Operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela memberikan dampak kesehatan kepada masyarakat Venezuela.
Epidemiolog, Ahli Kesehatan Lingkungan, sekaligus PhD di Bidang Global Health Security, dr. Dicky Budiman, M.Sc.PH. menjelaskan tentang potensi ancaman kesehatan dari perang terhadap masyarakat Venezuela.
Menurut dr Dicky, dalam konteks status kesehatan, sebelum konflik sekalipun sistem kesehatan Venezuela itu sudah rapuh.
Dia mengalami kekurangan obat-obatan, termasuk terapi HIV, AIDS, dan vaksin. Juga re-emerging disease terjadi, khususnya difteri misalnya, akibat krisis ekonomi dan juga migrasi besar-besaran tenaga kesehatan,”
ujar dr Dicky dalam keterangannya, Senin 5 Januari 2026.
Dokter Dicky menyebutkan, potensi dari dampak konflik yang terjadi saat ini adalah meningkatnya gangguan distribusi obat dan layanan kesehatan.
Dengan intervensi militer yang terjadi, berpotensi ketidakstabilan keamanan yang akan memperburuk akses terhadap obat esensial, layanan imunisasi dan perawatan krisis khususnya untuk penyakit HIV, malaria, ataupun diabetes.
Selain itu, adanya migrasi atau epidemius, atau gelombang pengungsi dari Venezuela yang akan semakin meningkat. Ini akan memperberat sistem kesehatan negara tetangga Venezuela, khususnya Kolombia ataupun Peru,”
katanya.
Selain itu, kondisi tersebut juga meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular di wilayah transisi atau pengungsian.
Kemudian juga meningkatnya risiko kekerasan dan trauma karena konflik bersenjata umumnya akan meningkatkan cedera terkait kekerasan yang menambah beban kesehatan darurat.
“Ini pengalaman langsung saya ya dalam berbagai misi di berbagai negara konflik ya. Dan artinya ketidakstabilan politik yang terjadi di region Amerika ini, khususnya antara Venezuela dan Amerika ini dan negara sekitarnya akan meningkatkan cedera terkait kekerasan dan termasuk juga berdampak langsung pada layanan kesehatan rakyat Venezuela dan tentu tekanan terhadap sistem regional,”
tuturnya.
Selain itu juga potensi penyakit vektor, khususnya yang ditularkan melalui nyamuk. Ini sangat tinggi risikonya karena Venezuela pernah menjadi epicentrum kebangkitan malaria di Amerika Latin.
Dan pemicu konflik ini akan meningkatkan migrasi internal ke daerah tambang ilegal yang kita tahu biasanya daerah tambang ilegal banyak sekali nyamuk, sarang nyamuk,”
ucapnya.
Termasuk juga ini akan berisiko menyebar malaria ini ke Brazil, Kolombia ataupun Peru. Selain itu yang ditularkan melalui nyamuk juga yang bisa menjadi wabah adalah dengue, zika dan cikungunya. Ini tentu juga dipicu oleh situasi darurat atau perang ini,”
sambungnya.
Kemudian juga penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi juga berpotensi meningkat seperti campak. Karena sebelumnya Venezuela juga mengalami re-emerging campak. Apalagi dengan konflik imunisasi otomatis banyak terhenti.
Dan ini adalah tanda serius bagi sistem kesehatan di kawasan ketika difteri meningkat. Dan tentu hal yang juga penting diketahui bahwa walaupun kecil, ketika itu perang ada di hutan ataupun daerah tropis sekalian, akan ada kontak manusia dengan satwa liar. Dan ini yang akan meningkatkan risiko spillover patogen baru. Meskipun probabilitasnya rendah tapi ketika itu terjadi dampaknya bisa besar,”
tandasnya.



