Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez menegaskan bahwa Nicolás Maduro tetap menjadi presiden yang sah untuk Venezuela, menyusul operasi militer ilegal Amerika Serikat (AS) yang berujung pada penahanan kepala negara tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Rodríguez dalam pidato yang disiarkan langsung televisi pemerintah, Sabtu siang waktu setempat. Di hadapan para pejabat tinggi negara, ia menyebut tindakan AS sebagai penculikan terhadap presiden negara berdaulat dan menegaskan Venezuela tidak akan pernah menjadi koloni atau tunduk pada kekuatan asing mana pun.
Kami akan mempertahankan kedaulatan, sumber daya alam, dan martabat bangsa. Venezuela tidak akan menjadi budak kekaisaran mana pun,”
ujar Rodríguez dikutip dari Xinhua pada Minggu, 4 Januari 2026.
AS Klaim Akan Pimpin Venezuela Sementara
Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Washington akan menjalankan Venezuela untuk sementara waktu, menyusul operasi militer besar yang digelar dini hari 3 Januari. Operasi tersebut melibatkan pasukan khusus AS, pemadaman listrik di sejumlah wilayah Caracas, serta serangan ke instalasi militer strategis.
Dalam operasi itu, Maduro dan istrinya Cilia Flores ditangkap, diterbangkan dengan helikopter ke kapal Angkatan Laut AS, lalu dibawa ke New York. Keduanya kini ditahan di Metropolitan Detention Center, Brooklyn, dengan pengawalan ketat aparat keamanan AS.
Trump, dalam konferensi pers di resor Mar-a-Lago, Florida, menyatakan AS akan mengelola Venezuela hingga tercapai “transisi yang aman, tepat, dan bijaksana”. Ia juga membuka kemungkinan pengiriman pasukan darat serta masuknya kembali perusahaan minyak besar AS untuk membenahi industri energi Venezuela yang kolaps.
Kami tidak takut dengan pasukan militer di darat,”
kata Trump dilansir dari Reuters.
Maduro dijerat sejumlah dakwaan federal di AS, termasuk konspirasi narco-terrorisme, dan dijadwalkan menjalani sidang perdana di pengadilan federal Manhattan.
Pemerintahan Venezuela Tetap Berjalan
Meski Maduro ditahan, struktur pemerintahan Venezuela masih beroperasi. Rodríguez, yang tampil bersama menteri dalam negeri, menteri luar negeri, dan pejabat senior lainnya, menyerukan ketenangan nasional dan meminta rakyat Venezuela menghadapi situasi ini secara bersatu.
Pengadilan Venezuela sebelumnya memerintahkan Rodríguez menjalankan fungsi kepresidenan sementara demi menjamin keberlangsungan pemerintahan. Namun Trump mengklaim sebaliknya, dengan menyatakan Rodríguez telah “dilantik” sebagai presiden dan menyebut Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio telah berkomunikasi langsung dengannya, yang kemudian klaim itu dibantah pihak Caracas.
Reaksi Global dan Kekhawatiran Regional
Situasi di dalam negeri Venezuela relatif terkendali pasca-operasi, meski patroli militer masih terlihat di sejumlah titik Caracas. Pendukung Maduro berkumpul dalam kelompok kecil, sementara sebagian diaspora Venezuela di luar negeri merayakan penangkapan tersebut.
Di tingkat global, Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar pertemuan darurat. Sekjen PBB Antonio Guterres menyebut, tindakan AS sebagai preseden berbahaya. Rusia dan China secara terbuka mengecam langkah Washington sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan kedaulatan negara.
Rodríguez memperingatkan bahwa apa yang terjadi di Venezuela bisa menjadi preseden bagi negara lain di kawasan.
Jika ini dibiarkan, tidak ada negara di Amerika Latin yang benar-benar aman,”
katanya.
