singapura, London, dan New York. Sedangkan di dalam negeri intervensi dengan menunjuk bank-bank domestik. 

Iklan

Intervensi juga kita telah menunjuk bank-bank domestik untuk juga ikut jualan NDF di luar negeri, yaitu melalui pendalaman pasar uang. Tidak hanya bank-bank Himbara juga bank-bank yang swasta yang lain,”

katanya.

Perry mengungkapkan, pelemahan nilai tukar rupiah ini disebabkan oleh faktor global karena tensi geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, peningkatan suku bunga AS, dan kaburnya investor asing dari negara emerging market.

Seluruh mata uang dunia itu melemah. Kita jaga tingkat pelemahannya itu tidak terlalu tinggi dengan all out tadi,”

imbuhnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi

  • Redaktur

    Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.