Kehidupan saat ini memang tidak ramah bagi generasi muda, harga kebutuhan pokok melonjak, sementara lapangan kerja yang menawarkan upah yang layak menjadi barang langka.
Di tengah situasi ekonomi yang stagnan, budaya flexing hadir dengan memamerkan gadget terbaru hingga gaya hidup traveling.
Bagi sebagian anak muda di kota besar, kemewahan yang dipamerkan di media sosial bukanlah cermin dari kemapanan finansial, melainkan topeng yang dibayar dengan harga yang sangat mahal.
Dengan gaya hidup yang tinggi ini, mendesak anak muda melakukan berbagai cara gampang untuk mendapatkan uang dengan cepat, salah satunya dengan sistem open BO.
Ya, fenomena open BO kini bukan lagi sekadar isu prostitusi di sudut gelapnya kota, melainkan telah bergeser menjadi jalan pintas bagi mereka yang terjepit di antara ambisi gaya hidup yang kian tidak masuk akal.
Psikolog Meity Arianty mengatakan, banyak alasan seseorang melalukan open BO, namun umumnya berkaitan dengan pencarian pemenuhan kebutuhan emosional dan material.
Beberapa mungkin merasa terdesak oleh faktor ekonomi atau tekanan finansial yang memicu mereka mencari cara instan untuk mendapatkan uang,”
ujar Meity kepada owrite baru-baru ini.
Selain itu, ada juga yang menjadi pelaku open BO karena merasa tidak mendapatkan pengakuan atau perhatian yang mereka inginkan dari lingkungan sosialnya, sehingga memilih cara yang cepat untuk mendapatkan validasi melalui media sosial.
Selain itu, rendahnya pemahaman tentang risiko jangka panjang dan dampak psikologis juga bisa menjadi faktor pendorong, di mana mereka belum sepenuhnya menyadari konsekuensi dari perilaku tersebut terhadap kehidupan pribadi dan mental mereka,”
jelas Meity.
Begitu pula yang disampaikan pengamat dari Indonesia Strategic and Economics Actions Institution (ISEAI), Ronny P Sasmita, yang melihat fenomena open BO di Jakarta sebagai gejala struktural, bukan semata persoalan moral individu.
Fenomena ini muncul di persimpangan antara pasar tenaga kerja yang labil, biaya urbanisasi yang cukup mahal, dan budaya digital yang menormalisasi monetisasi hampir semua hal, termasuk tubuh dan relasi intim.
Sebagaimana sama-sama diketahui, Jakarta memang kota dengan peluang besar, tapi juga biaya hidup tinggi. Dalam kondisi seperti itu, sebagian anak muda memilih jalur ekonomi yang cepat, fleksibel, dan minim birokrasi, meskipun risikonya tinggi. Jadi ini menurut saya bukan anomali, tapi produk sampingan dari ekonomi perkotaan yang semakin timpang,” paparnya.
jelas Meity.
Ronny mengatakan korelasi antara sulitnya mencari pekerjaan layak dengan munculnya strategi bertahan hidup berisiko seperti open BO sangat kuat.
Ketika decent work langka, maka yang tumbuh adalah informal survival economy.
Banyak anak muda bekerja di sektor dengan upah rendah, jam kerja panjang, kontrak tidak pasti,
tanpa jaminan sosial.
Dalam situasi seperti ini, pilihan ekonomi menjadi soal trade-off, yakni stabil tapi tidak cukup, atau cukup tapi berisiko.
Open BO masuk kategori kedua, pendapatan cepat, fleksibel, tapi tanpa perlindungan hukum dan sosial. Jadi bukan soal malas kerja, tapi soal struktur pasar kerja yang gagal menyediakan jalur mobilitas yang wajar,”
tuturnya.
Ia juga menambahkan femomena open BO ini sebagai kemiskinan terselubung perkotaan.”Contohnya, secara visual mungkin terlihat ‘oke’, punya gadget, berpakaian rapi, nongkrong di kafe. Tapi secara finansial, tabungan tipis, rentan guncangan (sakit, PHK, naik kos), tidak punya bantalan sosial. Dalam sosiologi ekonomi, ini disebut ‘precarious middle’, yakni terlihat menengah, tapi hidup dari bulan ke bulan. Open BO menjadi mekanisme bertahan hidup di balik tampilan ‘normal’,”
paparnya.
Sementara itu, pakar dari Center of Economic and Law Studies (Celios), Galau D. Muhammad membeberkan data bahwa sekitar 62.800 angkatan kerja perempuan yang ada dalam rentang usia 21-30 tahun mengalami putus asa dalam mencari pekerjaan dan status mereka belum menikah.
Perempuan tidak memiliki sandaran ekonomi yang baik kemudian belum menikah statusnya. Ini menjadi landasan kenapa fenomena open BO hari ini masih menjadi pelarian ekonomi dari kondisi ekonomi yang semakin memburuk, daya beli yang semakin terpukul,”
tambah Galau.
