Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Minggu, 9 Agu 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Sepak Bola
  • DPR
  • Korupsi
  • prabowo
  • MBG
  • Piala Dunia 2026
  • Purbaya
  • Prabowo Subianto
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Ekonomi Bisnis / (Part I) Tahta Deputi Gubernur BI: Thomas Djiwandono dan Jebolnya Brankas Independensi De Javasche Bank
Ekonomi Bisnis

(Part I) Tahta Deputi Gubernur BI: Thomas Djiwandono dan Jebolnya Brankas Independensi De Javasche Bank

owrite-adi-briantikaAmin-Suciady-Owrite
Last updated: Januari 29, 2026 3:59 pm
By
Adi Briantika
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Follow:
Amin Suciady
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya,...
Follow:
6 bulan lalu
Share
Deputi Gubernur Bank Indonesia terpilih, Thomas Djiwandono (sumber: Owrite/Anisa Aulia)
Deputi Gubernur Bank Indonesia terpilih, Thomas Djiwandono (sumber: Owrite/Anisa Aulia)
SHARE

Tahun 1828, pemerintah Kerajaan Belanda memberikan octrooi atau hak-hak istimewa kepada De Javasche Bank (DJB) untuk bertindak sebagai bank sirkulasi pertama di Asia.

Daftar isi Konten
  • Pertaruhan Rupiah di Meja Makan Keluarga
  • Kompetensi dan Meritokrasi

Sebagai bank sirkulasi, lembaga itu berwenang mencetak dan mengedarkan uang Gulden di wilayah Hindia Belanda.

Octrooi secara periodik diperpanjang setiap 10 tahun sekali. Secara keseluruhan, DJB telah melalukan tujuh kali masa perpanjangan octrooi. 

Tahun 1922, pemerintah Belanda menerbitkan Undang-Undang De Javasche Bank Wet. Pemerintah kolonial pun menggunakan DJB untuk mendukung kebijakan finansial dari sistem tanam paksa.

Rentang 1829-1870, DJB melakukan ekspansi bisnis dengan membuka kantor cabang di beberapa kota di Hindia Belanda, termasuk di luar Jawa: Semarang (1829), Surabaya (1829), Padang (1864), Makassar (1864), Cirebon (1866), Solo (1867), dan Pasuruan (1867).

Tahun 1951, enam tahun setelah proklamasi kemerdekaan, muncul desakan kuat untuk mendirikan bank sentral sebagai wujud kedaulatan ekonomi Republik Indonesia.

Maka, pemerintah memutuskan untuk membentuk Panitia Nasionalisasi DJB. Proses nasionalisasi dilakukan melalui pembelian saham DJB oleh pemerintah Indonesia, dengan besaran mencapai 97 persen.

Pada 1 Juli 1953, terbitlah Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1953 tentang Pokok Bank Indonesia (BI), yang menggantikan DJB Wet.

Sejak saat itulah Bank Indonesia secara resmi berdiri sebagai Bank Sentral Republik Indonesia. Regulasi tersebut merupakan ketentuan pertama yang mengatur BI sebagai bank sentral.

Tugas BI tidak hanya sebagai bank sirkulasi, melainkan sebagai bank komersial melalui pemberian kredit.

Pada masa ini, terdapat Dewan Moneter (DM) yang bertugas menetapkan kebijakan moneter. DM diketuai Menteri Keuangan dengan anggota Gubernur BI dan Menteri Perdagangan.

Selanjutnya, BI bertugas menyelenggarakan kebijakan moneter yang telah ditetapkan oleh DM. Era berlalu, kini keberadaan BI mendapatkan mandat baru di bidang makroprudensial.

Perubahan besar ini secara otomatis membutuhkan penguatan internal melalui langkah transformasi BI.

Dengan hadirnya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK), BI bertekad berperan aktif dalam pengembangan dan penguatan sektor keuangan di dalam negeri.

Salah satu Gubernur BI ialah Joseph Soedradjad Djiwandono, pemimpin BI kurun Maret 1993-Februari 1998.

Ia memiliki anak, yakni Thomas Djiwandono dan Budi Djiwandono—nama pertama terpilih menjadi Deputi Gubernur BI—dari hasil pernikahannya dengan anak dari Sumitro Djojohadikusumo.

Sumitro merupakan ayah dari Presiden Indonesia saat ini, Prabowo Subianto. Artinya, Thomas menduduki kursi Deputi Gubernur BI ketika pamannya menjadi orang nomor satu di Indonesia.

27 Januari 2026, Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun, dalam uji kelayakan dan kepatutan kandidat Deputi Gubernur, menjadi seorang “buta yang berjalan tanpa ragu”.

Sebab fakta Thomas merupakan keponakan Prabowo tidak bisa ditampik, namun Misbakhun mengakui si kandidat tetap profesional ketika bertugas nanti.

Bahwa fakta Pak Thomas keponakan (Prabowo), iya. Tapi dia tadi sangat profesional menjelaskan tentang bagaimana kebijakan-kebijakan itu diambil dalam sebuah proses. Sehingga kalau menurut saya, isu itu bisa dikesampingkan bahwa ada profesionalisme,”

aku Misbakhun.

Ketika ditanya perihal ketiadaan pengalaman Thomas dalam ranah kebijakan moneter, Misbakhun mengatakan bahwa:

Pengalaman monetary policy itu bisa diperkuat ketika Thomas mempunyai pengalaman fiscal policy. Jadi saling melengkapi dan bisa berjalan dalam proses selanjutnya.”

Pertaruhan Rupiah di Meja Makan Keluarga

Manajer Riset Strategis CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet berkata, rekam jejak Thomas yang kental dengan afiliasi politik—sebagai Bendahara Umum Gerindra—dan hubungan kekerabatan dengan kekuasaan memunculkan persepsi negatif terkait potensi intervensi pemerintah terhadap kebijakan moneter.

Publik tidak bisa menafikan, meskipun disampaikan beliau sudah mundur dari partai, tapi rekam jejak historis menunjukkan beliau orang dekat dengan kepemimpinan saat ini yang menimbulkan risiko atau persepsi tidak begitu baik terutama dari aspek independensi Bank Sentral,”

kata Yusuf kepada owrite.

Karena dengan masuknya Thomas, ada kekhawatiran keputusan-keputusan BI “bisa” dipengaruhi oleh pandangannya dan akan bias terhadap kutub tertentu, misalnya pemerintah.

Sorotan utama tertuju pada risiko fiscal dominance, sebuah kondisi di kebijakan moneter (BI) disetir dan dipaksa tunduk untuk melayani kebutuhan fiskal (pemerintah/APBN).

Analogi ekonomi yang sehat ialah seperti sebuah kendaraan. Pemerintah yang agresif membelanjakan anggaran (untuk program seperti Makan Bergizi Gratis) berfungsi sebagai kaki yang menginjak ‘gas’ untuk pertumbuhan.

Sementara, BI berfungsi sebagai kaki yang menginjak ‘rem’ untuk menjaga stabilitas dan inflasi. Bahaya muncul ketika kedua ‘kaki’ dikendalikan oleh satu kepentingan yang sama.

(Kekhawatirannya) ketika ada intervensi dan bank sentral itu kehilangan kekuatan untuk mengatakan ‘tidak’ pada beberapa aspek yang nanti diminta oleh pemerintah dari sisi kolaborasi fiskal dan moneter,”

lanjut dia.

Jika intervensi terjadi dan BI gagal mengerem, inflasi bisa melonjak drastis. Ketika inflasi meningkat di luar target karena intervensi politik, maka harga barang naik. Dalam konteks daya beli masyarakat yang masih tertekan saat ini, kondisi tersebut adalah kabar buruk.

Pasar keuangan adalah indikator paling jujur dan cepat dalam merespons risiko ini. Pelemahan nilai tukar rupiah sesaat setelah nama Thomas mencuat sebagai kandidat kuat menjadi bukti nyata kegelisahan investor.

Market sudah me-highlight, salah satunya risiko tergerusnya independensi bank sentral dengan terpilihnya beliau. Ini dibuktikan dengan nilai tukar rupiah yang kembali melemah,”

Jelas Yusuf.

Selain itu, ada pula dampak jangka panjang terhadap Surat Berharga Negara (SBN). Jika persepsi independensi BI rusak, investor akan menuntut kompensasi risiko yang lebih tinggi.

Skenario moderatnya, investor tetap membeli SBN, tapi mereka meminta imbal hasil (yield) yang lebih tinggi lantaran risiko membesar. Imbal hasil tinggi bakal membebani bunga utang pemerintah di masa depan. Padahal, proporsi bunga utang negara meningkat dalam 10 tahun terakhir.

Ini adalah konsekuensi-konsekuensi yang dapat muncul ketika pemerintah tidak bisa, atau dalam hal ini Bank Sentral, tidak bisa memastikan independensinya,”

ucap dia.

Kompetensi dan Meritokrasi

Selain isu independensi, Yusuf juga menyoroti aspek kompetensi dan meritokrasi. Ia menilai, pengalaman Thomas di sektor moneter sangat minim jika dibandingkan dengan kandidat lain yang berasal dari karier internal BI dan juga menjadi kandidat Deputi Gubernur, Dicky Kartikoyono dan Solikin M Juhro.

Posisi Thomas yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan dalam waktu singkat pun belum cukup membuktikan kapasitas teknokratisnya untuk jabatan strategis Deputi Gubernur BI.

Penempatan figur politik atau keluarga di posisi teknokratis tanpa basis meritokrasi yang kuat berpotensi merusak tata kelola lembaga negara, yang menurut Yusuf sebagai sinyal kemunduran bagi reformasi institusional pasca-1998.

Saya kira memang ada tren ke sana (kemunduran demokrasi). Semoga yang publik perkirakan ini salah, tapi memang ada tendensi ke sana. Orang-orang dekat dengan pemerintah ditempatkan tanpa menjalankan prinsip meritokrasi. Seandainya orang yang ditempatkan itu tidak punya pengalaman, tidak heran menimbulkan pertanyaan ‘apakah dia bisa menjalankan pekerjaannya?”

kata Yusuf.

Kini, publik dan pasar hanya bisa menunggu dan mengawasi. Apakah Thomas mampu membuktikan dirinya sebagai teknokrat yang independent, atau justru membenarkan ketakutan pasar bahwa BI menjadi “kasir” bagi ambisi politik pemerintah.

Tag:Bank IndonesiaBerita PentingDe Javasche BankDPRSpillThomas Djiwandono
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya, Toponimi Jakarta Barat dan Toponimi Jakarta Timur, yang mendokumentasikan asal-usul nama wilayah dan jejak budaya ibu kota.
Trending di OWRITE
Wasit Jadi Sorotan! Keputusan VAR di Laga Indonesia vs Singapura Tuai Polemik
By Hadi Febriansyah
Pesepak bola Timnas Indonesia berfoto bersama sebelum laga melawan Timnas Kamboja pada pertandingan Grup A ASEAN Championship atau Piala AFF 2026 di Stadion Gelora Pakansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
1
Enam Lantai Gedung Bapenda DKI Terbakar, Titik Awal Api Masih Misterius
By Rika Pangesti
Petugas Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta bersiap memadamkan kobaran api yang membakar Gedung Badang Pendapatan Daerah (Bapenda) DKI Jakarta di Jalan Abdul Muis, Jakarta
2
Kasus Korupsi MBG Makin Melebar, Kejagung Sudah Periksa 80 Lebih Saksi
By Rahmat Baihaqi
Direktur Penyidikan Jampidus Kejagung Syarief Sulaeman Nahdi (kanan) didampingi Kapuspenkum Kejagung Anang Supriatna (ketiga kiri) menyampaikan keterangan pers terkait kasus dugaan tindak pidana korupsi tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kejaksaan Agung, Jakarta, Kamis (18/6/2026).
3
Bukan Wasit Elite AFC, Ini Fakta Mohammed Khalfan Salim Pimpin Laga Indonesia vs Singapura
By Hadi Febriansyah
Pesepak bola Timnas Indonesia berfoto bersama sebelum laga melawan Timnas Kamboja pada pertandingan Grup A ASEAN Championship atau Piala AFF 2026 di Stadion Gelora Pakansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
4
John Herdman Buka Suara Usai Indonesia Tersingkir, Tolak Salahkan Wasit!
By Hadi Febriansyah
Pelatih Timnas Indonesia John Herdman bersiap memimpin anak latihnya melawan Timnas Kamboja pada pertandingan Grup A ASEAN Championship atau Piala AFF 2026 di Stadion Gelora Pakansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
5

BERITA LAINNYA

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. (Sumber: Youtube Kementerian ESDM)
Ekonomi Bisnis

Bahlil Kenang Saat “Dihajar” Demonstran 1,5 Bulan Gegara Larangan Ekspor Nikel

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengenang salah satu…

iren natania longdongdusep-malik
By
Natania Longdong
Dusep Malik
1 hari lalu
Kereta Cepat (Whoosh) Jakarta-Bandung. (Sumber: Dok. KCIC)
Ekonomi Bisnis

Diklaim Purbaya Tak Bebani APBN, Utang Whoosh Justru Bisa Jadi ‘Bom Waktu’

Utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh akan diselesaikan oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu)…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep Malik
1 hari lalu
Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan dalam acara pertemuan dengan periset dan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di halaman Istana Negara, Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Ekonomi Bisnis

Kepuasan terhadap Prabowo Anjlok, Publik Lebih Percaya Kondisi Ekonomi Riil daripada Angka Pemerintah

Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menurun tajam sekitar…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep Malik
1 hari lalu
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta. (Sumber: Antara Foto/Indrianto Eko Suwarso/kye)
Ekonomi Bisnis

Akhir Pekan Ditutup Menghijau, Rupiah Menguat Rp17.897 per Dolar AS dan IHSG Naik 1,04 Persen

Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak ditutup menguat…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep Malik
1 hari lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up